Juni 2026

Kamis, 04 Juni 2026

APBN 1


 



Glossarium

Alutsista : Alat Utama Sistem 

Persenjataan  

Almatsus : Alat Material Khusus

AP : Administered Price

APBN : Anggaran dan Pendapatan 

dan Belanja Negara

AS : Amerika Serikat

ASEAN : The Association of 

Southeast Asian Nations

ASN : Aparatur Sipil Negara

Bansos : Bantuan Sosial

Bapanas : Badan Pangan Nasional

BBM : Bahan Bakar Minyak

BI : Bank Indonesia

BK : Bea Keluar

BLT : Bantuan Langsung Tunai

BLU : Badan Layanan Umum

BM : Bea Masuk

BMN : Barang Milik Negara

BPJS : Badan Penyelenggaraan 

Jaminan Sosial

BPS : Badan Pusat Statistik

bps : basis points

BUK : Bank Umum Konvensional

BUS : Bank Umum Syariah

BUMN : Badan Usaha Milik Negara

CAR : Capital Adequacy Ratio

CDS : Credit Default Swap

CHT : Cukai Hasil Tembakau

IPM : Indeks Pembangunan 

Manusia 

ICP : Indonesia Crude Price

JKN : Jaminan Kesehatan 

Nasional

K/L : Kementerian/Lembaga

KI : Kredit Investasi

KIP : Kartu Indonesia Pintar

KI : Kredit Konsumsi

KKB : Kredit Kendaraan Bermotor

KLCI : Kuala Lumpur Composite 

Indeks

KMK : Kredit Modal Kerja

KND : Kekayaan Negara 

Dipisahkan

KPM : Keluarga Penerima Manfaat

KPR : Kredit Pemilikan Rumah

KUR : Kredit Usaha Rakyat

LMAN : Lembaga Manajemen Aset 

Negara

LNPRT : Lembaga Nonprofit yang 

Melayani Rumah Tangga

LPG : Liquefied Petroleum Gas

MBR : Masyarakat Berpenghasilan 

Rendah

Migas : Minyak dan Gas Bumi

mtm : Month to Month

MTN : Medium Term Note

NDA : Net Domestic Asset

NFA : Net Foreign  Asset

NFB : Net Foreign  Buy

NIM : Net Interest Margin

NPI : Neraca Pembayaran 

Indonesia

NPL : Non-performing Loan


Perkembangan aktivitas 

manufaktur global di 

November 2024 meningkat 

yang digambarkan oleh 

purchasing managers’ 

index (PMI) manufaktur 

pada level 50, lebih tinggi 

dari level sebelumnya 49,4.

Ketidakpastian prospek 

ekonomi dan perdagangan 

global cenderung 

meningkat. Perubahan 

pemerintahan di Amerika Serikat 

diperkirakan akan meningkatkan risiko, 

terutama menekan perdagangan 

dan pasar keuangan global. Kondisi 

ekonomi Tiongkok yang masih lemah 

juga menambah tekanan terhadap 

emerging markets. Perkembangan 

aktivitas manufaktur global di November 

2024 meningkat yang digambarkan 

oleh purchasing managers’ index 

(PMI) manufaktur pada level 50, lebih 

tinggi dari level sebelumnya 49,4. 

Perkembangan harga komoditas 

global masih berfluktuasi yang 

didorong oleh eskalasi geopolitik, 

memengaruhi ekspektasi suplai dan 

permintaan, terutama komoditas energi. 

Perekonomian nasional di kuartal IV 

2024 tetap akan tumbuh kuat didukung 

oleh komponen permintaan domestik 

dan peran APBN akan dioptimalkan. 

Pajak 

Hingga akhir November 2024, 

realisasi Pendapatan Negara dan 

Hibah tercatat Rp2.492,70 triliun 

atau telah mencapai 88,95 persen 

dari target pada APBN 20241, yang 

secara nominal lebih tinggi Rp31,71 

triliun atau tumbuh 1,29 persen (yoy). 

Realisasi komponen pendapatan negara 

yang bersumber dari penerimaan 

Perpajakan telah mencapai Rp1.946,68 

triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak 

(PNBP) mencapai Rp522,41 triliun, 

dan realisasi Hibah mencapai Rp23,61 

triliun. Berdasarkan pertumbuhannya, 

realisasi penerimaan Perpajakan telah 

tumbuh 1,66 persen (yoy), sedangkan 

PNBP terkontraksi 4,01 persen (yoy). 

Sementara itu, capaian masing-masing 

komponen pendapatan negara tersebut 

terhadap target, yaitu perpajakan 

84,28 persen dan PNBP 106,18 persen. 

Realisasi penerimaan Perpajakan 

bersumber dari Penerimaan Pajak 

yang tercatat Rp1.688,93 triliun serta 

Kepabeanan dan Cukai Rp257,75 

triliun. Kinerja penerimaan Perpajakan 

yang tumbuh positif tersebut didorong 

oleh kinerja pajak yang telah kembali ke 

zona positif dengan pertumbuhan 1,14 

persen (yoy), serta kinerja Kepabeanan 

dan Cukai yang terus tumbuh 5,20 

persen (yoy). Realisasi penerimaan 

Pajak dan Kepabeanan dan Cukai 

masing-masing telah mencapai 84,92 

persen dan 80,30 persen terhadap 

target. Kinerja perpajakan periode 

ini lebih dipengaruhi oleh faktor 

penurunan restitusi dan kebijakan 

optimalisasi penerimaan, serta kinerja 

cukai dan pajak internasional yang 

terus memberikan kontribusi secara 

positif terhadap kinerja perpajakan.  

Secara nominal, penerimaan 

Pajak terutama berasal dari 

penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) 

Nonmigas Rp885,77 triliun dan Pajak 

Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan 

atas Barang Mewah (PPN/PPnBM) 

Rp707,76 triliun. Kontribusi kedua 

komponen penerimaan Pajak tersebut 

terhadap total penerimaan Pajak 

masing-masing mencapai 52,45 persen 

dan 41,91 persen. Secara lebih detil, 

PPh Nonmigas berdasarkan nominal 

penerimaannya masih ditopang oleh 

tiga komponen terbesar, yaitu PPh Pasal 

25/29 Badan (PPh Badan), PPh Pasal 

21, dan PPh Final, yang berkontribusi 

mencapai 71,94 persen terhadap 

total penerimaan PPh Nonmigas. 

Berdasarkan pertumbuhannya, PPh 

Nonmigas hingga akhir November 2024 

masih terkontraksi tipis 1,96 persen 

(yoy), lebih rendah dari periode bulan 

sebelumnya. Meskipun PPh Nonmigas 

terkontraksi, namun kinerja dua 

komponen utamanya yaitu PPh Pasal 21 

dan PPh Final tumbuh cukup signifikan. 

Pertumbuhan masing-masing tercatat 

21,98 persen (yoy) dan 12,09 persen 

(yoy). Sementara itu, komponen PPh 

Nonmigas dari penerimaan PPh Badan 

kinerjanya masih terkontraksi yang 

tercatat 23,12 persen (yoy). Meskipun 

begitu, kontraksi PPh Badan tersebut 

lebih rendah dibandingkan kontraksi 

pada periode bulan sebelumnya. Kinerja 

PPh Badan tersebut masih menjadi 

faktor utama yang menyebabkan kinerja 

PPh Nonmigas masih terkontraksi. 

Pelambatan kinerja PPh Badan terutama 

disebabkan oleh faktor restitusi sebagai 

dampak moderasi harga komoditas di 

2023, meskipun pertumbuhan restitusi 

menurun secara signifikan di periode 

ini. Namun demikian, kinerja PPh Badan 

terus membaik yang terlihat dari semakin 

kecil kontraksi yang terjadi setiap 

bulan. Di sisi yang lain, peningkatan 

kinerja penerimaan PPh Pasal 21 masih 

dipengaruhi oleh faktor utilisasi dan 

upah tenaga kerja. Sementara kinerja 

1. Persentase terhadap target dan pagu mengacu pada APBN 2024


Hingga akhir 

November 2024, 

capaian penerimaan 

Kepabeanan dan 

Cukai bersumber dari 

penerimaan Cukai 

Rp192,73 triliun, Bea 

Masuk (BM) Rp47,72 

triliun, dan Bea Keluar 

(BK) Rp17,30 triliun.

dari PPh Final masih tumbuh yang 

didukung oleh peningkatan penerimaan 

sejalan dengan kenaikan aktivitas 

transaksi dan ekonomi yang membaik. 

Selain itu, kinerja PPh Nonmigas 

juga didukung oleh penerimaan dari 

mayoritas komponen PPh Nonmigas 

lainnya yang konsisten tumbuh positif, 

seperti PPh Pasal 26, PPh Pasal 22 Impor, 

PPh Pasal 23, PPh Pasal 22, dan PPh 

Pasal 25/29 Orang Pribadi (PPh OP). 

Lebih lanjut, secara nominal, 

realisasi penerimaan Pajak yang 

bersumber dari penerimaan PPN/

PPnBM ditopang utamanya oleh 

penerimaan dari PPN, khususnya PPN 

Dalam Negeri (PPN DN) dan PPN Impor 

dengan kontribusi masing-masing 

sebesar 61,42 persen dan 34,85 

persen terhadap total penerimaan 

PPN/PPnBM. Kinerja penerimaan 

PPN/PPnBM secara kumulatif tumbuh 

menguat 6,11 persen (yoy). Pertumbuhan 

yang baik tersebut didorong oleh 

PPN DN yang tumbuh 6,95 persen 

(yoy) dan PPN Impor yang tumbuh 

6,59 persen (yoy). Kinerja PPN DN 

terutama dipengaruhi oleh peningkatan 

setoran dari sektor perdagangan dan 

industri pengolahan, serta restitusi 

yang mulai menurun. Sementara, PPN 

Impor tumbuh baik secara kumulatif 

didorong oleh transaksi impor sub 

sektor perdagangan besar mesin, 

bahan kimia, dan bahan bakar. 

Hingga akhir November 2024, 

capaian penerimaan Kepabeanan dan 

Cukai bersumber dari penerimaan 

Cukai Rp192,73 triliun, Bea Masuk 

(BM) Rp47,72 triliun, dan Bea Keluar 

(BK) Rp17,30 triliun. Lebih detilnya, 

realisasi penerimaan Kepabeanan 

dan Cukai terutama bersumber 

dari penerimaan Cukai Hasil 

Tembakau (CHT) yang berkontribusi 

mencapai 71,52 persen terhadap 

total penerimaannya. Berdasarkan 

pertumbuhannya, kinerja penerimaan 

Kepabeanan dan Cukai tumbuh di 

semua komponen penerimaannya, 

dimana cukai tumbuh 2,83 persen 

(yoy), sementara kepabeanaan (BM dan 

BK) kinerjanya juga tumbuh masing-

masing 4,02 persen (yoy) dan 47,87 

persen (yoy). Hingga akhir November 

2024, kinerja penerimaan CHT masih 

dipengaruhi terutama oleh kenaikan 

produksi rokok golongan II dan III, 

meskipun produksi golongan I masih 

menurun. Selanjutnya, kinerja BM lebih 

dipengaruhi oleh penguatan nilai tukar 

Dolar AS terhadap Rupiah dan kenaikan 

nilai impor. Di sisi lain, kinerja BK yang 

masih meningkat signifikan didorong 

oleh faktor kebijakan relaksasi ekspor 

mineral tembaga mentah, serta BK 

produk sawit yang meningkat akibat 

peningkatan rata-rata harga CPO. 

2024 | DESEMBER

12

Realisasi Belanja 

Pemerintah Pusat 

tumbuh 18,27 persen 

(yoy) terutama 

dipengaruhi oleh 

peningkatan realisasi 

belanja modal 

yang tumbuh 29,62 

persen (yoy). 

PNBP 

Realisasi PNBP sampai akhir 

November 2024 mencapai Rp522,41 

triliun atau 106,18 persen terhadap 

target. Kinerja PNBP tersebut 

terkontraksi 4,01 persen (yoy) terutama 

disebabkan oleh tekanan pada PNBP 

yang bersumber dari Sumber Daya Alam 

(SDA) dan PNBP lainnya, sedangkan 

PNBP KND dan PNBP BLU meningkat. 

Kinerja Pendapatan SDA mencapai 

Rp211,78 triliun atau 101,98 persen 

dari target. Capaian pendapatan SDA 

tersebut terkontraksi 10,22 persen (yoy) 

yang disebabkan oleh pendapatan 

SDA Migas yang terkontraksi 4,47 

persen (yoy) dengan realisasi Rp104,09 

triliun. Hal ini merupakan dampak 

penurunan lifting migas akibat on 

stream yang tertunda, penyusutan 

produksi alamiah sumur migas yang 

tinggi sejalan dengan fasilitas produksi 

migas utama yang telah menua. Selain 

itu, kinerja pendapatan SDA Nonmigas 

juga terkontraksi 15,16 persen (yoy) 

terutama dipengaruhi oleh dampak 

moderasi harga batubara, meskipun 

volume produksi batubara meningkat.   

Realisasi PNBP yang berasal dari 

KND mencapai Rp86,38 triliun atau 

100,62 persen dari target. Kinerja 

PNBP KND tersebut tumbuh 5,93 

persen (yoy) terutama berasal dari 

pembayaran deviden perbankan 

atas peningkatan kinerja keuangan 

khususnya dari Bank Himbara.  

Realisasi PNBP yang berasal dari 

pendapatan BLU mencapai Rp88,78 

triliun atau tumbuh 10,84 persen 

(yoy). Pertumbuhan kinerja PNBP BLU 

tersebut terutama disebabkan oleh 

peningkatan pendapatan BLU yang 

disumbang dari jasa pelayanan Rumah 

Sakit, Pendapatan Jasa Pelayanan 

Pendidikan, Pendapatan Pengelolaan 

Dana BLU serta Pendapatan Jasa 

Layanan Perbankan BLU.  

Sementara itu, PNBP Lainnya 

terealisasi Rp135,46 triliun atau 

terkontraksi 7,67 persen (yoy). 

Capaian kinerja PNBP Lainnya tersebut  

disebabkan oleh PNBP PHT yang 

terkontraksi 22,01 persen (yoy) sebab  

dampak moderasi harga batubara. 

Selain itu, pelambatan juga berasal 

dari PNBP K/L yang terkontraksi 3,11 

persen (yoy) terutama disebabkan 

pendapatan nonlayanan yang sifatnya 

tidak berulang pada Kejaksaan, 

Kementerian Kesehatan, dan 

Kementerian Komunikasi dan Informasi. 

Belanja Negara 

Realisasi Belanja Negara sampai 

dengan akhir November 2024 

mencapai Rp2.894,47 triliun, 87,05 

persen terhadap pagu atau tumbuh 

15,29 persen (yoy). Realisasi belanja 

tersebut terdiri atas Belanja Pusat 

Rp2.098,65 triliun dan TKD Rp795,82 

triliun. Realisasi Belanja Pemerintah 

Pusat tumbuh 18,27 persen (yoy) 

terutama dipengaruhi oleh peningkatan 

13

jika  dilihat dari 

tahun ke tahun, baik 

subsidi BBM dan LPG 3 

kg serta subsidi listrik 

tercatat tumbuh. Pada 

periode November ini, 

subsidi BBM dan LPG 

3 Kg tumbuh 18,90 

persen (yoy) sedangkan 

subsidi listrik tumbuh 

14,26 persen (yoy).

realisasi belanja modal yang tumbuh 

29,62 persen (yoy) antara lain sebab  

peningkatan belanja infrastruktur dan 

pengadaan alat utama sistem senjata. 

Selain itu, realisasi belanja barang 

tumbuh 23,12 persen (yoy) antara lain 

untuk pemantapan ketersediaan, 

stabilisasi pasokan dan harga pangan, 

serta penyelenggaraan Pemilu 

2024. Selanjutnya, realisasi belanja 

bansos lebih rendah 1,42 persen (yoy) 

terutama dipengaruhi oleh Program 

Keluarga Harapan dan Kartu Sembako 

yang melalui PT Pos (periode Juli s.d. 

November) belum disalurkan.  

 

Subsidi 

Realisasi belanja subsidi sampai 

dengan 30 November 2024 mencapai 

Rp244,14 triliun. Realisasi belanja 

subsidi energi mencapai Rp157,16 

triliun, tumbuh 16,96 persen (yoy). 

Sementara itu, realisasi subsidi 

nonenergi tercatat Rp86,98 triliun 

atau tumbuh 28,12 persen (yoy).  

Realisasi subsidi energi sampai 

dengan 30 November 2024 tercatat 

Rp157,16 triliun atau 83,11 persen dari 

pagu atau naik 16,96 persen (yoy). 

Seperti halnya pada periode-periode 

sebelumnya, subsidi energi mayoritas 

berasal dari subsidi BBM dan LPG 

dengan besaran Rp92,98 triliun atau 

82,09 persen dari pagu, dengan rincian 

subsidi BBM yang terdiri atas Solar 

Rp15,73 triliun dan Minyak Tanah Rp4,17 

triliun. Sedangkan untuk subsidi LPG 3 kg 

yakni Rp73,08 triliun atau 83,57 persen 

dari pagu. Selain itu, subsidi energi juga 

berupa subsidi listrik, Rp64,18 triliun atau 

84,64 persen dari pagu. jika  dilihat 

dari tahun ke tahun, baik subsidi BBM 

dan LPG 3 kg serta subsidi listrik tercatat 

tumbuh. Pada periode November ini, 

subsidi BBM dan LPG 3 Kg tumbuh 

18,90 persen (yoy) sedangkan subsidi 

listrik tumbuh 14,26 persen (yoy). Hal 

ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas 

masyarakat yang kian meningkat 

seiring dengan perekonomian pasca 

pandemi Covid-19 yang membaik. 

Realisasi subsidi nonenergi sampai 

dengan 30 November 2024 tercatat 

Rp86,98 triliun,  89,79 persen dari pagu 

atau naik 28,12 persen (yoy). Sejalan 

dengan tren pada kuartal sebelumnya, 

realisasi tersebut didominasi oleh 

subsidi kredit program Rp38,16 triliun 

atau 43,88 persen dari total realisasi 

subsidi nonenergi. Mayoritas realisasi 

subsidi kredit program disalurkan 

kepada subsidi bunga Kredit Usaha 

Rakyat, yaitu Rp33,75 triliun atau turun 

2,32 persen (yoy). Selanjutnya, subsidi 

pupuk menjadi kontributor terbesar 

kedua dari subsidi nonenergi dengan 

realisasi Rp35,99 triliun atau meningkat 

103,30 persen (yoy). Sampai dengan 30 

November 2024, pemerintah melalui 

PT Pupuk Indonesia telah menyalurkan 

pupuk sebanyak 6,71 juta ton, atau naik 

17,72 persen (yoy). Selain itu, realisasi 

subsidi PSO mencapai Rp4,97 triliun 

atau naik 52,31 persen (yoy), dan 

realisasi subsidi pajak mencapai Rp7,86 

triliun atau naik 5,88 persen (yoy).  

TKD  

Realisasi TKD sampai dengan 30 

November 2024 mencapai Rp795,82 

triliun, 92,80 persen dari pagu, atau 

tumbuh 8,11 persen (yoy). Secara 

umum, peningkatan realisasi TKD 

terutama ditopang oleh realisasi Dana 

Alokasi Umum (DAU) yang mencapai 

Rp417,83 triliun, lebih tinggi Rp47,06 

triliun atau 12,69 persen (yoy) sebab  

kenaikan realisasi  penyaluran DAU Block 

Grant dan kepatuhan pemerintah daerah 

(pemda) dalam memenuhi syarat salur.  

Realisasi beberapa jenis TKD lainnya 

juga naik sejalan dengan peningkatan 

kepatuhan Pemda dalam memenuhi 

syarat salur. Secara lebih rinci, jenis 

TKD tersebut yaitu:  1) Dana Bagi Hasil 

(DBH) terealisasi Rp128,44 triliun, lebih 

tinggi Rp10,26 triliun atau tumbuh 8,68 

persen (yoy); 2) DAK Fisik terealisasi 

Rp39,54 triliun, lebih tinggi Rp0,19 triliun 

atau tumbuh 0,48 persen (yoy); 3) Dana 

Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik terealisasi 

Rp118,72 triliun, lebih tinggi Rp2,42 triliun 

atau tumbuh 2,08 persen (yoy); 4) Dana 

Desa terealisasi Rp69,17 triliun, lebih 

tinggi Rp3,99 triliun atau tumbuh 6,12 

persen (yoy); 5) Insentif Fiskal terealisasi 

Rp6,05 triliun, lebih tinggi Rp0,05 triliun  

atau tumbuh 0,81 persen (yoy); dan 

6) Dana Keistimewaan DIY terealisasi 

Rp1,42 triliun, lebih tinggi Rp0,05 triliun 

atau tumbuh 3,44 persen (yoy). Realisasi 

Dana Keistimewaan DIY tersebut telah 

mencapai 100 persen  dari pagu. 

Sementara itu, Dana Otonomi 

Khusus (Otsus) dan Hibah kepada 

Daerah mencatatkan penurunan 

realisasi. Dana Otsus terealisasi 

Rp14,07 triliun, lebih rendah Rp3,18 

triliun atau kontraksi 18,42 persen (yoy). 

Sedangkan Hibah kepada Daerah 

mencatatkan realisasi Rp0,60 triliun.  

Defisit & Pembiayaan 

Keseimbangan Primer sampai 

dengan 30 November 2024 tercatat 

positif Rp47,07 triliun atau 0,21 persen 

terhadap PDB. Sementara itu, defisit 

cukup terkendali Rp401,77 triliun 

atau 1,81 persen terhadap PDB. 

Realisasi Pembiayaan Anggaran 

mencapai Rp428,81 triliun atau 

82,02 persen dari pagu terdiri atas 

Pembiayaan Utang Rp483,60 triliun 

atau 74,62 persen dari pagu dan 

Pembiayaan Investasi negatif Rp56,26 

triliun atau 31,92 persen dari pagu. 

Secara lebih rinci, Pembiayaan Utang 

berasal dari Surat Berharga Negara 

(Neto) Rp437,17 triliun dan Pinjaman 

(Neto) Rp46,44 triliun. Pinjaman (Neto) 

berasal dari Pinjaman Dalam Negeri 

(Neto) Rp6,64 triliun dan Pinjaman 

Luar Negeri (Neto) Rp39,80 triliun. 

Pembiayaan Investasi terutama 

ditujukan untuk mendukung BUMN dan 

BLU. Investasi kepada BUMN terealisasi 

negatif Rp28,16 triliun untuk mendorong 

capaian infrastruktur strategis dan 

meningkatkan daya saing BUMN. Selain 

itu Pemerintah juga merealisasikan 

Investasi kepada BLU negatif Rp22,50 

triliun. Sebagai komitmen kerja 

sama internasional, investasi kepada 

organisasi/lembaga keuangan 

internasional/badan usaha internasional 

terealisasi negatif Rp1,98 triliun. 

Pemerintah mengeluarkan pembiayaan 

investasi nonpermanen negatif Rp17,02 

triliun dan menerima pengembalian 

investasi Rp13,41 triliun.  Pemerintah 

memberikan Pinjaman Rp0,78 triliun 

dan Pembiayaan Lainnya Rp0,68 triliun. 

.



Perkembangan 

Ekonomi Makro

Aktivitas ekonomi 

masyarakat dari sisi 

konsumsi terus bergerak 

positif di tengah tekanan 

ekonomi global. Indeks 

Keyakinan Konsumen 

(IKK) tetap kuat berada 

pada level 125,9 di 

November 2024

Perkembangan ekonomi 

nasional tetap terjaga di 

pertengahan kuartal IV 

2024. Aktivitas ekonomi 

masyarakat dari sisi konsumsi terus 

bergerak positif di tengah tekanan 

ekonomi global. Indeks Keyakinan 

Konsumen (IKK) tetap kuat berada 

pada level 125,9 di November 2024 

yang mengindikasikan penguatan 

optimisme masyarakat terhadap 

perkembangan ekonomi ke depan. 

Kondisi penguatan sisi konsumsi juga 

diperlihatkan dengan tren peningkatan 

indeks penjualan riil. Aktivitas sektor 

manufaktur mulai meningkat dari 

bulan sebelumnya meskipun angka 

purchasing managers’ indeks (PMI) 

manufaktur masih di bawah level 50. 

Di sisi lain, pembangunan nasional di 

2024 mampu meningkatkan kualitas 

pembangunan manusia Indonesia. 

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 

pada 2024 mencapai level 75,02, di 

atas target sasaran pembangunan IPM 

2024 yang ditargetkan 73,99 – 74,02.

Tekanan terhadap stabilitas 

pasar keuangan nasional terkendali. 

IHSG tercatat pada level 7.157 pada 

penutupan perdagangan 17 Desember 

2024. Sementara itu, nilai tukar 

Rupiah terhadap Dolar AS dengan 

memakai  rata-rata kurs tengah 

Bank Indonesia tercatat Rp16.017 per 

USD pada 17 Desember 2024 dan rata-

rata  nilai tukar Rupiah adalah Rp15.835 

per USD. Rupiah tercatat terdepresiasi 

3,76 persen terhadap posisi awal tahun. 

Inflasi November 2024 terkendali 1,55 

persen (yoy), lebih rendah dari Oktober 

2024, 1,71 persen (yoy) didorong oleh 

perlambatan inflasi pangan yang terus 

berlanjut dan tren penguatan inflasi inti. 

Secara bulan ke bulan, inflasi mencapai 

0,30 persen (mtm). Pemerintah akan 

tetap mengendalikan harga pangan 

pokok, terutama dalam menyiapkan 

ketersediaan pasokan menjelang 

Natal dan Tahun Baru. Pemerintah terus 

berkoordinasi dengan Bank Indonesia 

di tingkat pusat dan daerah melalui 

TPIP dan TPID untuk menciptakan 

bauran kebijakan yang tepat guna 

menjaga pergerakan inflasi di dalam 

target sasaran.  Posisi cadangan devisa 

nasional Indonesia per akhir November 

2024 tercatat USD150,2 miliar, sedikit 

menurun dibandingkan oktober 2024 

yang tercatat USD151,2 miliar. Posisi 

cadangan devisa mampu mendukung 

stabiltas ekonomi makro dan sistem 

keuangan dari goncangan eksternal.

Jumlah wisatawan mancanegara 

(wisman) yang berkunjung ke Indonesia 

di Oktober 2024 tetap tinggi, mencapai 

1,19 juta kunjungan. Wisman yang 

berkunjung pada Oktober 2024 

didominasi oleh wisman yang berasal 

dari Malaysia (16,26 persen), Australia 

(12,61 persen), dan Singapura (8,90 

persen). Secara kumulatif, kunjungan 

wisman pada Januari hingga Oktober 

2024 tercatat 11,57 juta kunjungan 

atau meningkat 20,45 persen (yoy). 

Perkembangan aktivitas pariwisata 

nasional akan terus meningkat dan 

secara langsung akan berdampak 

positif terhadap perkembangan sektor 

ekonomi terkait lainnya. Sektor yang 

terkait dengan aktivitas pariwisata 

secara langsung adalah sektor makanan 

dan akomodasi, hotel, transportasi, 

serta perdagangan. Sementara itu, 

kondisi Tingkat Penghunian Kamar (TPK) 

hotel klasifikasi bintang di Indonesia 

pada Oktober 2024 mencapai 

55,67 persen, naik 2,65 poin (yoy). 

.


APBN Terus Dioptimalkan 

Peranannya Sebagai Shock 

Absorber 

Foto: Storypost - Mahardika Argha

21

Postur 

APBN

Realisasi APBN sampai 

dengan 30 November 

2024 mencatatkan 

peningkatan 

pendapatan negara 

sebesar 1,29 

persen (yoy).

Realisasi APBN sampai 

dengan 30 November 2024 

mencatatkan Pendapatan 

Negara yang mencapai 

Rp2.492,70 triliun, 88,95 persen dari 

target atau tumbuh 1,29 persen (yoy). 

Realisasi tersebut terdiri atas: 

Penerimaan Perpajakan mencapai 

Rp1.946,68 triliun, 84,28 persen dari 

target, atau tumbuh 1,66 persen 

(yoy). Capaian tersebut terdiri atas 

Penerimaan Pajak Rp1.688,93 triliun, 

84,92 persen dari target  atau tumbuh 

1,14 persen (yoy) serta Penerimaan 

Kepabeanan dan Cukai Rp257,75 

triliun, 80,30 persen dari target 

atau tumbuh 5,20 persen (yoy). 


Perkembangan Surplus/Defisit 

dan Keseimbangan Primer

Realisasi APBN

s.d. 30 November  2024

23

Penerimaan Negara Bukan 

Pajak mencapai Rp522,41 triliun, 

106,18 persen dari target atau 

terkontraksi 4,01 persen (yoy).

Penerimaan Hibah mencapai 

Rp23,61 triliun, meningkat 

signifikan dibandingkan realisasi 

pada periode yang sama 2023 

dengan capaian Rp1,82 triliun. 

Di sisi Belanja Negara, sampai 

dengan 30 November 2024 telah 

terealisasi Rp2.894,47 triliun, 87,05 

persen dari pagu atau meningkat 

15,29 persen (yoy), terdiri atas:

Belanja Pemerintah Pusat mencapai 

Rp2.098,65 triliun, 85,05 persen dari 

pagu atau meningkat 18,27 persen (yoy). 

Capaian tersebut terdiri atas realisasi 

Belanja K/L Rp1.049,72 triliun, 96,23 

persen dari pagu atau meningkat 17,92 

persen (yoy) dan realisasi Belanja non-

K/L Rp1.048,93 triliun, 76,19 persen dari 

pagu atau meningkat 18,62 persen (yoy). 

Transfer ke Daerah mencapai 

Rp795,82 triliun, 92,80 persen dari 

alokasi atau meningkat 8,11 persen (yoy). 

Berdasarkan realisasi Pendapatan 

Negara dan Belanja Negara tersebut, 

APBN tercatat defisit Rp401,77 triliun 

atau 1,81 persen terhadap PDB (per 

30 November 2023, defisit tercatat 

Rp49,57 triliun atau 0,24 persen 

terhadap PDB). Sementara itu, 

keseimbangan primer tercatat surplus 

Rp47,07 triliun (per 30 November 

2023, surplus keseimbangan primer 

mencapai Rp359,70 triliun). Di sisi 

pembiayaan anggaran, telah terealisasi 

Rp428,81 triliun (82,02 persen dari 

target), lebih tinggi dibandingkan 

realisasi pada periode yang sama 2023 

dengan capaian Rp284,26 triliun.

.

Perbaikan Kinerja Sektor 

Utama Mendorong 

Penerimaan Pajak 

Tumbuh Positif Pada 

Periode November 2024

Foto: Unsplash - Chintya Akemi

25

Penerimaan Pajak

Pertumbuhan neto 

kumulatif tercatat 

1,14 persen (yoy), 

membaik dibandingkan 

periode Oktober 2024 

yang terkontraksi 

0,42 persen (yoy).

 

Perbaikan kinerja yang mulai 

terlihat sejak Mei 2024 

akhirnya memberikan hasil 

yang menggembirakan. 

Pada akhir November 2024, 

pertumbuhan penerimaan pajak tercatat 

positif, baik secara bruto maupun 

neto. Pertumbuhan neto kumulatif 

tercatat 1,14 persen (yoy), membaik 

dibandingkan periode Oktober 

2024 yang terkontraksi 0,42 persen 

(yoy). Sementara itu, pertumbuhan 

bruto telah menunjukkan tren positif 

sejak Juli dan terus meningkat 

hingga akhir November 2024.

Secara nominal, total realisasi 

penerimaan pajak mencapai Rp1.688,93 

triliun atau 84,92 persen dari target. 

Pemulihan kinerja penerimaan pajak 

terutama didukung oleh perbaikan 

atas setoran PPh Nonmigas dan PPN. 


Perkembangan Pertumbuhan 

Penerimaan Pajak 2024

Realisasi 

Neto 

(Triliun)

Kontribusi

(%)

Capaian

(%)

Growth 

Neto 

(% yoy)

Growth 

Bruto

(% yoy)

Pajak Penghasilan 1139,78 944,66 55,93 82,88 -2,36 -0,11

- Nonmigas 1063,41 885,77 52,45 83,30 -1,96 0,43

- Migas 76,37 58,89 3,49 77,10 -8,03 -8,03

PPN & PPnBM 811,36 707,76 41,91 87,23 6,11 8,17

PBB dan Pajak Lainnya 37,73 36,52 2,16 96,79 3,23 2,65

Jumlah 1988,88 1688,93 100,00 84,92 1,14 3,64

Uraian

Target 

APBN 2024 

(Triliun)

1 Januari s.d. 30 November 2024

Realisasi Penerimaan Pajak 2024

27

Pemulihan kinerja 

kumulatif PPN dan PPnBM 

didorong oleh aktivitas 

ekonomi domestik dan 

impor yang membaik, 

terutama di sektor 

perdagangan dan industri 

minyak kelapa sawit. 

Realisasi PPh Nonmigas mencapai 

Rp885,77 triliun, atau 83,30 persen 

dari target. Realisasi ini terkontraksi 

1,96 persen (yoy), tetapi lebih baik 

dari kontraksi periode Oktober yang 

tercatat 3,12 persen (yoy). Meskipun 

secara neto masih terkontraksi, 

penerimaan bruto PPh Nonmigas telah 

tumbuh positif. Hal ini didukung oleh 

pemulihan kinerja sektor pertambangan 

dalam beberapa bulan terakhir, yang 

berkontribusi pada peningkatan 

penerimaan atas angsuran PPh Badan. 

Selain itu, kinerja penerimaan pajak 

penghasilan nonmigas lainnya turut 

menopang pertumbuhan. Beberapa 

di antaranya bahkan tercatat tumbuh 

dua digit, termasuk PPh Pasal 21, PPh 

Pasal 23, PPh OP, dan PPh Final.

Selanjutnya, PPN dan PPnBM 

kembali menunjukkan pertumbuhan 

positif, baik dari sisi penerimaan neto 

maupun bruto. Realisasi kelompok 

pajak ini mencapai Rp707,76 triliun, 

87,23 persen dari target, atau tumbuh 

6,11 persen (yoy). Pemulihan kinerja 

kumulatif PPN dan PPnBM didorong 

oleh aktivitas ekonomi domestik dan 

impor yang membaik, terutama di 

sektor perdagangan dan industri minyak 

kelapa sawit. Kondisi ini tercermin pada 

peningkatan PPN DN dan PPN Impor.

PBB dan Pajak Lainnya juga 

tumbuh positif pada periode ini, yakni 

mencapai Rp36,52 triliun, 96,79 persen 

dari target, atau tumbuh 3,23 persen 

(yoy). Perbaikan kinerja kelompok 

pajak ini dipengaruhi oleh peningkatan 

pembayaran PBB Pertambangan.

Di sisi lain, kinerja PPh Migas 

masih terkontraksi, tetapi dengan 

laju yang lebih lambat dibandingkan 

dengan periode bulan sebelumnya. 

Secara nominal, realisasi PPh Migas 

mencapai Rp58,89 triliun, 77,10 persen 

dari target, atau terkontraksi 8,03 

persen (yoy). Penurunan ini sebagian 

besar dipengaruhi oleh penurunan 

lifting minyak dan gas bumi.

Kinerja Jenis Pajak Utama

Beberapa jenis pajak utama 

tercatat tumbuh positif baik dari 

sisi penerimaan kumulatif maupun 

bulanan. Pertumbuhan positif yang 

konsisten, terutama dari PPh Pasal 

21, PPh Final, PPh OP, dan PPN Impor, 

turut mendongkrak kinerja penerimaan 

pajak. Ditambah lagi kinerja PPN 

DN yang kembali menguat pada 

November 2024. Selain itu, PPh Badan 

menunjukkan pemulihan signifikan 

(turnaround) dalam tiga bulan terakhir.

Secara lebih rinci, hingga 30 

November 2024, PPN Dalam Negeri 

yang berkontribusi 25,74 persen 

terhadap total penerimaan pajak 

mencatatkan pertumbuhan 6,95 

persen (yoy). Kinerja positif ini 

didorong oleh konsumsi domestik 

yang masih terjaga sehingga terjadi 

peningkatan pembayaran PPN Dalam 

Negeri pada berbagai sektor usaha, 

terutama sektor Perdagangan.


Penerimaan Jenis-Jenis Pajak Utama

Penerimaan Pajak Sektoral

29

Selanjutnya, PPh Badan terealisasi 

Rp289,80 triliun, terkontraksi 23,12 

persen (yoy). Meskipun demikian, 

kontraksi pada PPh Badan terus 

menunjukkan penurunan yang lebih 

moderat sejak periode Mei 2024. 

Bahkan dalam tiga bulan terakhir, 

realisasi bulanan PPh Badan mampu 

tumbuh positif secara year-on-year. 

Perbaikan kinerja ini didorong oleh 

dinamisasi pembayaran angsuran 

PPh Badan dan peningkatan hasil 

intensifikasi sebelum tahun pajak 

berjalan. Peningkatan pembayaran 

angsuran terutama berasal 

dari sektor pertambangan dan 

sektor indsutri pengolahan.

PPh Pasal 21 menyumbang 13,23 

persen terhadap total penerimaan pajak, 

dengan pertumbuhan yang tercatat 

21,98 persen (yoy). Kinerja positif PPh 

Pasal 21 yang konsisten di atas 20 

persen ditopang oleh kompensasi 

gaji atau upah karyawan/tenaga kerja 

yang masih terjaga dengan baik.

Berikutnya, realisasi PPh Final 

berkontribusi 7,34 persen terhadap 

total penerimaan pajak, dengan 

pertumbuhan yang tercatat 12,09 persen 

(yoy). Kondisi perekonomian nasional 

yang baik mendukung capaian PPh Final, 

yang terlihat dari peningkatan realisasi 

pada beberapa objek pajak. Objek 

pajak tersebut mencakup penghasilan 

dari bunga deposito dan tabungan, 

persewaan atau pengalihan tanah dan/

atau bangunan, serta jasa konstruksi.

PPh OP juga menunjukkan 

kinerja yang positif, dengan realisasi 

Rp13,38 triliun atau tumbuh 15,34 

persen (yoy). Kinerja ini didorong 

oleh kenaikan setoran atas pajak 

penghasilan tahunan dan angsuran 

yang dibayar oleh wajib pajak individu. 

Kinerja penerimaan pajak utama 

terkait dengan impor juga tumbuh 

positif secara kumulatif. Penerimaan 

PPN Impor tumbuh 6,59 persen (yoy), 

sementara PPh Pasal 22 Impor tumbuh 

Secara lebih rinci, 

hingga 30 November 

2024, PPN Dalam Negeri 

yang berkontribusi 

25,74 persen terhadap 

total penerimaan 

pajak mencatatkan 

pertumbuhan 6,95 

persen (yoy).

5,90 persen (yoy). Kedua jenis pajak ini 

memberikan kontribusi yang signifikan, 

18,59 persen terhadap total penerimaan 

pajak. Peningkatan impor dari sub 

sektor perdagangan besar mesin, 

bahan kimia, dan bahan bakar menjadi 

penopang capaian pajak impor.

Kinerja Sekor Utama

Pertumbuhan kumulatif dari 

seluruh sektor utama lebih baik 

dibandingkan dengan periode bulan 

sebelumnya. Kinerja bulanan bahkan 

lebih menggembirakan, dengan 

pertumbuhan positif yang tercatat 

mencapai dua digit. Sektor Industri 

Pengolahan dan Pertambangan 

mengalami turnaround, yang 

semakin memperkuat tren positif 

pertumbuhan di seluruh sektor utama.

Sektor Industri Pengolahan dan 

Sektor Pertambangan memang 

masih terkontraksi secara kumulatif, 

namun angkanya semakin kecil. Kedua

sektor ini mengalami pemulihan yang 

signifikan sejak triwulan ketiga.

Perbaikan kinerja penerimaan 

sektor Industri Pengolahan secara 

keseluruhan didorong oleh peningkatan 

pembayaran atas PPN Impor dan 

PPN Dalam Negeri, disertai dengan 

pertumbuhan restitusi yang melambat. 

Bila dilihat lebih jauh, kinerja subsektor 

industri sepeda motor, kendaraan 

dan industri rokok menjadi penopang 

perbaikan sektoral. Secara kumulatif 

sektor Industri Pengolahan terkontraksi 

4,27 persen (yoy), namun tumbuh 

17,79 persen (yoy) secara bulanan.

Sektor Pertambangan mengalami 

perbaikan yang didorong oleh kinerja 

positif dari subsektor pertambangan 

bijih logam. Hal ini terlihat dari 

peningkatan angsuran PPh Badan, 

seiring dengan proyeksi laba subsektor 

tersebut yang lebih tinggi dibandingkan 

tahun sebelumnya. Selain itu, upaya 

intensifikasi pajak dari tahun pajak 

sebelumnya juga berkontribusi 

terhadap pemulihan. Secara kumulatif 

Sektor Pertambangan terkontraksi 

37,27 persen (yoy), namun tumbuh 

49,63 persen (yoy) secara bulanan.

Pada periode ini, sektor yang 

mampu tumbuh dua digit secara 

kumulatif yaitu Sektor Keuangan dan 

Asuransi serta Sektor Konstruksi dan 

Real Estat. Pertumbuhan kedua sektor 

tersebut masing-masing tercatat 

12,95 persen (yoy) dan 10,55 persen 

(yoy). Sektor Keuangan & Asuransi 

tumbuh konsisten dua digit didukung 

oleh peningkatan dana pihak ketiga, 

kredit, dan rata-rata suku bunga. 

Sementara itu, sektor Konstruksi dan 

Real Estat didorong oleh performa 

positif pada subsektor konstruksi 

gedung dan subsektor real estat 

yang dimiliki sendiri atau disewa.

Selanjutnya, Sektor Perdagangan, 

Sektor Transportasi dan Pergudangan, 

serta Sektor Informasi dan Komunikasi 

tumbuh kuat baik kumulatif dan 

bulanan. Pertumbuhan kumulatif 

masing-masing tercatat 7,53 persen 

(yoy), 7,01 persen (yoy), dan 9,14 

persen (yoy). Angka pertumbuhan 

tersebut lebih tinggi dibandingkan 

dengan periode bulan sebelumnya. 


Surplus Neraca 

Perdagangan Nasional 

November 2024 Mencapai 

USD4,42 Miliar

Foto: Kemenkeu - Ardo Hadyan

33

Penerimaan 

Kepabeanan & 

Cukai

Selain itu, surplus yang 

konsisten ini menambah 

ketahanan ekonomi 

nasional, khususnya dalam 

menghadapi tantangan 

dari fluktuasi harga 

komoditas global dan 

ketidakpastian ekonomi 

di pasar internasional.

Surplus neraca perdagangan 

Indonesia pada November 

2024 berhasil mencapai 

USD4,42 miliar, menunjukkan 

kinerja positif dan keberlanjutan dalam 

mempertahankan surplus sejak Mei 

2020, yaitu selama 55 bulan berturut-

turut. Hasil ini berperan penting dalam 

menjaga cadangan devisa negara dan 

memperkuat persepsi positif global 

terhadap perekonomian Indonesia. 

Selain itu, surplus yang konsisten 

ini menambah ketahanan ekonomi 

nasional, khususnya dalam menghadapi 

tantangan dari fluktuasi harga 

komoditas global dan ketidakpastian 

ekonomi di pasar internasional.

Secara akumulatif, surplus 

perdagangan sampai dengan 

November 2024 mencapai USD28,86 

miliar. Hal ini mencerminkan stabilitas 


serta efektivitas kebijakan ekspor 

yang diterapkan, bersama dengan 

pengendalian impor yang ketat. Surplus 

berkelanjutan ini tidak hanya mendukung 

pertumbuhan ekonomi domestik tetapi 

juga memperkuat posisi Indonesia 

dalam perdagangan. Keberhasilan 

ini diharapkan dapat berkontribusi 

terhadap perekonomian berkelanjutan, 

memperkuat daya saing ekspor, 

serta memastikan perkembangan 

ekonomi yang stabil di masa depan.

Surplus neraca perdagangan 

terutama terjadi pada Nonmigas, 

sedangkan Migas masih defisit. Kinerja 

positif neraca Nonmigas didukung 

oleh komoditas SDA seperti batubara 

dan minyak goreng kelapa sawit. 

Selain itu, sektor manufaktur terutama 

logam dasar seperti besi, baja dan 

bijih tembaga juga memberikan 

kontribusi penting dalam menciptakan 

surplus tersebut. Di sisi lain, neraca 

perdagangan sektor Migas masih 

defisit, terutama disebabkan oleh 

impor bahan bakar dan minyak bumi.  

Pada November 2024, total ekspor 

mencapai USD24,01 miliar, naik 9,14 

persen (yoy), didorong oleh kinerja 

sektor Nonmigas maupun Migas. Ekspor 

Nonmigas tumbuh 9,54 persen (yoy) 

dengan kontribusi peningkatan terbesar 

dari ekspor produk baja dasar dan kakao 

sebagai dampak kenaikan harga. Ekspor 

sektor Migas tumbuh 2,73 persen (yoy), 

dipengaruhi kenaikan ekspor minyak 

bakar ke Singapura dan Malaysia.

Sementara itu, impor mencapai 

USD19,59 miliar atau tumbuh 0,01 persen 

(yoy), dipengaruhi oleh peningkatan 

kinerja sektor Nonmigas sedangkan 

sektor Migas menurun. Nonmigas 

tumbuh 5,71 persen (yoy) terutama dari 

peningkatan impor logam, komponen 

elektronik dan bagian komputer serta 

kendaraan, dan mesin industri. Kinerja 

tersebut mengindikasikan geliat 

pertumbuhan industri. Namun demikian 

impor Migas terkontraksi 26,32 persen 

(yoy) terutama oleh penurunan impor 

bensin, minyak bumi, dan solar. 

Hingga 30 November 2024, 

Penerimaan Kepabeanan dan Cukai 

mencapai Rp257,75 triliun, 80,30 

persen dari target atau tumbuh 5,20 

persen (yoy), didorong oleh semua 

jenis penerimaan yang menunjukan 

kinerja positif pada bulan ini.

Sementara itu, Penerimaan 

PDRI lainnya mencapai Rp319,88 

triliun atau naik 6,22 persen (yoy). 

Dengan demikian, Penerimaan 

Negara yang telah dikumpulkan 

dari Kepabeanan dan Cukai serta 

PDRI lainnya mencapai Rp577,63 

triliun atau naik 5,76 persen (yoy).

Dari sisi BM, kinerja penerimaan 

meningkat 4,02 persen (yoy) menjadi 

Rp47,72 triliun atau mencapai 83,17 

persen dari target. Kinerja tersebut 

dipengaruhi oleh pertumbuhan impor 

dan depresiasi rupiah terhadap USD. 

Dilihat dari komoditasnya, kenaikan 

tersebut terutama berasal dari gas, 

bahan baku plastik sebagai dampak dari 

peningkatan industri, serta importasi 

beras yang meningkat sebagai langkah 

menjaga kestabilan harga pangan. 

Penerimaan BK tercatat Rp17,30 

triliun, mencapai 98,67 persen dari 

target atau tumbuh signifikan 47,87 

persen (yoy). Peningkatan tersebut 

terutama berasal dari BK mineral dan 

produk kelapa sawit. BK mineral tumbuh 

signifikan mencapai 90,74 persen (yoy), 

dipengaruhi oleh relaksasi ekspor 

tembaga. Sedangkan penerimaan 

BK produk sawit mulai meningkat 

8,42 persen (yoy), dipengaruhi 

oleh kenaikan harga CPO pada 

Oktober dan November 2024. 

Cukai, mesin utama Penerimaan 

Kepabeanan dan Cukai dengan 

penerimaan terbesar, mencapai 

Rp192,73 triliun atau 78,32 persen 

dari target, atau tumbuh 2,83 persen 

(yoy). Kinerja tersebut didorong oleh 

kinerja cukai dari Cukai Hasil Tembakau 

(CHT), Minuman Mengandung Ethil 


Cukai, mesin 

utama Penerimaan 

Kepabeanan dan Cukai 

dengan penerimaan 

terbesar, mencapai 

Rp192,73 triliun atau 

78,32 persen dari 

target, atau tumbuh 

2,83 persen (yoy).

Alkohol (MMEA), dan Ethil Alkohol (EA). 

Penerimaan CHT tumbuh 2,42 

persen (yoy) menjadi Rp184,34 triliun 

atau tercapai 80,01 persen dari target. 

Kinerja ini dipengaruhi peningkatan 

produksi 0,1 persen (yoy), terutama 

pada jenis Sigaret Keretek Tangan 

(SKT) sedangkan Sigaret Keretek 

Mesin (SKM) menurun. SKT merupakan 

produk yang melibatkan banyak tenaga 

kerja manual, yang peningkatannya 

dapat menyerap lebih banyak 

tenaga kerja dibandingkan SKM.

Penerimaan Cukai MMEA naik 

12,65 persen (yoy) menjadi Rp8,13 

triliun, mencapai 87,08 persen dari 

target. Kenaikan tersebut terutama 

didorong oleh kebijakan kenaikan 

tarif MMEA sedangkan produksi 

masih terkendali, turun 2,70 persen 

(yoy). Hal tersebut sejalan dengan 

kebijakan peningkatan tarif sebagai 

upaya untuk mengendalikan konsumsi 

minuman beralkohol. Kebijakan 

ini diharapkan dapat mengurangi 

dampak negatif terhadap kesehatan 

masyarakat sekaligus meningkatkan 

pendapatan negara dari sektor cukai.

Sementara itu, kinerja Penerimaan 

Cukai EA naik 12,57 persen (yoy) menjadi 

Rp129,32 miliar, atau 124,01 persen dari 

target. Kinerja positif tersebut didorong 

oleh peningkatan produksi EA bayar 

12,57 persen (yoy). Nilai penerimaan EA 

tidak signifikan sebab  sebagian besar 

EA yang diproduksi, cukai tidak dipungut 

atau dibebaskan, baik untuk keperluan 

medis, industri maupun fasilitas lainnya.


Penerimaan 

Negara Bukan 

Pajak

Pendapatan dari 

layanan PNBP K/L dan 

pendapatan BLU mampu 

memberikan kontribusi 

signifikan mendorong 

capaian PNBP.

Situasi ekonomi global yang 

masih sangat dinamis 

dampak tensi geopolitik 

dan keamanan global 

yang tinggi mewarnai pergerakan 

harga dan nilai tukar. Harga komoditas 

batubara masih termoderasi sejak 

awal 2024 dan berlanjut hingga akhir 

November 2024. Pelemahan kinerja 

ekspor dan perdagangan turut 

menekan pendapatan negara. 

Realisasi PNBP hingga November 

2024 tercatat 106,18 persen dari target. 

Pendapatan dari layanan PNBP K/L dan 

pendapatan BLU mampu memberikan 

kontribusi signifikan mendorong capaian 

PNBP. Meski terjadi penurunan lifting 

minyak dan gas bumi serta pelemahan 

tajam Harga Batubara Acuan (HBA).

Pendapatan SDA mencapai 

Rp211,78 triliun, 101,98 persen dari 

target. Realisasi Pendapatan SDA 

Migas melemah dibandingkan periode 

yang sama tahun 2023. Pelemahan ini 

terutama disebabkan oleh penurunan 

lifting minyak bumi dan gas bumi, serta 

pelemahan HBA. Lifting minyak bumi 

terkontraksi 4,14 persen (yoy) dan 

lifting gas bumi mengalami terkontraksi 

1,01 persen (yoy) disebabkan tingkat 

penurunan alamiah sumur migas 

yang tinggi sejalan dengan fasilitas 

produksi migas utama yang telah 

menua (khususnya Wilayah Kerja 

pada Cepu dan Banyu Urip). Realisasi 

Pendapatan SDA Nonmigas mencapai 

Rp107,69 triliun, 110,43 persen dari 

target, terkontraksi 15,16 persen (yoy). 

Penurunan kinerja tersebut terutama 

dipengaruhi oleh kinerja penerimaan 

royalti batubara yang menurun 

dampak HBA yang termoderasi. Royalti 

batubara terkontraksi 23,45 persen 

(yoy), meski volume produksi batubara 

mengalami kenaikan 4,98 persen (yoy).

 Pendapatan sektor Minerba 

mencapai Rp98,84 triliun, 115,14 persen 

dari target. Realisasi ini berkurang 

Realisasi PNBP sampai 

dengan 30 November 2024

dibandingkan periode yang sama 

tahun 2023. Faktor penurunan 

harga batubara dan mineral di 

pasar internasional menyumbang 

pengurangan Pendapatan sektor 

Minerba. Rata-rata HBA bulan Januari 

sampai dengan November 2024 

terkontraksi 41,85 persen (yoy).

Pendapatan sektor Kehutanan 

mencapai Rp5,96 triliun, 99,25 persen 

dari target, meningkat 22,00 persen 

(yoy) antara lain disebabkan oleh 

pembayaran Dana Reboisasi (DR) & 

Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) 

yang bersumber dari pendapatan 

perkebunan Kelapa Sawit yang 

telah terbangun dalam kawasan 

hutan (Keterlanjuran Sawit) sebagai 

amanat pasal 110A UUCK serta 

peningkatan pembayaran piutang 

Penggunaan Kawasan Hutan (PKH). 

Sementara itu, realisasi Pendapatan 

sektor Kelautan dan Perikanan 

khususnya dari Perikanan mencapai 

Rp795,16 miliar, 22,72 persen dari 

target atau tumbuh 62,24 persen (yoy) 

sebagai dampak peningkatan volume 

produksi kapal perikanan dengan izin 

pusat. Realisasi Pendapatan Perikanan 

menurun signifikan pada 2023. Hal 

tersebut disebabkan oleh perubahan 

mekanisme perhitungan PNBP Pungutan 

Hasil Perikanan (PHP) dari praproduksi 

menjadi pascaproduksi (sebagaimana 

yang diatur dalam PP Nomor 85/ 

2021) belum memberikan dampak 

positif. Pada periode Januari sampai 

dengan November 2023 realisasi 

PNBP PHP Pascaproduksi hanya 

menghasilkan Rp451,35 miliar sebab  

masih banyak kapal perikanan yang 

masih memiliki Surat Ijin Penangkapan 

Ikan (SIPI) Praproduksi yang masih 

aktif sehingga belum memiliki 

kewajiban pembayaran PNBP PHP 

pascaproduksi. Sementara itu, pada 

2024 seluruh kapal perikanan telah 

memiliki SIPI pascaproduksi sehingga 

pembayaran PNBP PHP memakai  

mekanisme pascaproduksi 

melesat menjadi Rp767,63 miliar 

(meningkat hampir 2 kali lipat).

Selanjutnya, capaian Pendapatan 

sektor Panas Bumi tercatat Rp2,10 

triliun, 96,65 persen dari target atau 

tumbuh 1,18 persen (yoy). Hal ini 

disebabkan kewajiban pemerintah yang 

berkurang menjadi faktor pengurang 

Setoran Bagian Pemerintah (SBP).

Realisasi Pendapatan KND 

mencapai Rp86,38 triliun, 100,62 persen 

dari target. Perekonomian nasional 

yang pulih pada 2023 mendatangkan 

profit signifikan bagi BUMN, khususnya 

BUMN Perbankan. Kontributor utama 

capaian Pendapatan KND berasal dari 

pembayaran dividen Bank Himbara 

untuk tahun buku 2023. Pada 2024 

setoran dividen perbankan mencapai 

Rp49,59 triliun atau tumbuh 21,43 

persen dibandingkan 2023 yang 

tercatat Rp 40,84 triliun. Capaian 

tersebut menjadikan sektor perbankan 

sebagai kontributor utama setoran 

dividen BUMN kepada pemerintah. 

Capaian realisasi PNBP Lainnya 

mencapai Rp135,46 triliun, 117,66 

persen dari target atau melambat 

7,67 persen (yoy). Pendapatan minyak 

mentah (DMO) tumbuh 23,23 persen 

(yoy). Namun pertumbuhan tersebut 

belum mampu menopang kontraksi 

pendapatan penjualan hasil tambang 

(PHT) dan pendapatan PNBP K/L yang 

masing-masing terkontraksi 22,01 

persen (yoy) dan 3,13 persen (yoy).

Pendapatan PNBP K/L mencapai 

Rp101,76 triliun, 126,25 persen dari 

target atau melambat 3,13 persen 

(yoy). Kontraksi ini disebabkan oleh 

pendapatan nonlayanan yang tidak 

berulang di 2024 pada Kejaksaan, 

Kominfo, dan Kemenkes. Di sisi lain, 

PNBP beberapa K/L tumbuh signifikan 

seperti Kementerian Perhubungan 

serta Kementerian Hukum dan Hak 

Asasi Manusia. Kinerja PNBP pada 

Kementerian Perhubungan tumbuh 

22,91 persen (yoy) dampak kenaikan 

pendapatan jasa transportasi dari 

pendapatan kepelabuhan dan Track 

Access Charge (TAC). Sementara 

itu, kinerja PNBP pada Kementerian 

Hukum dan Hak Asasi Manusia tumbuh 

14,45 persen (yoy) dampak kenaikan 

pendapatan pelayanan administrasi 

Di sisi lain, PNBP 

beberapa K/L 

tumbuh signifikan 

seperti Kementerian 

Perhubungan serta 

Kementerian Hukum 

dan Hak Asasi Manusia. 

dan hukum (visa, paspor, dll) sebab  

peningkatan volume kunjungan 

wisata ke Indonesia yang didukung 

penggunaan aplikasi layanan visa 

elektronik melalui MOLINA Imigrasi).

Realisasi Pendapatan PHT 

mencapai Rp30,42 triliun, 109,81 

persen dari target atau melambat 

22,01 persen (yoy) disebabkan 

oleh moderasi HBA. Rata-rata HBA 

(utama) bulan Januari sampai dengan 

November 2024 mencapai USD121,39/

ton lebih rendah dibandingkan 

dengan periode yang sama 2023 

yang mencapai USD208,76/ton.

Realisasi Pendapatan BLU mencapai 

Rp88,78 triliun, 106,51 persen dari target 

atau tumbuh 10,84 persen (yoy). Capaian 

tersebut didominasi dari pendapatan 

Non Kelapa Sawit yang tumbuh 26,32 

persen (yoy) terutama dari pendapatan 

jasa pelayanan RS, layanan Pendidikan 

(terutama dipengaruhi adanya satker 

BLU baru sepanjang tahun 2024), dan 

pendapatan pengelolaan dana BLU 

serta jasa layanan perbankan BLU. 

Sementara itu, Pendapatan BLU Sawit 

mencapai Rp22,20 triliun atau melambat 

18,94 persen (yoy) sebab  rata-rata 

harga referensi CPO Kementerian 

Perdagangan periode Januari sampai 

dengan November 2024 terkontraksi 

0,10 persen (yoy) menjadi USD836.0/MT.

43


2024 | DESEMBER

44

Realisasi BPP 

Dimanfaatkan 

Terutama 

untuk Menjaga 

Kesejahteraan 

Masyarakat dan 

Mendorong 

Pertumbuhan 

Ekonomi yang Inklusif 

serta Pembayaran 

Kewajiban 

Pemerintah

Foto: Unsplash - Yulia Agnis

45

Belanja 

Pemerintah Pusat

Realisasi BPP tersebut 

terutama dimanfaatkan 

untuk menjaga/

meningkatkan kesejahteraan 

masyarakat melalui perlindungan 

sosial, pendidikan, kesehatan, dan 

mendorong pertumbuhan ekonomi 

yang inklusif melalui pembangunan 

infrastruktur, sarana prasarana 

pertanian, keterjangkauan energi, 

dan dukungan kepada UMKM. Selain 

itu, realisasi BPP juga dimanfaatkan 

untuk mendukung penyelenggaraan 

Pemilu 2024, pembangunan IKN, dan 

pembayaran kewajiban Pemerintah.

Belanja K/L

Realisasi Belanja K/L sampai 

dengan 30 November 2024 mencapai 

Rp1.049,72 triliun atau 96,23 persen 

dari pagu atau tumbuh 17,92 persen 

(yoy). Belanja K/L dimanfaatkan 

antara lain untuk penyaluran berbagai 

program bantuan sosial, dukungan 

penyelenggaraan Pemilu, dukungan 

penyelenggaraan Pilkada Serentak, 

penyaluran beasiswa, pembangunan 

infrastruktur, pemeliharaan BMN, 

pengadaan sarana dan prasarana 

bidang hankam, serta pembayaran 

gaji dan tunjangan ASN/TNI/Polri 

termasuk THR dan Gaji ke-13.

2024 | DESEMBER

46

Realisasi  s.d November Belanja Pemerintah 

Pusat  2024 (dalam triliun Rupiah)

Realisasi Belanja 15 Kementerian/Lembaga Dengan Pagu 

Terbesar s.d 30 November TA 2023-2024 (triliun Rupiah)

47

Belanja Pegawai terealisasi 

Rp265,29 triliun, 92,82 persen dari pagu 

atau tumbuh 12,93 persen (yoy). Realisasi 

Belanja Pegawai tersebut digunakan 

untuk pembayaran Gaji dan Tunjangan 

ASN/TNI/Polri termasuk pembayaran 

THR dan Gaji ke-13 ASN/TNI/Polri.

Belanja Barang K/L terealisasi 

Rp399,34 triliun, 98,54 persen dari 

pagu atau tumbuh 23,18 persen (yoy). 

Peningkatan realisasi tersebut antara 

lain sebab  kegiatan pelaksanaan 

dan pengawasan Pemilu 2024, dan 

pembayaran bantuan pangan (bantuan 

beras, daging ayam, dan telur). Selain 

itu, secara rinci realisasi Belanja Barang 

dimanfaatkan antara lain untuk: 

(1)  pengelolaan BMN Matra Darat/

Laut/Udara/Integratif, pengadaan/

harwat/peningkatan alutsista dan non 

alutsista, dan pelayanan kesehatan oleh 

Kementerian Pertahanan (Kemenhan); 

(2) pembayaran selisih harga biodiesel 

serta penyaluran beasiswa LPDP oleh 

Kementerian Keuangan (Kemenkeu); 

(3) preservasi dan peningkatan 

kapasitas jalan nasional, permukiman 

dan bangunan gedung, pemeliharaan 

sarpras SDA serta penanggulangan 

darurat akibat bencana, air minum yang 

layak, serta akses rumah layak huni oleh 

Kementerian Pekerjaan Umum dan 

Perumahan Rakyat (KemenPUPR); (4) 

pembayaran honorarium pengawas 

Badan Ad hoc, pemungutan dan 

penghitungan suara, pengadaan 

barang/jasa/logistik Pemilu 2024, 

oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU); 

(5) Penyaluran BOS kepada 9,4 juta 

siswa oleh Kementerian Agama; serta 

(6)  Pembayaran bantuan pangan 

(beras, daging ayam, dan telur) 

kepada 23,4 juta KPM oleh Bapanas.

Realisasi Belanja Modal mencapai 

Rp245,23 triliun, 99,09 persen dari pagu 

atau tumbuh 29,62 persen (yoy) yang 

dipengaruhi antara lain oleh peningkatan 

belanja infrastruktur KemenPUPR, dan 

pengadaan alutsista Kemenhan. Kinerja 

realisasi Belanja Modal dimanfaatkan 

antara lain untuk: (1) preservasi dan 

peningkatan kapasitas jalan nasional, 

pembangunan dan rehabilitasi 

prasarana pendidikan dasar/menengah/

tinggi, pengembangan jaringan irigasi, 

pengembangan bendungan dan 

danau, pengendalian banjir/drainase/

pengaman pantai, penyelenggaraan 

sanitasi, rusun ASN dan Hankam 

IKN, bangunan Gedung IKN, serta 

penyelenggaraan air minum (SPAM) 

oleh KemenPUPR; (2) infrastruktur 

perkeretaapian, transportasi udara, dan 

transportasi laut oleh Kemenhub; (3) 

sarana dan prasarana pendidikan tinggi  

oleh Kemendikbudristek; (4) sarana dan 

prasarana madrasah, serta pendidikan 

tinggi  oleh Kemenag; (5) modernisasi 

alutsista, non alutsista, dan sarana 

prasarana pertahanan oleh Kementerian 

Pertahanan; (6) modernisasi almatsus, 

dan sarana prasarana Polri; serta 

(7) pengadaan peralatan BIN. 

Realisasi BPP 

dimanfaatkan terutama 

untuk meningkatkan 

kesejahteraan 

masyarakat dan 

mendorong 

pertumbuhan ekonomi 

yang inklusif serta 

pembayaran kewajiban 

Pemerintah. 

2024 | DESEMBER

48

Realisasi Belanja Bantuan Sosial 

(Bansos) mencapai Rp139,87 triliun, 

91,84 persen dari pagu atau terkontraksi 

1,42 persen (yoy) yang antara lain 

dipengaruhi oleh bansos PKH dan 

Kartu Sembako yang belum tersalurkan 

melalui PT Pos. Realisasi Belanja Bansos 

antara lain dimanfaatkan untuk: (1) 

penyaluran bantuan PKH bagi 10 juta 

Keluarga Penerima Manfaat (KPM); 

(2) penyaluran bantuan program 

kartu sembako bagi 18,7 juta KPM; (3) 

penyaluran bantuan iuran bagi 96,7 juta 

peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) 

Program Jaminan Kesehatan Nasional 

(JKN); (4) penyaluran bantuan PIP bagi 

21,1 juta siswa dan bantuan KIPK bagi 1,1 

juta mahasiswa; serta (5) pelaksanaan 

tanggap darurat bencana oleh BNPB. 

Dari perspektif organisasi, realisasi 

Belanja K/L terutama disumbangkan 

oleh 15 K/L dengan pagu terbesar 

yang mewakili 84,4 persen dari total 

realisasi belanja K/L. Realisasi tersebut 

terutama didorong oleh realisasi 

pada: (1) Kementerian PUPR untuk 

pembangunan jalan, bendungan; (2) 

Kemenhan untuk perawatan/pengadaan 

alutsista; (3) Polri untuk pengadaan 

almatsus; (4) Kemendikbudristek 

untuk penyaluran PIP dan KIP Kuliah; (5) 

Kemenkes untuk penyaluran bantuan 

iuran PBI/JKN dan pengadaan alat-alat 

kesehatan; dan (6) Kemensos untuk 

penyaluran PKH dan Kartu Sembako. 

 Belanja Non-K/L

Realisasi Belanja Non-K/L sampai 

dengan 30 November 2024 mencapai 

Rp1.048,93 triliun, 76,19 persen dari 

pagu atau tumbuh 18,62 persen (yoy). 

Realisasi Belanja Non-K/L tersebut 

terutama dipengaruhi oleh penyaluran 

subsidi dan kompensasi energi serta 

pembayaran manfaat pensiun. 

Belanja Pegawai Non-K/L 

terealisasi Rp171,12 triliun, 86,15 persen 

dari pagu atau tumbuh 15,48 persen 

(yoy), antara lain digunakan untuk 

pemenuhan kewajiban pemerintah 

terhadap para pensiunan ASN/TNI/ 

Polri, termasuk pembayaran THR dan 

Gaji ke-13 pensiunan ASN/TNI/Polri.

Realisasi Belanja Subsidi mencapai 

Rp244,14 triliun, 85,37 persen dari 

pagu atau naik 20,70 persen (yoy) yang 

dipengaruhi oleh kenaikan realisasi 

Subsidi Energi dan Subsidi Nonenergi. 

Realisasi tersebut terdiri atas: (a) Subsidi 

Energi Rp157,16 triliun, mencakup 

Subsidi BBM Rp19,90 triliun, Subsidi LPG 

Tabung 3 kg Rp73,08 triliun, dan Subsidi 

Listrik Rp64,18 triliun; dan (b) Subsidi 

Nonenergi Rp86,98 triliun, mencakup 

Subsidi Pupuk Rp35,99 triliun, Subsidi 

PSO Rp4,97 triliun, Subsidi Bunga 

Kredit Program Rp38,16 triliun, dan 

Subsidi Pajak Rp7,86 triliun. Realisasi 

pembayaran Subsidi Energi tersebut 

untuk penyaluran BBM bersubsidi 

15,11 juta KL, LPG Tabung 3 kg 6,86 

juta MT, pelanggan listrik bersubsidi 

sejumlah 41,46 juta pelanggan, dan 

volume konsumsi listrik bersubsidi 

59,34 TWh. Realisasi Subsidi Nonenergi 

terutama dimanfaatkan untuk Subsidi 

Bunga KUR kepada 4,71 juta debitur, 

Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) 

perumahan untuk 165,72 ribu unit 

rumah bersubsidi, serta penyaluran 

pupuk bersubsidi 6,71 juta ton. 

Realisasi Belanja Lain-Lain mencapai 

Rp183,44 triliun, 47,27 persen dari pagu 

atau meningkat 48,83 persen (yoy). 

Realisasi tersebut terutama digunakan 

untuk pembayaran kompensasi BBM 

dan listrik yang mencapai Rp176,39 

triliun. Selain itu, Belanja Lain-Lain juga 

dimanfaatkan untuk penyelenggaraan 

Program Kartu Prakerja dengan realisasi 

Rp4,18 triliun bagi 1,42 juta peserta.

49


2024 | DESEMBER

50

Sampai dengan Akhir 

November 2024, 

TKD Telah Disalurkan 

Rp795,82 Triliun, 

92,80 persen dari 

Pagu atau Naik 8,11 

Persen (yoy)

Foto: Kemenkeu - Resha Aditya

51

Transfer ke 

Daerah 

Kenaikan realisasi DAU 

tersebut berasal dari 

peningkatan realisasi 

penyaluran DAU Block 

Grant dan juga penyaluran 

DAU Specific Grant yang 

telah selesai tahap ke III.

Sampai dengan akhir 

November 2024, TKD 

telah disalurkan Rp795,82 

triliun atau 92,80 persen 

dari pagu, lebih tinggi Rp59,72 

triliun, atau naik 8,11 persen (yoy).

DANA BAGI HASIL 

Sampai dengan 30 November 

2024, penyaluran DBH mencapai 

Rp128,44 triliun atau 89,75 persen dari 

pagu, meningkat 8,68 persen (yoy). 

Capaian tersebut terutama disebabkan 

oleh kenaikan pagu DBH SDA Minerba 

2024 yang tercatat 24,6 persen (yoy). 

2024 | DESEMBER

52

Realisasi TKD T.A. 2023 & 2024 

Per Tanggal: 30 November 2024 

dalam miliar Rupiah

DANA ALOKASI UMUM 

Realisasi penyaluran DAU pada 

akhir November 2024 mencapai 

Rp417,83 triliun atau 97,69 persen dari 

pagu, meningkat 12,69 persen (yoy). 

Kenaikan realisasi DAU tersebut berasal 

dari peningkatan realisasi penyaluran 

DAU Block Grant dan juga penyaluran 

DAU Specific Grant yang telah selesai 

tahap ke III, realisasi DAU tersebut 

akan meningkat di Desember 2024 

seiring dengan realisasi DAU Block 

Grant Desember, dan DAU Specific 

Grant khususnya untuk dukungan 

penggajian PPPK yang masih akan 

salur pada bulan Desember 2024. 

DANA TRANSFER KHUSUS  

Penyaluran Dana Alokasi Khusus 

Fisik (DAK Fisik) pada akhir November 

2024, telah terealiasasi 39,54 triliun 

atau 73,46 persen dari pagu. 

Jumlah ini naik 0,48 persen (yoy) 

sebab  perbaikan nilai kontrak dan lebih 

banyak OPD yang menyampaikan syarat 

salur dibandingkan periode yang sama 

tahun sebelumnya. Strategi percepatan 

penyaluran DAK Fisik untuk penyaluran 

s.d. batas waktu 16 Desember 2024 

pukul 17.00 WIB dengan mendorong 

pemda untuk: (i) meningkatkan 

pemahaman regulasi pengelolaan DAK 

Fisik terutama terkait pembaharuan 

tata kelola penyaluran DAK Fisik 

sebagaimana Peraturan Menteri 

Keuangan Nomor 25/2024 tentang 

Pengelolaan DAK Fisik; (ii) meningkatkan 

kualitas dan integritas SDM pengelola 

keuangan daerah termasuk APIP 

Daerah; dan (iii) penguatan koordinasi 

antarlevel pemerintahan dan 

internal pemerintah daerah agar 

pemanfaatan DAK Fisik lebih optimal. 

Sementara itu, DAK Nonfisik telah 

disalurkan Rp118,72 triliun, meningkat 

2,08 persen (yoy) atau 88,75 persen 

dari pagu. Capaian tersebut terutama 

di Januari telah dilakukan penyaluran 

Tahap I Dana BOSP yang terdiri atas 

Dana BOS, Dana BOP PAUD, dan Dana 

BOP Kesetaraan. Selain itu, terdapat 

perbaikan tata kelola penyampaian data 

53

Sampai dengan 

akhir November 

2024, realisasi Dana 

Otonomi Khusus 

telah mencapai 

Rp14,07 triliun, 

76,98 persen dari 

pagu atau turun 

18,42 persen (yoy).

BOS di daerah dan di Kemendikdasmen. 

Untuk penyaluran sampai November 

telah dilakukan sesuai ketentuan.  

Sedangkan realisasi untuk 

penyaluran Hibah kepada Daerah pada 

akhir November 2024 mencapai 601,8 

miliar atau 117,10 persen dari pagu, 

turun 65,08 persen (yoy) dibandingkan 

periode yang sama tahun lalu  (Rp 1,72 

triliun) mengingat: (a) penyaluran atas 

pekerjaan konstruksi pada Hibah MRT 

baru dilaksanakan sesuai kemajuan 

pekerjaan; (b) Hibah Rehabilitasi dan 

Rekonstruksi Pascabencana dan 

Hibah Sanitasi baru disalurkan pada 

Bulan Desember sesuai periode 

permintaan penyaluran; dan (c) terdapat 

penambahan pagu Hibah Daerah 

yang bersumber dari pengalihan 

dana Cadangan (Hibah Rehabilitasi 

dan Rekonstruksi Pascabencana) 

maupun Pinjaman LN. Namun demikian, 

pagu Hibah Daerah TA 2024 tetap 

menurun sebesar 34,96 persen 

dibandingkan TA 2023, sehingga 

secara umum berpengaruh terhadap 

perhitungan nilai realisasi TA 2024. 

Capaian realisasi penyaluran Hibah 

kepada Daerah dipengaruhi oleh 

penyaluran 6 (enam) jenis hibah kepada 

daerah yaitu Hibah Rural Empowerment 

and Agricultural Development Scalling 

up Initiative (READ-SI), Hibah Mass 

Rapid Transit (MRT) Project, Hibah The 

Development of Integrated Farming 

System at Upland Areas Project 

(UPLAND), Hibah Air Minum Berbasis 

Kinerja Bantuan Pemerintah Australia, 

Hibah Instalasi Pengolahan Air Limbah 

untuk Kota Palembang dan Hibah Bio 

Carbon Fund Initiative for Sustainable 

Forest Landscape (Bio CF ISFL). 

DANA OTONOMI KHUSUS DAN DANA 

KEISTIMEWAAN D.I. YOGYAKARTA  

Sampai dengan akhir November 

2024, realisasi Dana Otonomi Khusus 

telah mencapai Rp14,07 triliun, 76,98 

persen dari pagu atau turun 18,42 

persen (yoy). Penurunan  tersebut 

disebabkan sebab  kepatuhan pemda 

dalam penyampaian dokumen syarat 

salur tahap II dan Tahap III lebih lambat, 

terutama dari pemda di wilayah papua. 

Dalam rangka mempercepat 

pemenuhan dokumen syarat salur 

tahap II dan tahap III telah dilakukan 

pendampingan,  bimbingan teknis 

dan asistensi kepada Pemda 

terkait pemenuhan dokumen syarat 

salur Dana Otonomi Khusus.  

Penyaluran Dana Otonomi Khusus 

tahap I tahun 2024 (30 persen pagu 

alokasi masing-masing daerah 

penerima)  dilakukan setelah pemda 

menyampaikan dokumen syarat 

salur berupa: 1) laporan tahunan 

pelaksanaan pengelolaan penerimaan 

dalam rangka Otonomi Khusus 2023 

dan 2) hasil validasi atas integrasi 

RAP dengan APBD 2024, diterima 

secara lengkap dan benar paling 

lambat pada akhir April 2024. 

Penyaluran Dana Otonomi 

Khusus tahap II 2024 (45 persen pagu 

alokasi) dilakukan setelah pemda 

menyampaikan dokumen syarat salur 

2024 | DESEMBER

54

berupa : 1) laporan kinerja realisasi 

anggaran tahap I paling rendah 50,0 

persen dari total dana yang telah 

disalurkan; 2) laporan kinerja capaian 

keluaran tahap I paling rendah 15,0 

persen dari total rencana keluaran;  

dan 3) laporan kinerja realisasi 

anggaran dan capaian keluaran atas 

penggunaan SiLPA Dana Otonomi 

Khusus tahun anggaran sebelumnya, 

diterima secara lengkap dan benar  

paling lambat akhir Juni 2024 

Penyaluran Dana Otonomi 

Khusus tahap III 2024 (25 persen pagu 

alokasi) dilakukan setelah pemda 

menyampaikan dokumen syarat salur 

berupa : 1) laporan kinerja realisasi 

anggaran sampai dengan tahap II 

yang menunjukkan paling rendah 

75,0 persen dari total dana yang telah 

disalurkan; 2) laporan kinerja capaian 

keluaran sampai dengan tahap II paling 

rendah 50,0 persen dari total rencana 

keluaran;  dan 3) laporan kinerja realisasi 

anggaran dan capaian keluaran atas 

penggunaan SiLPA Dana Otonomi 

Khusus tahun anggaran sebelumnya, 

diterima secara lengkap dan benar  

paling lambat akhir November 2024. 

Dalam hal Menteri Keuangan 

c.q. Direktur Jenderal Perimbangan 

Keuangan belum menerima dokumen 

syarat salur Dana Otonomi Khusus dan 

DTI  secara lengkap dan benar sampai 

dengan bulan November, penyaluran 

sisa pagu alokasi otsus Papua dan 

otsus Aceh yang belum disalurkan 

dilakukan paling lama tujuh hari kerja 

sebelum akhir tahun anggaran berjalan. 

Sementara itu, sampai dengan akhir 

November 2024, Dana Keistimewaan 

TA 2024 Tahap II telah disalurkan 

Rp1,42 triliun (100 persen dari pagu) 

atau tetap dengan nilai salur Tahap II 

tahun lalu. Sesuai amanat PMK Nomor 

163/2023 tentang Pengelolaan Dana 

Keistimewaan DIY, penyaluran Dana 

Keistimewaan telah disalurkan Tahap 

I Rp213 miliar, sehin


APBN 2



 gga total salur 

Tahap I dan Tahap II dari RKUN ke RKUD 

Rp 1,136 triliun (80 persen dari pagu) 

atau meningkat 4,34 persen (yoy).   

 DANA DESA  

Sampai dengan periode ini, Dana 

Desa telah disalurkan Rp69,17 triliun 

atau 97,42 persen dari pagu, meningkat 

6,112 persen (yoy). Capaian tersebut 

dipengaruhi oleh redesign penyaluran 

Dana Desa melalui pemisahan 

penyaluran Dana Desa yang ditentukan 

penggunaannya untuk: (1) program 

penanganan kemiskinan ekstrem melalui 

Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa; 

(2) program ketahanan pangan dan 

hewani; serta (3) program pencegahan 

dan penurunan stunting, dan Dana Desa 

yang tidak ditentukan penggunaannya. 

Selain itu, diberikan juga reward berupa 

persentase penyaluran Dana Desa yang 

tidak ditentukan penggunaannya tahap 

1 (satu) lebih besar untuk Desa berstatus 

Mandiri dibandingkan dengan Desa 

non-Mandiri.   

 

Kenaikan jumlah Desa berstatus Mandiri 

juga berkontribusi dalam meningkatkan 

capaian kinerja penyaluran sebab  

persentase penyaluran Desa Mandiri 

lebih tinggi dibandingkan dengan 

Desa non-Mandiri. Selanjutnya, 

kinerja capaian penyaluran tersebut 

juga disebabkan sebab  adanya 

penyederhanaan kebijakan penyaluran 

bagi Desa non-Mandiri, dari sebelumnya 

3 (tiga) tahap menjadi 2 (dua) tahap. 

Selain itu, terjadi peningkatan kepatuhan 

dalam penyampaian syarat salur oleh 

desa melalui pemerintah daerah 

sehingga capaian kinerja penyaluran 

Dana Desa mengalami perbaikan. 

 INSENTIF FISKAL  

Realisasi penyaluran Insentif Fiskal 

(IF) sampai dengan 30 November 2024 

telah mencapai Rp6,05 triliun, 75,57 

persen dari pagu alokasi, atau naik 

0,81 persen (yoy). Perbaikan capaian 

tersebut salah satunya disebabkan oleh 

upaya koordinasi yang terus dijalin untuk 

55

meningkatkan pemahaman daerah 

terkait pemenuhan syarat salur IF yang 

jatuh tempo pada akhir November 2024. 

Selama 2024, alokasi IF telah 

ditetapkan Rp7,4 triliun yang terdiri 

atas IF Kinerja Tahun Sebelumnya 

(Rp4 triliun), IF Kinerja Inflasi (Rp300 

miliar), dan IF Kelompok Kategori 

Kinerja Kesejahteraan Masyarakat 

(Rp3,1 triliun).  Penyaluran alokasi IF 

ke daerah dilakukan dalam 2 tahap, 

masing-masing 50 persen setelah 

syarat salur terpenuhi sebagaimana 

diatur dalam PMK Nomor 125/2023 

maupun PMK Nomor 43/2024.

2024 | DESEMBER

56

Pembiayaan 

Utang On-track 

dan Manageable 

Mendukung 

Konsolidasi 

untuk Menjaga 

Kesinambungan 

Fiskal

Foto: Storypost - Muhammad Safei

57

Pengelolaan 

Utang

Defisit APBN 2024 

ditargetkan 2,29 persen 

dari PDB, dengan realisasi 

hingga akhir November 

2024 terkendali dalam batas aman 

(prudent) yang tercatat 1,81 persen dari 

PDB. Berdasarkan laporan pemerintah 

tentang Pelaksanaan APBN Semester 

I 2024, outlook defisit anggaran 

2024 akan berada pada level 2,70 

persen terhadap PDB (Outlook). 

Penetapan defisit APBN tak lepas dari 

keputusan pemerintah menerapkan 

kebijakan fiskal ekspansif untuk 

menjaga pertumbuhan ekonomi dan 

melindungi daya beli masyarakat. 

Pembiayaan APBN 2024 dikelola 

secara prudent dan terukur serta 

mempertimbangkan outlook defisit 

APBN, kondisi likuiditas pemerintah, 

dan perkembangan pasar keuangan 

sehingga kondisi fiskal terjaga 

tetap sehat dan berkelanjutan. 

Pembiayaan utang menjadi salah satu 

instrumen untuk menutupi defisit, 

dan dijalankan secara hati-hati, 

fleksibel, oportunistik dan akuntabel. 

Target pembiayaan dipenuhi secara 

on-track, dengan cost of fund yang 

efisien dan risiko yang terkendali.

Realisasi pembiayaan utang 

sampai dengan akhir November 2024 

mencapai Rp483,60 triliun atau 74,6 

persen dari target (87,4 persen dari 

Outlook), terdiri atas realisasi SBN 

(Neto) Rp437,17 triliun dan realisasi 

Pinjaman (Neto) Rp46,44 triliun.

Penerbitan SBN di pasar domestik 

menjadi prioritas dalam memenuhi 

kebutuhan pembiayaan APBN untuk 

mengendalikan risiko. Guna mencapai 

efisiensi biaya utang, Pemerintah 

2024 | DESEMBER

58

Realisasi

Pembiayaan Utang

*Data per 30 November 2024

Pembiayaan Utang

Pembiayaan utang on-track dan manageable mendukung konsolidasi 

untuk menjaga kesinambungan fiskal

*dalam triliun Rupiah

s.d 30 November 2024

Surat Berharga Negara

(Neto)

Pinjaman

(Neto)

483,60Rp

437,17Rp

46,44Rp

Penerbitan SBN di pasar domestik menjadi prioritas dalam memenuhi 

kebutuhan pembiayaan APBN untuk mengendalikan risiko

Pengadaan utang melalui SBN sepanjang bulan November 2024 dilakukan 

melalui 4x lelang reguler dengan mencatatkan bid to cover ratio sebesar 1,57 kali. 

Pemerintah Indonesia kembali menerbitkan Sukuk Global senilai USD2,75 miliar 

dalam format Reg S/144A, terdiri dari tenor 5,5 tahun (USD1,1 miliar), 10 tahun 

(USD900 juta), dan 30 tahun (USD750 juta)

Sukuk Global

November 2024

1.100 juta

tenor 10 tahun

tenor 5,5 tahun

900 juta

tenor 30 tahun

750 juta

miliar2,75USD

USD

USD

USD

37,02Rp

triliun

triliun16,25Rp

Kinerja Lelang SBN

s.d November 2024

Rata-rata nominal

dimenangkan tiap lelang

Rata-rata penawaran

yang masuk tiap lelang

59

Penerbitan ini 

merupakan yang 

keempat di pasar surat 

utang global dalam 

mata uang USD selama 

2024, menunjukkan 

minat investor dan 

kepercayaan pasar 

yang masih tinggi 

terhadap pemerintah 

RI dengan mencatat 

kelebihan permintaan 

(oversubscribed) lebih 

dari 1,8x permintaan. 

berupaya mendorong terciptanya pasar 

SBN yang dalam, aktif, dan likuid di 

antaranya melalui lelang SBN domestik 

secara reguler dengan mekanisme 

pasar, yaitu investor menyampaikan 

penawaran (bid) kompetitif melalui 

Dealer Utama. Selama November 

2024, telah dilaksanakan 4 kali lelang 

SBN dengan mencatatkan bid to 

cover ratio sebesar 1,57x. Sepanjang 

tahun 2024 sampai dengan bulan 

November, rata-rata penawaran yang 

masuk pada lelang SBN mencapai 

Rp37,02 triliun/lelang dengan rata-

rata nominal yang dimenangkan 

sebesar Rp16,25 triliun/lelang. 

Selanjutnya, sebagai bagian dari 

pengelolaan portofolio pembiayaan, 

pemerintah juga telah melakukan lelang 

pembelian kembali secara langsung 

pada 21 November 2024 dengan 

memakai  fasilitas dealing room 

DJPPR dengan jumlah nominal yang 

dibeli kembali pemerintah Rp1 triliun.

Pada 18 November 2024, 

Pemerintah Indonesia kembali 

menerbitkan Sukuk Global senilai 

USD2,75 miliar dalam format Reg 

S/144A, terdiri dari tenor 5,5 tahun 

(USD1,1 miliar), 10 tahun (USD900 juta), 

dan 30 tahun (USD750 juta). Penerbitan 

ini merupakan yang keempat di pasar 

surat utang global dalam mata uang 

USD selama 2024, menunjukkan minat 

investor dan kepercayaan pasar yang 

masih tinggi terhadap pemerintah 

RI dengan mencatat kelebihan 

permintaan (oversubscribed) lebih 

dari 1,8x permintaan. Penerbitan Sukuk 

Global ini memakai  struktur 

akad Wakalah dan telah memperoleh 

persetujuan opini syariah dari Dewan 

Syariah Nasional – Majelis Ulama 

Indonesia (DSN MUI) serta beberapa 

lembaga internasional yang berwenang 

sebagai komite pengawas Syariah.

Sementara itu, ditinjau dari posisi 

outstanding utang pemerintah, jumlah 

utang pemerintah per akhir November 

2024 mencapai Rp8.680,13 triliun.

Pengelolaan portofolio utang 

berperan besar dalam menjaga 

kesinambungan fiskal secara 

keseluruhan. Oleh sebab  itu, pemerintah 

konsisten mengelola utang secara 

cermat dan terukur dengan menjaga 

risiko suku bunga, mata uang, likuiditas, 

dan jatuh tempo yang optimal. Rasio 

utang per akhir November 2024 yang 

tercatat 39,20 persen terhadap PDB, 

tetap konsisten terjaga di bawah batas 

aman 60 persen PDB sesuai UU Nomor 

17/2003 tentang Keuangan Negara. 

Selain itu, pemerintah mengutamakan 

pengadaan utang dengan jangka waktu 

menengah-panjang dan melakukan 

pengelolaan portofolio utang secara 

aktif. Per akhir November 2024, 

2024 | DESEMBER

60

Komposisi Utang

*Data per 30 November 2024

Pinjaman

Pinjaman DN* 42,88

1.031,26

Rp

Rp

Pinjaman LN* 988,38

Bilateral

Multirateral

Rp

265,74Rp

576,34

146,30

Rp

Comercial Banks

Suppliers

52,73

Rp

-Rp

Posisi Utang 

8.680,13 Rp

39,70%

39,21%

D

eb

to

 G

D

P

 R

at

io

Surat Berharga Negara

Domestik 6.173,37

Surat Utang Negara

Surat Berharga Syariah Negara

7.648,87 

Rp

Rp

4.979,64Rp

1.193,73Rp

Valas 1.475,50

Surat Utang Negara

Surat Berharga Syariah Negara

Rp

1.082,67Rp

392,83Rp

Pemerintah mengelola utang secara cermat dan terukur untuk mencapai portofolio utang yang 

optimal dan mendukung pengembangan pasar keuangan domestik

*dalam triliun Rupiah

40,74%

60%

Des 2021 Des 2022 Des 2023 Nov 2024

*dalam triliun Rupiah *dalam triliun Rupiah

11,88%

Pinjaman

17,00%

SBN Valas

71,12%

SBN Domestik

88,12%

Surat Berharga

Negara (SBN)

*  berdasarkan proyeksi PDB Triwulan IV Tahun 2024

39,20%*

39,20%

Debt to GDP

batas aman rasio utang

(UU No. 17/2003)

61

profil jatuh tempo utang pemerintah 

terhitung cukup aman dengan rata-

rata tertimbang jatuh tempo (average 

time maturity/ATM) di 8,01 tahun.

Risiko tingkat bunga dan risiko 

nilai tukar juga terkendali, di mana 80,3 

persen total utang memakai  suku 

bunga tetap (fixed rate) dan 71,6 persen 

total utang dalam Rupiah. Hal ini selaras 

dengan kebijakan umum pembiayaan 

utang untuk mengoptimalkan 

sumber pembiayaan dalam negeri 

dan memanfaatkan utang luar negeri 

sebagai pelengkap. Sementara 

berdasarkan instrumen, komposisi utang 

pemerintah sebagian besar berupa 

SBN yang mencapai 88,12 persen.

Pasar SBN yang efisien akan 

meningkatkan daya tahan sistem 

keuangan Indonesia terhadap 

guncangan ekonomi dan pasar 

keuangan. Dengan aktivitas 

pembiayaan utang melalui penerbitan 

SBN, pemerintah turut mendukung 

pengembangan dan pendalaman 

pasar keuangan domestik. SBN 

turut menyediakan referensi untuk 

menentukan harga instrumen pasar 

keuangan lainnya dan digunakan 

oleh para pelaku pasar untuk 

mengelola risiko suku bunga.    

Per akhir November 2024, 

kepemilikan SBN domestik didominasi 

oleh investor dalam negeri dengan 

porsi kepemilikan 85,02 persen. 

Sementara, asing hanya memiliki SBN 

domestik sekitar 14,53 persen termasuk 

kepemilikan oleh pemerintah dan bank 

sentral asing. Lembaga keuangan 

domestik memegang kepemilikan 

SBN 41 persen, terdiri atas perbankan 

18,9 persen, perusahaan asuransi 

dan dana pensiun 18,9 persen, serta 

reksadana 3,2 persen. Bagi lembaga 

keuangan, SBN berperan penting 

dalam memenuhi kebutuhan investasi 

dan pengelolaan likuiditas, serta 

menjadi salah satu instrumen mitigasi 

risiko. Kepemilikan SBN domestik oleh 

Bank Indonesia sekitar 25,3 persen 

yang antara lain digunakan sebagai 

instrumen pengelolaan moneter. 

Sejalan dengan upaya pemerintah 

memperluas basis investor, inklusi 

keuangan dan  peningkatan literasi 

keuangan masyarakat dari savings 

society menjadi investment society, 

kepemilikan investor individu di SBN 

domestik terus mengalami peningkatan 

sejak 2019 yang hanya di bawah 3 

persen menjadi 8,9 persen per akhir 

November 2024. Sisa kepemilikan 

SBN domestik dipegang oleh institusi 

domestik lainnya untuk memenuhi 

kebutuhan investasi dan pengelolaan 

keuangan institusi bersangkutan.

Selanjutnya, guna meningkatkan 

efisiensi pengelolaan utang dalam 

jangka panjang, pemerintah terus 

berupaya mewujudkan pasar SBN 

domestik yang dalam, aktif, dan likuid. 

Salah satu strateginya adalah melalui 

pengembangan berbagai instrumen 

SBN, termasuk pula pengembangan 

SBN tematik berbasis lingkungan 

(Green Sukuk) dan SDGs (SDG Bond 

dan Blue Bond). Peranan transformasi 

digital dalam proses penerbitan 

dan penjualan SBN yang didukung 

dengan sistem online juga tak kalah 

penting, mampu membuat pengadaan 

utang melalui SBN menjadi semakin 

efektif dan efisien, serta kredibel.

2024 | DESEMBER

62

Kalender 

Acara

Pembicaraan Pendahuluan 

RAPBN TA 2025

Penyampaian Pagu 

Anggaran RAPBN 2025

Penawaran SBN Ritel SBR013

Penawaran SBN 

Ritel SWR005

Penyampaian Pagu 

Indikatif RAPBN 2025

Penawaran SBN Ritel ST012

Lomba Debat APBN 

- Mahasiswa

Lomba Konten APBN - SMP

Penyampaian Dokumen 

KEM PPF TA 2025

Penawaran SBN Ritel ST012

Penawaran SBN Ritel SBR013

Lomba Debat APBN - Mahasiswa

Lomba Konten APBN - SMP

Penyusunan Kapasitas Fiskal 

(Resource Envelope)

Penawaran SBN Ritel ORI025

Lomba Debat APBN - Mahasiswa

DJA Menyapa

Penawaran SBN Ritel ORI025

DJA Menyapa

Penyusunan Kapasitas Fiskal 

Penyampaian Pagu 

Indikatif RAPBN 2025

Penawaran SBN Ritel SR020

Lomba Debat APBN - Mahasiswa

Budget Goes to Campus62

Calendar Events 2024

63

DJA Menyapa

Penawaran SBN Ritel ST013

Penetapan DIPA Tahun 2025

Penawaran SBN Ritel ST013

Pembahasan RUU APBN 

2025 dan Nota Keuangan

Penawaran SBN Ritel SR021

Penawaran SBN Ritel ORI026

Lomba Cerdas Cermat APBN - SMA

Lomba Video Mengajar 

APBN - Guru SMA/SMP

DJA Menyapa

Pembahasan RUU APBN 

2025 dan Nota Keuangan

Penetapan Peraturan Presiden 

tentang Rincian APBN TA 2025

Penawaran SBN Ritel ORI026

Lomba Video Mengajar 

APBN - Guru SMA/SMP

Budget Goes to Campus

HORI 78 Tahun 2024

Pidato Presiden dalam rangka 

Penyampaian RUU APBN 

2025 dan Nota Keuangan

Penawaran SBN Ritel SR021

Lomba Cerdas Cermat APBN - SMA

Lomba Video Mengajar 

APBN - Guru SMA/SMP

Penyampaian Pagu 

Anggaran RAPBN 2025

Penawaran SBN Ritel SBR013

Penawaran SBN Ritel SWR005

Lomba Cerdas Cermat 

APBN - SMA

Lomba Video Mengajar 

APBN - Guru SMA/SMP

Budget Goes to Campus 63

2024 | DESEMBER

64

Foto: Pexels - Robert Lens

Laporan Khusus

65

Presiden Serahkan DIPA & 

Buku Alokasi Transfer ke 

Daerah 2025 Secara Digital

Jakarta, 10 Desember 

2024 – Presiden Prabowo 

Subianto didampingi Wakil 

Presiden Gibran Rakabuming 

bersama seluruh pimpinan tinggi 

negara, Kementerian, Lembaga, serta 

Pemerintah Daerah hadir dalam acara 

Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan 

Anggaran (DIPA) dan Buku Alokasi 

Transfer Ke Daerah (TKD) tahun 

Anggaran 2025 di Istana Negara, Jakarta 

pada Selasa, 10 Desember 2024.

Penyerahan DIPA secara digital dan 

Buku Alokasi TKD ini menjadi simbol 

dimulainya pelaksanaan APBN tahun 

anggaran 2025. Dalam sambutannya, 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati 

menjelaskan bahwa APBN 2025 disusun 

dalam masa transisi pemerintahan dan 

telah mengakomodasi program prioritas 

presiden terpilih secara optimal.

Menteri Keuangan mengungkapkan, 

APBN adalah instrumen penting yang 

sangat menentukan kemajuan suatu  

bangsa dan menjadi instrumen andalan 

dalam melindungi masyarakat serta 

perekonomian untuk menghadapi 

berbagai gejolak guncangan serta 

krisis. Oleh sebab  itu, menurutnya 

APBN harus terus dijaga kesehatan, 

kredibilitas, dan sustainabilitasnya. 

“Alhamdulillah, Indonesia terus 

mampu menjaga keseimbangan antara 

upaya meraih kemajuan pertumbuhan 

ekonomi dan pemerataan dengan 

menjaga stabilitas dan sustainabilitas,” 

ungkap Menteri Keuangan.

Menteri Keuangan memaparkan, 

APBN 2025 disusun dengan asumsi 

perkembangan dan proyeksi 

ekonomi tahun 2025 yang dinamis 

dan penuh ketidakpastian geopolitik. 

Perekonomian Indonesia di periode 

2022 hingga 2024 diperkirakan 

tumbuh sekitar 5 persen. Sementara 

itu, inflasi di November 2024 berada 

di angka 1,55 persen (yoy), termasuk 

yang terendah di dunia. Neraca 

2024 | DESEMBER

66

perdagangan  Indonesia mencapai 

surplus 54 bulan berturut-turut.

“Dengan capaian perekonomian 

yang relatif baik dan stabil hingga 

2024 ini, akan menjadi pijakan bagi 

akselerasi target pembangunan 

dan pertumbuhan ekonomi 

yang lebih baik dan lebih tinggi 

di 2025 dan 5 tahun ke depan,” 

tegas Menteri Keuangan.

Menteri Keuangan menjelaskan, 

dalam APBN tahun depan belanja 

negara ditetapkan 3.621,3 triliun 

rupiah atau meningkat 8,9 persen 

dibandingkan APBN 2024. Belanja 

pemerintah pusat yang mencapai 

2.701,4 triliun rupiah ditujukan untuk 

mendorong program prioritas 

pemerintah di bidang pendidikan, 

kesehatan, perlindungan sosial, 

ketahanan pangan dan energi, 

serta perumahan. Selain itu, 

program unggulan 2025 juga 

telah ditampung di APBN melalui 

program makanan bergizi gratis, 

pemeriksaan kesehatan gratis, 

renovasi sekolah, sekolah unggulan 

terintegrasi, dan terciptanya lumbung 

pangan nasional, daerah dan desa.

Transfer ke daerah 919,9 triliun rupiah 

mendukung akselerasi  pertumbuhan 

ekonomi dan pelayanan yang inklusif. 

Sementara, pendapatan negara tahun 2025 

adalah sebesar 3.005,1 triliun dengan defisit 

616,2 triliun rupiah atau 2,53 persen dari PDB.

Menteri Keuangan mengatakan, 

penyusunan DIPA telah melalui proses 

digitalisasi yang berhasil menyederhanakan 

proses pengesahan dari semula 12 tahap 

menjadi 4 tahap, dengan memakai  

aplikasi SAKTI. Ia pun berharap DIPA 

Kementerian, Lembaga dan daftar alokasi 

Transfer ke Daerah tahun 2025 dapat 

segera diselesaikan dan dilaksanakan. 

Sehingga pada awal tahun, masyarakat 

dan perekonomian dapat langsung 

merasakan manfaatnya secara maksimal.

Presiden Prabowo Subianto 

menyampaikan bahwa APBN 2025 

dirancang untuk menjaga stabilitas, 

inklusivitas, keberlanjutan dengan kehati 

67

hatian. “Kita punya cita-cita yang 

tinggi, tapi kita harus terus melakukan 

pengendalian ekonomi secara prudent 

dan hati hati dan terencana dengan 

baik. Belanja negara harus kita lakukan 

dengan meningkatkan efisiensi, 

penghematan di semua bidang, 

mengurangi pemborosan. Kita harus 

kurangi kebocoran dari anggaran. Saya 

bertekad untuk memerangi kebocoran 

di semua tingkat. Dan saya mohon 

semua unsur, terutama para pimpinan 

daerah ikut bersama dengan pemerintah 

pusat demi kepentingan rakyat.” 

Tegas Presiden Prabowo Subianto.

2024 | DESEMBER

68

Puncak Hakordia 

Kemenkeu 2024

“Teguhkan Komitmen 

Berantas Korupsi Untuk 

Indonesia Maju”

Memperkuat reformasi 

politik, hukum, 

dan birokrasi, 

serta memperkuat 

pencegahan dan pemberantasan 

korupsi dan narkoba merupakan Asta 

Cita Presiden Prabowo Subianto poin 

ketujuh. Dalam tema reformasi birokrasi 

sendiri, salah satu yang menjadi fokus 

pemerintah adalah Pemberantasan 

Korupsi dan Kebocoran Anggaran.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) 

selaku pengelola Anggaran Pendapatan 

dan Belanja Negara (APBN) harus 

memastikan bahwa APBN dipergunakan 

sebesar-besarnya untuk kemakmuran 

rakyat. Komitmen pengawasan 

terhadap keuangan negara oleh aparat 

penegak hukum, aparat pengawas 

internal maupun eksternal menjadi 

tema penting yang harus dilakukan 

oleh setiap unsur pengawasan.

Kemenkeu melalui Inspektorat 

Jenderal mewujudkan komitmen 

ini, salah satunya dengan 

menyelenggarakan Puncak Peringatan 

Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 

Kemenkeu Tahun 2024 pada Kamis, 12 

Desember 2024 secara hybrid. Tahun ini, 

Hakordia mengusung tema “Teguhkan 

Komitmen Berantas Korupsi untuk 

Indonesia Maju.” Tema tersebut menjadi 

seruan bagi seluruh elemen bangsa 

untuk memperkuat komitmen bersama 

dalam upaya pemberantasan korupsi. 

Peringatan kali ini, para perwakilan 

pejabat dari setiap Unit Eselon I, 

Special Mission Vehicles (SMV) dan 

Badan Layanan Umum (BLU), serta 

Penyuluh Antikorupsi (PAKSI) dan 

Ahli Pembangun Integritas (API) hadir 

secara luring di Aula Mezzanine Gedung 

Djuanda I. Sedangkan, para Kepala 

Kantor Unit Kerja Vertikal setara Eselon 

II dan Eselon III melalui Ms Teams, 

dan acara dapat diikuti oleh seluruh 

pegawai Kemenkeu melalui Yammer.

69

Peringatan Hakordia setiap 

9 Desember ini bertujuan untuk 

meningkatkan kesadaran masyarakat 

terhadap pentingnya budaya 

antikorupsi dalam setiap lini kehidupan. 

Dalam sambutannya, Menteri Keuangan 

Sri Mulyani Indrawati menyampaikan 

bahwa Hakordia menjadi momen 

refleksi global tentang ancaman korupsi. 

Momen ini digunakan Kemenkeu 

untuk menegaskan komitmen 

dalam menghadapi tantangan 

integritas sehari-hari, mengingat 

godaan korupsi sangat nyata.

Dalam kesempatan baik ini, 

Menteri Keuangan menyampaikan 

arahan dan motivasi untuk seluruh 

jajaran punggawa Kemenkeu. “Saya 

berterima kasih hari ini Kementerian 

Keuangan terus berkomitmen untuk 

memperingati hari peringatan nyata 

dan serius tentang ancaman korupsi. 

Bagi Kementerian Keuangan, ini adalah 

sebuah tantangan yang sangat nyata 

sehari hari,” ujar Menkeu Sri Mulyani. 

“sebab  tugas kita sebagai 

pengelola keuangan negara, identik 

dengan sebuah godaan sangat nyata 

mengenai corruption. Di sinilah yang 

dianggap sebagai institusi yang 

seharusnya mengelola dan mengurus 

keuangan negara dengan integritas 

yang tidak boleh dikompromikan,” 

lanjutnya mengingatkan kita sebagai 

pengelola keuangan negara harus 

terus menjaga integritas.

Menkeu Sri Mulyani mengingatkan 

pentingnya memegang teguh tiga 

prinsip utama dalam mengabdi 

kepada bangsa dan negara. 

Pedoman bagi seluruh pejabat 

dan pegawai di Kemenkeu dalam 

menjalankan tugas negara.

“Tiga hal yaitu integrity yang 

saya selalu menyampaikan berkali-

kali berulang-ulang, tak henti henti. 

Integrity is our currency. Yang kedua, 

yang diharapkan oleh seluruh bangsa 

Indonesia rakyat Indonesia adalah 

profesionalisme. Kompetensi Anda 

semuanya. Ketiga, masyarakat kita 

seluruh bangsa Indonesia, selalu melihat 

Kementerian Keuangan dengan optik 

harapan bahwa Kementerian ini harus 

mampu melayani: to serve, sebab  yang 

kita lakukan tidak boleh serving our own 

interest,” lanjut Menteri Keuangan. 

Menkeu Sri Mulyani kembali 

menekankan kepada seluruh pegawai/

pejabat Kemenkeu untung terus 

berjuang melawan korupsi apapun 

2024 | DESEMBER

70

tantangan di masa mendatang. 

Perjuangan melawan korupsi 

merupakan jihad penting untuk 

Indonesia maju. Dengan berkomitmen, 

disiplin, dan saling bekerja sama, 

Kemenkeu berperan besar dalam 

mewujudkan visi Indonesia Emas. 

Tantangan besar untuk 

menjaga perekonomian Indonesia 

membutuhkan komitmen semua 

pihak serta sinergi dan kerja sama 

internal dan eksternal Kemenkeu, 

khususnya dalam penguatan integritas 

dan semangat antikorupsi, termasuk 

menindak pegawai yang melakukan 

penyimpangan/pelanggaran integritas. 

Dalam arahannya, Menkeu Sri 

Mulyani menyelipkan pesan untuk 

para penerima penghargaan. “WBK 

(Wilayah Bebas Korupsi) dan WBBM 

(Wilayah Birokrasi Bersih Melayani) 

adalah indikator reputasi. Namun, 

penghargaan ini harus dipertahankan 

melalui komitmen yang konsisten, bukan 

hanya sekadar simbol,” kata beliau.

Selain menyampaikan keynote 

speech dan pembukaan, Menteri 

Keuangan juga memberikan 

penghargaan terkait Zona Integritas 

(ZI) Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/

penghargaan Wilayah Birokrasi Bersih 

dan Melayani (WBBM). Penghargaan 

yang diberikan yaitu kepada: 3 Unit 

Kerja Terbaik Membangun ZI Menuju 

WBK, 3 Unit Kerja Terbaik Menjaga 

Keberlanjutan ZI Menuju WBK, 3 Unit 

Kerja Terbaik Menjaga Keberlanjutan 

ZI Menuju WBBM, serta 3 Unit Kerja 

Terbaik dalam Kepatuhan dan Validitas 

Administratif Pelaporan Harta Kekayaan.

Predikat WBK/WBBM bukan 

hanya sebagai ritual formalitas belaka, 

tetapi harus mencerminkan komitmen 

nyata terhadap budaya integritas, 

transparansi, dan akuntabilitas. Seluruh 

unit kerja yang menerima penghargaan 

ini telah melalui proses penilaian yang 

panjang dan berjenjang, termasuk 

kolaborasi erat dengan Tim Penilai 

Nasional yang dikoordinir oleh Menteri 

Pendayagunaan Aparatur Negara 

dan Reformasi Birokrasi (PAN RB).

Inspektur Jenderal Kemenkeu 

Awan Nurmawan Nuh dalam laporan 

penyelenggaraannya menyampaikan 

bahwa seluruh Unit Eselon I, LNSW, 

BLU, dan SMV, baik di pusat maupun di 

tingkat unit vertikal turut berpartisipasi 

dalam rangkaian kegiatan Hakordia 

tahun 2024. Sebanyak 51 kegiatan 

telah diselenggarakan dalam 

bentuk Road to Hakordia 2024 dan 

diikuti sebanyak 55.128 peserta.

Sepanjang 2024, Kemenkeu 

telah melakukan penguatan integritas 

secara berkelanjutan antara lain 

dalam bentuk kegiatan: Forum 

Integritas Pimpinan, Integrity Sharing, 

E-Learning Penguatan Integritas dan 

Pencegahan Korupsi, Penanganan 

Benturan Kepentingan, Recovering 

Integrity, serta Pembangunan Sistem 

Pengendalian Intern Terintegrasi.

Di akhir laporannya, Irjen Awan 

juga menyampaikan beberapa 

penghargaan yang diraih oleh 

Kemenkeu dalam peringatan Hakordia 

tahun 2024 di Komisi Pemberantasan 

Korupsi (KPK). Penghargaan terkait 

penyuluhan antikorupsi, antara 

lain (1) Kementerian Teraktif dalam 

Pemberdayaan Penyuluh Antikorupsi; 

(2) PAKSI API Dana Rakca sebagai 

Forum Teraktif; (3) Penyuluh Antikorupsi 

(PAKSI) Inspiratif (Sdri. Kusuma Santi 

Wahyuningsih); dan (4) Penyuluh 

Antikorupsi (PAKSI) Kreatif (Sdri. Azizah 

Nuur Utami dan Sdri. Aniek Juliarini).

Kemenkeu juga memperoleh 

Penghargaan dari KPK tahun 2024 

sebagai (1) Unit Pengendalian Gratifikasi 

Peringkat 1 Klasifikasi Kementerian; 

(2) Unit Pengendalian Gratifikasi 

Terbaik Peringkat 3 Nasional; (3) 

71

Instansi dengan Pelaporan Gratifikasi 

Terbanyak level K/L; dan (4) Instansi 

dengan Pelaporan Gratifikasi Terbanyak 

secara nasional dalam lingkup K/L 

Pemerintah Daerah dan BUMN.

Kegiatan peringatan Hakordia 

Kemenkeu 2024 sebagai sarana untuk 

meneguhkan komitmen pejabat/

pegawai di lingkungan Kemenkeu 

dalam meningkatkan integritas dan 

memperkuat budaya antikorupsi. 

Dengan begitu, kepercayaan 

publik atas pengelolaan keuangan 

negara semakin meningkat.

2024 | DESEMBER

72

Badan Kebijakan Fiskal 

telah menyelenggaran 

Annual International 

Forum on Economic 

Development and Public Policy (AIFED) 

ke-13 diselenggarakan pada 2–3 

Desember 2024. Forum tahunan ini 

mengundang para ahli, baik nasional 

maupun internasional, serta didukung 

oleh mitra strategis Indonesia seperti 

Pemerintah Australia melalui Prospera, 

Asian Development Bank (ADB), Asian 

Development Bank Institute (ADBI), 

dan GIZ Jerman. Selain itu, acara ini 

juga mendapat dukungan dari Badan 

Pengelola Dana Lingkungan Hidup 

(BPDLH) dan Badan Pengelola Dana 

Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Menteri Keuangan Sri Mulyani 

Indrawati dalam pidato kuncinya 

menekankan pentingnya memahami 

Perubahan lanskap ekonomi global, 

perkembangan teknologi, dinamika 

geopolitik, dan transisi menuju ekonomi 

berkelanjutan untuk mendukung 

pencapai tujuan agenda nasional. “Saya 

berharap momen ini menjadi waktu yang 

sangat penting bagi kita untuk lebih 

memahami dan merespons pergeseran 

geoekonomi ini dengan baik. Khususnya 

memastikan bahwa kinerja ekonomi 

Indonesia tidak hanya mencakup 

pertumbuhan yang tinggi, tetapi juga 

penciptaan lapangan kerja, peningkatan 

kualitas hidup, dan pemerataan.”

Selama dua hari penyelenggaraan, 

AIFED ke-13 telah mendiskusikan 

berbagai isu strategis, mulai dari 

pergeseran geoekonomi global, 

keterampilan masa depan, hingga 

tantangan dan peluang dalam 

transisi hijau dan digitalisasi. diskusi 

dalam AIFED ke-13 ini juga menyoroti 

peningkatan tren industrialisasi 

global, serta pentingnya Indonesia 

merumuskan kebijakan yang tepat 

dan berkolaborasi dengan negara 

lain. Ketahanan pangan juga menjadi 

salah satu fokus utama, dengan 

penekanan pada sinergi kebijakan 

yang mendukung pengembangan 

SDM sesuai dengan tujuan nasional.

Annual International 

Forum On Economic 

Development and Public 

Policy (AIFED) ke 13

Growth Strategies in 

Navigating Geoeconomic 

Shifts

73

Transformasi ekonomi merupakan 

elemen penting dalam mencapai 

aspirasi Indonesia Maju 2045. Reformasi 

struktural yang dilakukan Indonesia 

telah menciptakan daya tahan ekonomi, 

disiplin fiskal yang berkelanjutan, 

posisi eksternal yang kuat, dan 

peningkatan kesejahteraan rakyat 

Indonesia. Dalam pelaksanaannya, 

pencapaian tujuan ekonomi Indonesia 

membutuhkan penguatan institusi dan 

kualitas sumber daya manusia (SDM).

2024 | DESEMBER

74

Desember merupakan bulan 

sangat istimewa. Pertama, 

ini merupakan periode 

tutup tahun, sehingga 

kita harus menggenjot semangat 

demi mencapai kinerja optimal. Target 

yang telah dicanangkan harus kita 

raih dengan capaian apik. Kedua, 

oleh komunitas global, 9 Desember 

dirayakan sebagai Hari Antikorupsi 

Sedunia (Hakordia). Bersama institusi 

lainnya, Kementerian Keuangan 

menyambut Hakordia dengan semarak. 

Korupsi merupakan tindak 

kejahatan yang harus diperangi secara 

serius. Ia merupakan tindak pidana 

berat, seperti halnya pencucian 

uang, perdagangan narkoba, 

penyelundupan manusia, kejahatan 

perang, dan bahkan genosida. Betul, 

korupsi dapat melenyapkan sebuah 

generasi. Dampak yang masif dan 

destruktif, korupsi bisa menggerogoti 

triliunan rupiah, baik anggaran negara 

maupun anggaran daerah. Anggaran 

tersebut, Uang Kita itu, mestinya bisa 

dikelola untuk menyejahterakan rakyat 

melalui pembangunan di berbagai 

sektor untuk dapat dinikmati oleh 

generasi di masa yang akan datang. 

Betapa kita memerlukan 

penerimaan negara dan mengelola 

belanja negara secara cermat, demi 

menyediakan fasilitas publik seperti 

terminal, bendungan, saluran irigasi, 

infrastruktur, renovasi gedung sekolah, 

Hakordia 2024: Dengan 

Semangat Antikorupsi, 

Kita Jaga Uang Kita Demi 

Kesejahteraan Rakyat  

75

sarana kesehatan, akses 

transportasi, program perlindungan 

sosial, pencegahan tengkes (stunting) 

dan penanganan TBC, dan sebagainya. 

Segala cita-cita luhur tersebut bisa 

hancur lantaran maraknya praktik rasuah. 

Terdepan Perangi Korupsi 

Untungnya, Kementerian Keuangan 

(Kemenkeu) merupakan institusi 

terdepan dalam memberantas korupsi. 

Berdasarkan hasil Survei Penilaian 

Integritas (SPI) yang diselenggarakan 

oleh Komisi Pemberantasan Korupsi 

(KPK), tahun lalu Kemenkeu meraih 

nilai SPI tertinggi di antara institusi 

kategori kementerian. Kemenkeu 

berhasil meraup indeks SPI 84,18 

dengan predikat Terjaga (di atas 77,5). 

SPI merupakan bagian dari upaya 

untuk memetakan risiko korupsi di 

kementerian, lembaga, dan pemerintah 

daerah. Tentu kita berharap tahun ini 

Kemenkeu mampu mempertahankan 

indeks SPI pada level “Terjaga” 

dengan nilai indeks yang lebih baik. 

Kunci dari komitmen memerangi 

korupsi adalah integritas. Hal ini selaras 

dengan nilai-nilai Kemenkeu, yang 

terdiri atas integritas, profesionalisme, 

sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan. 

Sangatlah penting menempatkan 

integritas sebagai nilai pertama. sebab  

dengan integritaslah kita dapat menjaga 

pikiran, niat, ucapan, dan perbuatan kita 

dari tindakan tercela yang melanggar 

ketentuan, termasuk tindakan korupsi. 

Sudah sangat tepat bahwa 

Kemenkeu merumuskan tiga lapis 

pertahanan, yang dikenal dengan “three 

lines of defense”. Lini pertama adalah 

diri kita sendiri. Kita sendirilah yang sadar 

akan risiko fraud sesuai dengan kriteria 

tugas dan fungsi masing-masing. Kita 

harus sadar, bahwa setiap individu dari 

kita justru merupakan pemain kunci 

dalam memerangi korupsi. Dengan 

menjauhi korupsi sejak dini serta berawal 

dari diri sendiri, kita telah mencegah 

terjadinya fraud dari awal. Lini kedua 

adalah unit kepatuhan internal (UKI), 

yang melaksanakan pengawasan 

pada masing-masing unit kerja. Dan lini 

terakhir adalah Inspektorat Jenderal, 

yang menyelenggarakan asurans bahwa 

kepatuhan internal berjalan dengan baik. 

Selain tiga lapis pertahanan itu 

tadi, kita juga mengenal “trisula” 

pemberantasan korupsi. Pertama, 

upaya edukasi dan kampanye 

antikorupsi. Tindakan ini antara 

lain dengan memberdayakan 

para penyuluh antikorupsi dan ahli 

pembangun integritas (paksiapi). Kita 

patut berbangga bahwa Kemenkeu 

memiliki Forum Paksiapi Dana Rakca, 

yang beranggotakan lebih dari 

400 paksiapi. Forum ini merupakan 

organisasi paksiapi terbesar dari segi 

jumlah anggota, di antara seluruh forum 

paksiapi di berbagai kementerian, 

lembaga, dan pemerintah daerah. 

Kedua, usaha pencegahan korupsi 

dengan menerapkan three lines of 

defense itu tadi serta penguatan UKI. 

Penyempurnaan standard operating 

procedure demi kualitas layanan 

juga termasuk ranah pencegahan 

korupsi. Dan ketiga adalah penindakan. 

Kemenkeu tidak menoleransi tindakan 

fraud dengan berkoordinasi bersama 

aparat penegak hukum maupun KPK. 

Mengelola lebih dari Rp3.000 

triliun APBN, baik dari sisi penerimaan 

maupun dari segi pembelanjaan, 

memang memerlukan insan-insan 

militan yang berintegritas dan 

berpegang teguh pada nilai-nilai 

antikorupsi. Dan terbukti bahwa 

Kemenkeu senantiasa terdepan dalam 

menggelorakan semangat antikorupsi. 

Sekali lagi, selamat merayakan 

Hari Antikorupsi Sedunia 2024! Uang 

Kita untuk Kesejahteraan Rakyat!  

2024 | DESEMBER

76

Dirjen Perbendaharaan 

menghadiri Kunjungan 

Kerja Badan Anggaran 

DPR RI ke Provinsi Jawa 

Timur pada Kamis (28/11). Bertempat 

di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, 

pertemuan yang dipimpin Wakil Ketua 

Badan Anggaran DPR RI Wihadi Wiyanto 

membahas isu-isu strategis, seperti 

perkembangan ekonomi dan fiskal, 

realisasi dana transfer, dan persoalan 

disparitas fiskal di Jawa Timur. Selain 

Direktur Jenderal Perbendaharaan 

Astera Primanto Bhakti, pada forum 

tersebut hadir Penjabat Gubernur 

Jawa Timur Adhy Karyono, seluruh 

Kepala Daerah dan Penjabat Kepala 

Daerah lingkup Provinsi Jawa Timur, 

seluruh pimpinan Kemenkeu Satu 

Provinsi Jawa Timur, Kepala Perwakilan 

Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, 

serta para pejabat pendamping.  

Dalam sambutannya, Wihadi 

Wiyanto menyampaikan apresiasi 

kepada para undangan atas kontribusi 

mereka dalam forum diskusi ini. Wihadi 

menegaskan bahwa pertemuan 

ini bertujuan untuk menggali 

informasi mengenai realisasi dana 

transfer, progres perpajakan, kredit 

perbankan, serta tantangan ekonomi 

yang dihadapi provinsi tersebut. 

Penjabat Gubernur Jawa Timur 

Adhy Karyono juga turut memaparkan 

gambaran ekonomi provinsi yang 

menunjukkan pertumbuhan positif 

Dirjen Perbendaharaan 

Hadiri Kunjungan Kerja 

Badan Anggaran DPR RI 

di Jawa Timur   

77

meskipun menghadapi tantangan 

global dan nasional. Adhy menyebut 

UMKM dan sektor industri sebagai 

tulang punggung perekonomian 

Jawa Timur. Sektor agroindustri di 

Jawa Timur memberikan kontribusi 

signifikan, bahkan menopang 

kebutuhan 16 provinsi lain di Indonesia. 

Adhy juga menyoroti permasalahan 

utama, yakni disparitas fiskal 

antardaerah. Sebagian besar 

kabupaten/kota di Jawa Timur masih 

bergantung pada dana transfer akibat 

rendahnya kapasitas fiskal. Selain itu, 

postur Anggaran Pendapatan dan 

Belanja Daerah (APBD) provinsi juga 

mengalami penurunan dibandingkan 

tahun sebelumnya, yang salah satunya 

disebabkan oleh penurunan dana 

bagi hasil pajak. Meskipun demikian, 

realisasi dana bagi hasil mencapai 

rata-rata serapan di atas 90 persen. 

Untuk Dana Desa, realisasinya telah 

mencapai 99,19 persen dari pagu 

sebesar Rp8,2 triliun. Adhy menekankan 

bahwa fokus ke depan adalah 

memastikan dana tersebut benar-benar 

mendukung program pengentasan 

kemiskinan ekstrem di desa-desa. 

Dalam forum tersebut, Dirjen 

Perbendaharaan menyampaikan 

apresiasi kepada Ketua Tim Banggar 

DPR RI dan Penjabat Gubernur 

Jawa Timur atas kolaborasi yang 

terjalin baik selama ini. Dirjen 

Perbendaharaan juga memaparkan 

capaian fiskal di Provinsi Jawa Timur.  

“Capaian fiskal hingga saat ini, 

Pendapatan perpajakan telah mencapai 

Rp96,96 triliun atau 74 persen dari target, 

Bea Cukai mencatatkan realisasi Rp107 

triliun atau 71 persen, dan Penerimaan 

Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp6,9 triliun, 

yang telah melampaui target. Dari 

sisi belanja, penyerapan anggaran di 

Kementerian/Lembaga telah mencapai 

Rp40,33 triliun atau sekitar 72,46 persen, 

sementara Transfer ke Daerah (TKD) 

telah terserap Rp70,79 triliun atau 87,4 

persen,” jelas Dirjen Perbendaharaan. 

Lebih lanjut, Kepala Perwakilan 

Kemenkeu Satu Jawa Timur yang 

juga Kepala Kanwil DJP Jawa Timur I 

Sigit Danang Joyo juga menjelaskan 

terkait kontribusi signifikan dari dana 

transfer untuk mendukung berbagai 

2024 | DESEMBER

78

meskipun menghadapi tantangan global 

dan nasional. Adhy menyebut UMKM dan 

sektor industri sebagai tulang punggung 

perekonomian Jawa Timur. Sektor 

agroindustri di Jawa Timur memberikan 

kontribusi signifikan, bahkan menopang 

kebutuhan 16 provinsi lain di Indonesia. 

Adhy juga menyoroti permasalahan 

utama, yakni disparitas fiskal 

antardaerah. Sebagian besar 

kabupaten/kota di Jawa Timur masih 

bergantung pada dana transfer akibat 

rendahnya kapasitas fiskal. Selain itu, 

postur Anggaran Pendapatan dan 

Belanja Daerah (APBD) provinsi juga 

mengalami penurunan dibandingkan 

tahun sebelumnya, yang salah satunya 

disebabkan oleh penurunan dana 

bagi hasil pajak. Meskipun demikian, 

realisasi dana bagi hasil mencapai 

rata-rata serapan di atas 90 persen. 

Untuk Dana Desa, realisasinya telah 

mencapai 99,19 persen dari pagu 

sebesar Rp8,2 triliun. Adhy menekankan 

bahwa fokus ke depan adalah 

memastikan dana tersebut benar-benar 

mendukung program pengentasan 

kemiskinan ekstrem di desa-desa. 

Dalam forum tersebut, Dirjen 

Perbendaharaan menyampaikan 

apresiasi kepada Ketua Tim Banggar 

DPR RI dan Penjabat Gubernur 

Jawa Timur atas kolaborasi yang 

terjalin baik selama ini. Dirjen 

Perbendaharaan juga memaparkan 

capaian fiskal di Provinsi Jawa Timur.  

“Capaian fiskal hingga saat ini, 

Pendapatan perpajakan telah mencapai 

Rp96,96 triliun atau 74 persen dari target, 

Bea Cukai mencatatkan realisasi Rp107 

triliun atau 71 persen, dan Penerimaan 

Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp6,9 triliun, 

yang telah melampaui target. Dari 

sisi belanja, penyerapan anggaran di 

Kementerian/Lembaga telah mencapai 

Rp40,33 triliun atau sekitar 72,46 persen, 

sementara Transfer ke Daerah (TKD) 

telah terserap Rp70,79 triliun atau 87,4 

persen,” jelas Dirjen Perbendaharaan. 

Lebih lanjut, Kepala Perwakilan 

Kemenkeu Satu Jawa Timur yang 

juga Kepala Kanwil DJP Jawa Timur I 

Sigit Danang Joyo juga menjelaskan 

terkait kontribusi signifikan dari dana 

transfer untuk mendukung berbagai 

program strategis. Kemenkeu 

mencatat realisasi belanja infrastruktur 

yang mendukung pembangunan 

konektivitas jalan, jembatan, irigasi, 

dan proyek strategis nasional seperti 

Bendungan Bagong serta Jalur Ganda 

Kereta Api Madiun-Surabaya. 

Dalam sesi diskusi, berbagai 

pandangan dan masukan disampaikan 

oleh anggota DPR RI, perwakilan 

pemerintah daerah, dan pejabat 

lainnya. Anggota Banggar DPR RI 

Charles Meikyansah menggarisbawahi 

pentingnya peran UMKM dalam 

mendukung perekonomian daerah. 

Pihaknya berharap pemerintah daerah, 

Bank Indonesia, dan Kementerian 

Keuangan dapat bersinergi dalam 

mendorong pertumbuhan sektor ini. 

Sementara itu, anggota Banggar 

Ratna Juwita menyoroti tantangan dalam 

optimalisasi Dana Bagi Hasil Cukai 

Hasil Tembakau (DBH CHT). Beberapa 

perwakilan pemerintah daerah, 

seperti Penjabat Bupati Bangkalan 

dan Sekretaris Daerah Kabupaten 

Ngawi juga turut menyampaikan 

persoalan alokasi Dana Alokasi 

Khusus (DAK) Fisik dan ketimpangan 

alokasi DBH antarkabupaten. 

Forum ditutup dengan komitmen 

untuk menindaklanjuti berbagai 

masukan yang disampaikan oleh 

pemerintah daerah dan pemangku 

kepentingan lainnya, guna memastikan 

solusi konkret terhadap tantangan 

79

ekonomi dan fiskal di Jawa Timur. Ketua 

Tim Kunjungan Kerja Wihadi Wiyanto 

meminta pihak Kementerian Keuangan, 

Pemerintah Provinsi, dan Bank 

Indonesia untuk memberikan jawaban 

tertulis atas berbagai pertanyaan 

yang diajukan selama diskusi. 

Kunjungan kerja ini diharapkan 

dapat menjadi langkah konkret untuk 

memperkuat sinergi antara pemerintah 

pusat, daerah, dan legislatif. Dengan 

dukungan kebijakan yang tepat, 

Provinsi Jawa Timur diharapkan mampu 

mengatasi tantangan fiskal sekaligus 

mendorong pertumbuhan ekonomi 

yang lebih inklusif di masa mendatang. 

2024 | DESEMBER

80

Agenda SDGs ini 

dicanangkan dan 

tDirektorat Jenderal 

Perbendaharaan (DJPb) 

kembali menegaskan komitmen dalam 

memperkuat Regional Chief Economist 

(RCE) melalui kegiatan Rapat Konsolidasi 

Tim Implementasi Penguatan RCE 

Tingkat Pusat yang digelar pada 

Kamis (05/12) di Aula Gedung Jusuf 

Anwar, Jakarta. Rapat yang dipimpin 

langsung oleh Direktur Jenderal (Dirjen) 

Perbendaharaan Astera Primanto 

Bhakti selaku Ketua Tim Penguatan 

(TP) RCE ini diikuti oleh anggota tim 

implementasi RCE dari berbagai unit 

eselon (UE) I lingkup Kementerian 

Keuangan yaitu para pejabat dan 

pegawai dari DJPb, Direktorat Jenderal 

Anggaran (DJA), Inspektorat Jenderal 

(Itjen), Sekretariat Jenderal (Setjen), 

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 

(DJKN), Badan Pendidikan dan Pelatihan 

Keuangan (BPPK), Direktorat Jenderal 

Perimbangan Keuangan (DJPK), 

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 

(DJBC), Direktorat Jenderal Pajak 

(DJP), Direktorat Jenderal Pengelolaan 

Pembiayaan Dan Risiko (DJPPR) dan 

Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Turut 

juga hadir Badan Pengelolaan Dana 

Lingkungan Hidup (BPDLH) dan 

Pusat Investasi Pemerintah (PIP).  

Dalam arahannya, Dirjen 

Perbendaharaan menekankan 

pentingnya peran RCE dalam 

mendukung pengambilan keputusan 

Momentum Konsolidasi 

Tim Implementasi 

Penguatan RCE Tingkat 

Pusat   

81

kebijakan fiskal di tingkat daerah. Dirjen 

Perbendaharaan juga menyampaikan 

harapan agar RCE tidak hanya menjadi 

forum untuk menghasilkan laporan, 

tetapi juga sebagai wadah untuk 

merumuskan kebijakan dan kegiatan 

yang lebih konkret dan bermanfaat 

bagi daerah dengan melibatkan 

seluruh UE I Kemenkeu di daerah. 

Peran RCE mulai dijalankan 

pada tahun 2021 oleh seluruh Kantor 

Wilayah (Kanwil) DJPb bersama Kanwil 

UE I Kemenkeu lainnya. Peran RCE 

dijalankan sebagai respons dari arahan 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati 

agar DJPb terus bertransformasi 

ke arah treasury business yang 

lebih mengoptimalkan data dalam 

merumuskan policy recommendation. 

Melalui RCE, peran unit vertikal 

Kemenkeu di daerah didorong untuk 

mendukung perekonomian regional 

melalui analisis dan komunikasi 

dengan pemerintah daerah. 

Program RCE telah menghasilkan 

berbagai output strategis yaitu Kajian 

Fiskal Regional (KFR), Laporan Asset 

Liability Committee (ALCo) Regional, 

Forum Koordinasi Pengelolaan 

Keuangan Negara (FKPKN), 

dan Strategic Briefsheet. “RCE bukan 

hanya milik DJPb, melainkan milik 

kita semua yang harus kita jaga dan 

rawat bersama. Laporan RCE saat ini 

seringkali hanya berisi data yang sama 

dengan laporan BKF dan DJPK. Padahal, 

RCE seharusnya dapat memberikan 

analisis yang lebih mendalam tentang 

kondisi ekonomi daerah dan langkah-

langkah strategis yang perlu diambil,” 

ujar Dirjen Perbendaharaan.  

Dirjen Perbendaharaan 

menambahkan bahwa perkembangan 

RCE saat ini sudah sangat baik, 

tetapi masih ada beberapa aspek 

yang perlu ditingkatkan. Salah satu 

tantangan yang dihadapi adalah 

kurangnya sinergi antara berbagai 

pihak terkait dalam pelaksanaan RCE. 

Untuk mengatasi hal ini, perlu 

dilakukan monitoring yang lebih ketat 

terhadap pelaksanaan RCE di daerah. 

Selain itu, laporan RCE perlu diperkaya 

dengan informasi yang lebih spesifik 

dan relevan dengan kebutuhan 

daerah. Salah satu hal yang perlu 

diperhatikan adalah kebutuhan daerah 

akan pengetahuan tentang tata kelola 

2024 | DESEMBER

82

birokrasi pemerintahan yang efektif. 

RCE dapat menjadi wadah untuk berbagi 

pengetahuan dan pengalaman terkait 

tata kelola pemerintahan yang baik 

antara pemerintah pusat dan daerah. 

Dirjen Perbendaharaan pun 

menekankan pentingnya peran RCE 

dalam mendukung implementasi 

kebijakan pemerintah pusat di daerah, 

terutama di masa pemerintahan 

baru ini. RCE dapat lebih proaktif 

dalam mengartikulasikan berbagai 

kebijakan dan membantu 

memastikan kebijakan tersebut 

dapat dilaksanakan dengan baik. 

Dalam kegiatan ini hadir Sekretaris 

Direktorat Jenderal Perbendaharaan 

Arif Wibawa, Direktur Pelaksanaan 

Anggaran Tri Budhianto selaku 

Koordinator KFR, Direktur Pengelolaan 

Kas Negara Muhdi selaku Koordinator 

ALCo Regional, Direktur Sistem 

Perbendaharaan Sulaimansyah 

selaku Koordinator FKPKN, serta 

para pejabat eselon II Kemenkeu.

83

Dalam menghadapi dinamika 

dan ketidakpastian 

global, APBN berperan 

krusial sebagai shock 

absorber guna melindungi rakyat 

dan menstabilkan ekonomi. Untuk 

memenuhi kebutuhan ini, pemerintah 

menerapkan kebijakan ekspansif 

yang menimbulkan konsekuensi 

defisit fiskal. Defisit tersebut sebagian 

dipenuhi melalui utang, yang dikelola 

secara hati-hati untuk menjaga rasio 

utang tetap aman dan prudent sesuai 

ketentuan yang berlaku. Surat Berharga 

Negara (SBN) menjadi instrumen utama 

dalam pembiayaan utang pemerintah, 

menyumbang 88,12 persen  dari total 

outstanding utang pemerintah pusat 

hingga akhir November 2024. 

Di antara berbagai jenis SBN, SBN 

Ritel cukup pesat perkembangannya 

sebagai instrumen yang tak 

hanya berkontribusi mendukung 

pembiayaan APBN, namun juga 

menawarkan peluang investasi bagi 

masyarakat. SBN Ritel merupakan 

instrumen investasi yang diterbitkan 

pemerintah, dan ditawarkan kepada 

individu Warga Negara Indonesia 

(WNI). Dengan karakteristiknya yang 

aman, menguntungkan, dan mudah 

diakses, SBN Ritel memberikan 

kesempatan kepada masyarakat 

luas untuk berkontribusi langsung 

dalam pembangunan negara sembari 

meraih manfaat finansial. Inisiatif ini 

sejalan dengan upaya pemerintah 

untuk meningkatkan literasi dan 

SBN Ritel: Mendukung 

Pembiayaan APBN, 

Mendorong Investasi 

Masyarakat   

2024 | DESEMBER

84

inklusi keuangan, memperluas basis 

investor domestik, serta meningkatkan 

kemandirian pembiayaan nasional.

Sejak pertama kali diluncurkan 

melalui Obligasi Negara Ritel (ORI) 

seri ORI001 pada 2006, SBN Ritel 

telah mengalami pertumbuhan yang 

signifikan. Pemerintah secara konsisten 

menghadirkan inovasi untuk menarik 

lebih banyak investor. Salah satunya 

adalah pengembangan platform 

e-SBN yang memudahkan masyarakat 

untuk membeli SBN Ritel secara 

online, di mana pun dan kapanpun, 

selama masa penawaran. Kehadiran 

e-SBN tidak hanya meningkatkan 

aksesibilitas bagi masyarakat, tetapi 

juga memperkuat transparansi dalam 

proses investasi dengan adanya 

mekanisme first come, first served.

Perkembangan jenis dan fitur 

SBN Ritel juga semakin beragam guna 

memenuhi preferensi dan kebutuhan 

investor. Saat ini, terdapat 5 (lima) jenis 

SBN Ritel, yaitu: Obligasi Negara Ritel 

(ORI), Sukuk Ritel (Sukri), Savings Bond 

Ritel (SBR), Sukuk Tabungan (ST), serta 

Sukuk Wakaf Ritel (SWR) yang berbasis 

investasi sosial. Selain itu, pemerintah 

telah memperkenalkan fitur dual 

tenor sejak 2023, yang memberikan 

fleksibilitas kepada investor untuk 

memilih jangka waktu investasi 

yang sesuai dengan kebutuhan. 

Pemerintah juga memadukan SBN Ritel 

dengan prinsip ESG (Environmental, 

Social,Governance), yaitu Sukuk 

Tabungan bertema Green sejak 

2019 (ST006), dan Obligasi Negara 

Ritel bertema SDGs pada 2024 

(ORI026). Langkah ini menegaskan 

komitmen Pemerintah Indonesia 

terhadap tujuan pembangunan 

berkelanjutan, termasuk upaya 

penanganan dampak perubahan iklim.

Selama tahun 2024, pemerintah 

telah menerbitkan 7 (tujuh) seri SBN 

Ritel dengan total Rp148,36 triliun dan 

menjangkau 444.210 investor, yaitu 

seri ORI025, SR020, ST012, SBR013, 

SR021, ORI026, dan ST013. Selain 

itu, pemerintah juga menerbitkan 

Sukuk Wakaf Ritel seri SWR005 

dengan total Rp147,37 miliar dari 619 

wakif, baik individu maupun institusi. 

Dengan capaian tersebut, SBN Ritel 

menunjukkan tren pertumbuhan, baik 

pada nominal yang diterbitkan dan 

jumlah investor yang berpartisipasi. 

Peningkatan ini menunjukkan 

kepercayaan masyarakat yang semakin 

tinggi terhadap SBN Ritel sebagai 

instrumen investasi yang aman, 

menguntungkan, dan mudah diakses.

Dalam Triliun Rupiah  

Perkembangan SBN Ritel  

Orang

SUN SBSN Investor *data sementara 

85

Ke depan, peran SBN Ritel sebagai 

alat pembiayaan APBN dan instrumen 

investasi akan terus ditingkatkan seiring 

upaya literasi dan inklusi keuangan 

masyarakat. Pemerintah akan terus 

melakukan campaign edukasi dan 

sosialisasi untuk mendorong masyarakat 

lebih melek investasi. Dengan partisipasi 

masyarakat yang lebih luas melalui SBN 

Ritel, pemerintah berharap tercipta 

sebuah investment society yang mampu 

mendukung pembiayaan APBN secara 

lebih berkelanjutan, stabil, dan inklusif.

2024 | DESEMBER

86

Bea Cukai, bersama 

Polri, BNN, dan BPOM, 

melaksanakan operasi 

Patroli Bersama Berantas 

Sindikat Narkotika (Patma Bersinar) 

2024. Berlangsung dari 30 September 

hingga 30 Oktober 2024, operasi ini 

melibatkan seluruh unit vertikal Bea 

Cukai di tingkat nasional. Hasilnya, 

117 penindakan berhasil dilakukan 

dengan total barang bukti mencapai 

913,355 kilogram berupa narkotika, 

psikotropika, prekursor (NPP), dan 

obat-obatan terlarang (OOT). 

Capaian ini mencatat hasil 

tertinggi dalam empat tahun terakhir, 

menunjukkan peningkatan signifikan 

dibandingkan 2023 yang mencatatkan 

64 kasus dengan total barang bukti 

772,35 kilogram. Pencapaian tersebut 

mencerminkan efektivitas operasi serta 

peningkatan intensitas pengawasan 

terhadap sindikat narkotika. 

Barang bukti yang diamankan 

mencakup berbagai jenis, dengan 

ganja mendominasi sebanyak 

693.920,73 gram. Selain itu, ditemukan 

methamphetamine seberat 99.746,93 

gram dan MDMA seberat 3.078 gram. 

Dari segi wilayah, Riau mencatatkan 

penindakan terbesar dengan total 

632.596 gram, diikuti oleh Jakarta 

sebanyak 105.617 gram dan Sumatra 

Utara dengan 43.775 gram. 

Patma Bersinar 2024, 

Operasi Bea Cukai 

Ungkap Lebih dari 900 

Kilogram Narkotika    

87

Keberhasilan Patma Bersinar 

2024 dinilai sebagai bukti komitmen 

kuat Bea Cukai dan instansi terkait 

dalam mendukung Asta Cita ke-7 

yang dicanangkan Presiden RI, yaitu 

memperkuat reformasi politik, hukum, 

birokrasi, serta pemberantasan 

korupsi dan narkoba. Program ini juga 

diharapkan memberikan deterrent 

effect bagi sindikat narkotika. 

Selain efektivitas operasi, Patma 

Bersinar 2024 memperkuat sinergi 

antarinstansi demi menjaga keamanan 

masyarakat dari ancaman narkotika. 

Operasi ini diperkirakan menyelamatkan 

1.068.052 jiwa, menjadi wujud nyata 

perlindungan terhadap generasi muda 

dari bahaya obat-obatan terlarang. 

Dengan keberhasilan ini, Bea 

Cukai menegaskan komitmennya 

untuk terus meningkatkan kualitas 

patroli bersama dan memastikan 

keamanan nasional dari peredaran 

narkotika di masa mendatang.  

2024 | DESEMBER

88

Selaras dengan semangat 

Asta Cita dan fungsi 

Desk Pencegahan 

dan Pemberantasan 

Penyelundupan, Bea Cukai terus 

berpartisipasi dalam dua operasi 

tahunan berskala internasional, Operasi 

Thunder dan Demeter, sebagai 

upaya melindungi lingkungan dan 

keanekaragaman hayati. Operasi ini 

melibatkan kerja sama dengan lembaga 

internasional seperti World Customs 

Organization (WCO) dan Interpol. 

Operasi Thunder, yang dimulai sejak 

2017, berfokus pada pemberantasan 

perdagangan ilegal tumbuhan, 

satwa liar, dan kayu, terutama 

spesies yang dilindungi sesuai CITES. 

Sementara itu, Operasi Demeter yang 

pertama kali diselenggarakan pada 

2009, menargetkan pengawasan 

perdagangan lintas batas limbah 

berbahaya, bahan perusak ozon, serta 

komoditas lain yang menyebabkan 

kerusakan lingkungan. 

Operasi Thunder dibagi dalam 

tiga fase pada tahun 2024 dan awal 

2025: praoperasional (1 September – 10 

November), operasional (11 November 

– 6 Desember), dan pascaoperasional 

(7 Desember 2024 – 15 Januari 2025). 

Operasi Demeter berlangsung lebih 

awal, dengan fase praoperasional dari 

1 Mei hingga 14 Juli, fase operasional 

pada 15 Juli hingga 15 September, 

dan fase pascaoperasional dari 16 

Bea Cukai: Operasi 

Thunder dan Demeter 

2024 untuk Lindungi 

Lingkungan dan 

Keanekaragaman Hayati 

Indonesia     

89

September hingga 15 November. 

Melihat hasil operasi sebelumya, 

pada 2023, Bea Cukai mencatat 

keberhasilan signifikan dalam kedua 

operasi. Dalam Operasi Thunder, Bea 

Cukai menindak 372 ton kayu ilegal, 

5 ton rotan, 5 ekor kakatua jambul 

kuning, 53 kg sisik trenggiling, 330 kg 

teripang laut, serta 4 gading gajah Afrika. 

Sementara dalam Operasi Demeter, 

penindakan dilakukan terhadap 930 

bale pakaian bekas kategori limbah B3 

dan 300 boks bahan perusak ozon. 

Melalui partisipasi dalam kedua 

operasi ini, Bea Cukai menegaskan 

komitmennya sebagai community 

protector, mendukung upaya global 

melawan kejahatan lingkungan. 

Masyarakat juga diimbau untuk 

turut berperan dengan tidak 

memperjualbelikan produk satwa liar 

yang dilindungi, melaporkan aktivitas 

ilegal yang merusak lingkungan, 

dan meningkatkan kesadaran akan 

pentingnya keanekaragaman hayati. 

Dengan sinergi ini, kekayaan alam 

Indonesia dan dunia dapat terus terjaga. 

2024 | DESEMBER

90

Kementerian Keuangan 

kembali memberikan 

penghargaan Anugerah 

Reksa Bandha kepada 

Kementerian dan Lembaga Negara 

(K/L) dan stakeholders berprestasi di 

bidang pengelolaan barang milik negara 

(BMN) dan lelang, pada Kamis (5/12) di 

Aula Dhanapala Kementerian Keuangan. 

Anugerah Reksa Bandha 2024 terdiri 

atas 4 kategori penghargaan di bidang 

pengelolaan Barang Milik Negara 

(BMN) dan 4 kategori di bidang lelang. 

Penghargaan ini merupakan bentuk 

apresiasi dari Kementerian Keuangan 

(Kemenkeu) atas kualitas kinerja 

dan koordinasi yang baik antara K/L 

dan para stakeholders Kemenkeu 

terhadap pengelolaan BMN dan 

pelayanan lelang di 2023-2024.

Acara Anugerah Reksa Bandha 

2024 diselenggarakan berlandaskan 

semangat untuk meningkatkan kualitas 

pengelolaan BMN pada kementerian/

lembaga yang telah melakukan kinerja 

pengelolaan BMN terbaik sesuai 

kategori dan kelompok tertentu. 

Selain itu, acara ini juga dimaksudkan 

untuk untuk meningkatkan kualitas 

kinerja lelang yang efisien, transparan, 

akuntabel, adil, dan kompetitif pada 

pemangku kepentingan jasa lelang yang 

telah melakukan kinerja lelang terbaik.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil 

Nazara menyampaikan selamat dan 

apresiasinya kepada para penerima 

Anugerah Reksa Bandha, 

Apresiasi Kemenkeu 

kepada Stakeholders 

Berprestasi     

penghargaan Anugerah Reksa Bandha 

2024 dan seluruh pengguna BMN 

dan pelaku lelang di Indonesia. “Saya 

menyampaikan terima kasih kepada 

kepada seluruh pengguna Barang 

Milik Negara, seluruh pelaku lelang di 

Indonesia yang telah meneruskan dan 

menjaga integritas”, ungkapnya.

Suahasil mengatakan, acara 

penganugerahan ini merupakan 

manifestasi dari pelaksanaan mandat 

sebagai pengelola dan pengguna 

BMN. Dengan mandat tersebut, 

pengelola dan pengguna BMN 

bertanggung jawab memakai  

BMN untuk menyelenggarakan 

pelayanan publik untuk meningkatkan 

kesejahteraan masyarakat.

Kementerian Keuangan terus 

untuk melakukan perbaikan dalam 

pengelolaan BMN. Komitmen 

untuk melakukan penyempurnaan 

pelayanan kepada para stakeholder 

dilakukan, salah satunya dengan 

memanfaatkan teknologi. Untuk 

mewujudkan Transformasi Digital 

dalam pemerintahan, Kementerian 

Pendayagunaan Aparatur Negara 

dan Reformasi Birokrasi (PANRB) 

menetapkan SIMAN V2 sebagai 

Aplikasi Umum SPBE bidang 

Pengelolaan Kekayaan Negara melalui 

KepmenPANRB Nomor 487/2024. 

Dengan terbitnya KepmenPANRB ini 

diharapkan seluruh proses pengelolaan 

BMN dapat berjalan secara lebih 

terintegrasi, cepat, dan tanpa hambatan.

Elemen lain dari Anugerah 

Reksa Bandha adalah lelang. Selain 

sebagai bagian dari pengelolaan 

aset negara, lelang juga memiliki 

peran dalam meningkatkan investasi, 

mendukung kegiatan penegakan 

hukum, dan membantu penyelesaian 

non-performing loan di berbagai 

macam institusi keuangan.

Kementerian Keuangan melalui 

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 

(DJKN) terus melakukan tranformasi 

pelayanan lelang melalui aplikasi 

Portal Lelang Indonesia (lelang.go.id.) 

dan mendorong peran swasta dalam 

pelayanan lelang sehingga dapat 

terus mendukung perekonomian 

nasional. Portal Lelang Indonesia 

yang juga biasa disebut e-Auction 

di 2024 mendapatkan penghargaan 

dari KemenPANRB sebagai Top 

Inovasi Pelayanan Publik Kelompok 

Berkelanjutan 2024. Penghargaan 

ini diberikan sebagai pengakuan 

terhadap inovasi e-Auction untuk 

meningkatkan pelaksanaan lelang 

yang efisien, kompetitif, dan adil.

Adapun penerima penghargaan 

Anugerah Reksa Bandha 2024, 

adalah sebagai berikut:

A.   Bidang Pengelolaan Barang 

Milik Negara (BMN)

1.    Kategori Utilisasi BMN

Kelompok 1

Juara 1: Mahkamah Konstitusi Republik 

Indonesia

Juara 2: Dewan Perwakilan Rakyat 

Republik Indonesia

Juara 3: Kementerian Badan Usaha Milik 

Negara

Kelompok 2

Juara 1: Badan Koordinasi 

Penanaman Modal

Juara 2: Badan Pengawasan 

Keuangan dan Pembangunan

Juara 3: Badan Kependudukan dan 

Keluarga Berencana Nasional

Kelompok 3

Juara 1: Kementerian Keuangan

Juara 2: Badan Pusat Statistik

Juara 3: Badan Meteorologi, 

Klimatologi, dan Geofisika

 2.    Kategori Kualitas Pelaporan BMN

Kelompok 1

Juara 1: Majelis Permusyawaratan Rakyat 

Republik Indonesia

Juara 2: Kementerian Badan Usaha Milik 

Negara

Juara 3: Badan Nasional Pengelola 

Perbatasan

Kelompok 2

Juara 1: Kementerian Pariwisata dan 

Ekonomi Kreatif

Juara 2: Kementerian Koperasi dan 

Usaha Kecil dan Menengah

Juara 3: Kementerian Perencanaan 

Pembangunan Nasional/Bappenas

Kelompok 3

Juara 1: Komisi Pemilihan Umum

Juara 2: Mahkamah Agung Republik 

Indonesia

Juara 3: Badan Narkotika Nasional

 3.    Kategori Sertipikasi BMN

Kelompok 1

Juara 1: Badan Pengusahaan Kawasan 

Perdagangan Bebas dan Pelabuhan 

Bebas Sabang

Juara 2: Ombudsman Republik Indonesia

Juara 3: Badan Informasi Geospasial

Kelompok 2

Juara 1: Kementerian Sekretariat Negara

93

Juara 2: Badan Nasional Pencarian dan 

Pertolongan

Juara 3: Badan Kepegawaian Negara

Kelompok 3

Juara 1: Kementerian Pekerjaan Umum 

dan Perumahan Rakyat

Juara 2: Kementerian Perhubungan

Juara 3: Kementerian Agama

 4.    Kategori Peningkatan Tata 

Kelola Berkelanjutan (Continuous 

Improvement)

Juara 1: Kementerian Pendidikan, 

Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Juara 2: Kementerian Kelautan dan 

Perikanan

Juara 3: Kepolisian Negara Republik 

Indonesia

B.   Bidang Lelang

1.    Penjual Lelang Eksekusi Terbaik

Kelompok 1

Juara 1: PT Bank Rakyat Indonesia 

(Persero), Tbk

Juara 2: PT Bank Mandiri (Persero), Tbk

Juara 3: PT Bank Negara Indonesia 

(Persero), Tbk

Kelompok 2

Juara 1: Kejaksaan Agung Republik 

Indonesia

Juara 2: PT Bank Central Asia, Tbk

Juara 3: PT Bank Syariah Indonesia, Tbk

2.    Penjual Lelang Noneksekusi Terbaik

Kelompok 1

Juara 1: Kementerian Keuangan

Juara 2: Kepolisian Republik Indonesia

Juara 3: Kementerian Agama

Kelompok 2

Juara 1: Kementerian Energi dan Sumber 

Daya Mineral

Juara 2: Komisi Pemilihan Umum

Juara 3: Kementerian Dalam Negeri

3. Balai Lelang dengan Tata Kelola 

Terbaik

Juara 1: PT Balai Lelang Serasi

Juara 2: PT Mega Armada Sudeco

Juara 3: PT Balai Lelang Megatama

4. Pejabat Lelang Kelas II Berkinerja 

Terbaik

Juara 1: Cari Azhari, S.H.

Juara 2: Ir. Chitra W. Mukhsin

Juara 3: Dr. H. Dhody Ananta Rivandi 

Widjajaatmadja, S.H.

 

2024 | DESEMBER

94

Sejak Januari 2025, sistem 

perpajakan Indonesia 

akan memakai  sistem 

Coretax yang menawarkan 

berbagai kemudahan bagi wajib pajak. 

Saat ini, wajib pajak memakai  

beberapa aplikasi untuk menunaikan 

hak dan kewajiban perpajakannya. 

Melalui sistem Coretax, wajib pajak 

cukup mengakses Portal Wajib Pajak.

Sistem Coretax dirancang untuk 

menyatukan semua proses bisnis 

perpajakan dalam satu aplikasi berbasis 

website, mulai dari pendaftaran wajib 

pajak, pelaporan Surat Pemberitahuan 

(SPT), pembayaran pajak, pengawasan, 

pemeriksaan, dan penagihan pajak. 

Dengan integrasi tersebut, data 

perpajakan akan terpusat, sehingga 

akan meningkatkan akurasi data serta 

efisiensi administrasi perpajakan.

Melalui menu Notifikasi pada 

Portal Wajib Pajak, wajib pajak dapat 

memantau status perpajakannya, 

riwayat pembayaran, serta data 

interaksinya dengan DJP secara real-

time. Sistem Coretax memberikan 

akses data perpajakan yang lebih 

transparan kepada wajib pajak.

Selain itu, Coretax juga 

mempermudah proses pembayaran 

pajak dan pelaporan SPT. Dalam proses 

pelaporan SPT berstatus Kurang Bayar, 

Coretax merekonsiliasi dan melakukan 

validasi data SPT Kurang Bayar dengan 

Menyongsong Era 

Baru Sistem Coretax di 

Indonesia   


data pembayaran secara otomatis. 

Saat data NTPN dari Direktorat Jenderal 

Perbendaharaan diterima, status 

draft SPT Kurang Bayar akan berubah 

menjadi submit (dilaporkan). Wajib 

pajak maupun petugas tidak perlu lagi 

memasukkan data NTPN atau bukti 

PBK secara manual. Otomatisasi ini 

mengurangi pekerjaan manual, baik 

di sisi petugas pajak maupun wajib 

pajak, sehingga dapat mengurangi 

potensi terjadinya kesalahan.

Sistem Coretax juga 

memperkenalkan akun Deposit 

Pajak yang dapat digunakan untuk 

melunasi berbagai kewajiban terkait 

pembayaran pajak, seperti pembayaran 

untuk draft SPT, utang pajak, atau 

kewajiban pembayaran di luar SPT.

Sebagai dasar hukum yang 

mengatur secara teknis tentang 

pelaksanaan Coretax, pemerintah 

telah menerbitkan.  Peraturan Menteri 

Keuangan (PMK) Nomor 81/2024 tentang 

Ketentuan Perpajakan dalam Rangka 

Pelaksanaan Sistem Inti Administrasi 

Perpajakan. Peraturan ini merupakan 

aturan turunan dari Perpres Nomor 40/ 

2018. Untuk penjelasan lebih rinci terkait 

ketentuan dalam PMK-81/PMK.03/2024, 

akan diterbitkan Peraturan Dirjen Pajak.

Proses Pendaftaran Akun Portal Wajib 

Pajak

Untuk dapat mengakses 

Portal Wajib Pajak, wajib pajak 

yang sebelumnya telah terdaftar 

dalam sistem DJP Online tidak perlu 

mendaftar ulang. Data wajib pajak 

dari sistem sebelum Coretax telah 

dimigrasikan ke sistem Coretax. 

Untuk mengakses Portal Wajib Pajak, 

wajib pajak yang sebelumnya telah 

terdaftar dalam sistem DJP Online 

harus melakukan reset password.

Setelah melakukan reset 

password, notifikasi akan dikirim 

secara otomatis ke alamat email yang 

terdaftar di DJP Online, pada menu 

Profil. Wajib pajak harus memastikan 

data alamat email pada menu Profil 

DJP Online saat ini sudah sesuai dan 

valid, untuk mencegah kendala dalam 

proses transisi ke sistem Coretax.

Perlu menjadi catatan bahwa proses 

reset password ini hanya berlaku bagi 

wajib pajak yang sudah memiliki akun 

DJP Online. Bila wajib pajak lama belum 

pernah aktivasi EFIN, atau sudah pernah 

aktivasi EFIN tetapi tidak melakukan 

registrasi akun DJP Online, maka wajib 

pajak tersebut harus memilih menu 

“Permintaan Akses Digital” pada 

halaman muka Portal Wajib Pajak.

Seorang wanita kawin yang 

kewajiban pajaknya digabung 

dengan suami dapat memiliki Akun 

Coretax dengan NIK-nya sendiri 

tanpa perlu mengubah NIK-nya 

sebagai NPWP. Ini berarti, istri 

tersebut tidak perlu memakai  

NIK suami untuk login ke Portal Wajib 

Pajak dan dapat memakai  

NIK-nya untuk menandatangani 

faktur, bukti potong, bukti pungut, 

atau SPT, terkait jabatannya.

Agar dapat mengakses Portal Wajib 

Pajak, wanita kawin yang kewajiban 

pajaknya digabung dengan suami 

tersebut dapat memakai  dua 

cara. Pertama, memakai  fitur 

“Daftar di sini” untuk mengakses menu 

Pendaftaran. Selanjutnya akan terdapat 

pilihan “Registration Only”/”Hanya 

Registrasi” dan bukan Aktivasi NIK, 

yakni membuat akun Portal Wajib Pajak 

tanpa menjadikan NIK sebagai NPWP. 

Pilihan ini digunakan bila NIK istri belum 

didaftarkan di menu Family Tax Unit 

(FTU) akun Portal Wajib Pajak suami. 

Cara kedua adalah memakai  

fitur “Permintaan Akses Digital”. 

Cara ini digunakan bila istri telah 

didaftarkan di menu Family Tax Unit 

(FTU) akun Portal Wajib Pajak suami.


Selama masa transisi ke sistem 

Coretax, sistem DJP Online masih dapat 

digunakan dalam pemenuhan hak dan 

kewajiban perpajakan pajak untuk tahun 

pajak 2024 dan tahun pajak sebelumnya, 

termasuk untuk pelaporan SPT Tahunan 

2024. Sehingga, untuk pelaporan SPT 

Masa Januari 2025 wajib pajak telah 

memakai  sistem Coretax.

Mengingat pentingnya akses Portal 

Wajib Pajak ketika sistem Coretax 

secara resmi digunakan, wajib pajak 

perlu memadankan NIK-NPWP atau 

memperoleh NPWP dengan format 16 

digit. Sebab, sistem Coretax sudah tidak 

mengenal NPWP 15 digit. Selanjutnya, 

wajib pajak harus memastikan data-

data pada menu Profil DJP Online telah 

lengkap, terkini, dan valid. Data yang 

diperlukan antara lain: identitas utama, 

nomor ponsel kontak wajib pajak, alamat 

email, identitas penanggung jawab (PIC 

Utama) berupa email dan nomor ponsel 

aktif, data wajib pajak Cabang (Tempat 

Kegiatan Usaha/TKU), serta data 

dokumen pendirian wajib pajak badan.

jika  terdapat data yang 

tidak sesuai, wajib pajak diharapkan 

segera melakukan perubahan data. 

Wajib pajak dapat secara mandiri 

mengubah data email dan nomor HP 

di menu Profil DJP Online. Selain itu, 

wajib pajak juga dapat melakukan 

permohonan perubahan data ke kantor 

pajak terdaftar atau melalui telepon 

Kring Pajak 1500200, serta fitur Live