APBN 1

Kamis, 04 Juni 2026

APBN 1


 



Glossarium

Alutsista : Alat Utama Sistem 

Persenjataan  

Almatsus : Alat Material Khusus

AP : Administered Price

APBN : Anggaran dan Pendapatan 

dan Belanja Negara

AS : Amerika Serikat

ASEAN : The Association of 

Southeast Asian Nations

ASN : Aparatur Sipil Negara

Bansos : Bantuan Sosial

Bapanas : Badan Pangan Nasional

BBM : Bahan Bakar Minyak

BI : Bank Indonesia

BK : Bea Keluar

BLT : Bantuan Langsung Tunai

BLU : Badan Layanan Umum

BM : Bea Masuk

BMN : Barang Milik Negara

BPJS : Badan Penyelenggaraan 

Jaminan Sosial

BPS : Badan Pusat Statistik

bps : basis points

BUK : Bank Umum Konvensional

BUS : Bank Umum Syariah

BUMN : Badan Usaha Milik Negara

CAR : Capital Adequacy Ratio

CDS : Credit Default Swap

CHT : Cukai Hasil Tembakau

IPM : Indeks Pembangunan 

Manusia 

ICP : Indonesia Crude Price

JKN : Jaminan Kesehatan 

Nasional

K/L : Kementerian/Lembaga

KI : Kredit Investasi

KIP : Kartu Indonesia Pintar

KI : Kredit Konsumsi

KKB : Kredit Kendaraan Bermotor

KLCI : Kuala Lumpur Composite 

Indeks

KMK : Kredit Modal Kerja

KND : Kekayaan Negara 

Dipisahkan

KPM : Keluarga Penerima Manfaat

KPR : Kredit Pemilikan Rumah

KUR : Kredit Usaha Rakyat

LMAN : Lembaga Manajemen Aset 

Negara

LNPRT : Lembaga Nonprofit yang 

Melayani Rumah Tangga

LPG : Liquefied Petroleum Gas

MBR : Masyarakat Berpenghasilan 

Rendah

Migas : Minyak dan Gas Bumi

mtm : Month to Month

MTN : Medium Term Note

NDA : Net Domestic Asset

NFA : Net Foreign  Asset

NFB : Net Foreign  Buy

NIM : Net Interest Margin

NPI : Neraca Pembayaran 

Indonesia

NPL : Non-performing Loan


Perkembangan aktivitas 

manufaktur global di 

November 2024 meningkat 

yang digambarkan oleh 

purchasing managers’ 

index (PMI) manufaktur 

pada level 50, lebih tinggi 

dari level sebelumnya 49,4.

Ketidakpastian prospek 

ekonomi dan perdagangan 

global cenderung 

meningkat. Perubahan 

pemerintahan di Amerika Serikat 

diperkirakan akan meningkatkan risiko, 

terutama menekan perdagangan 

dan pasar keuangan global. Kondisi 

ekonomi Tiongkok yang masih lemah 

juga menambah tekanan terhadap 

emerging markets. Perkembangan 

aktivitas manufaktur global di November 

2024 meningkat yang digambarkan 

oleh purchasing managers’ index 

(PMI) manufaktur pada level 50, lebih 

tinggi dari level sebelumnya 49,4. 

Perkembangan harga komoditas 

global masih berfluktuasi yang 

didorong oleh eskalasi geopolitik, 

memengaruhi ekspektasi suplai dan 

permintaan, terutama komoditas energi. 

Perekonomian nasional di kuartal IV 

2024 tetap akan tumbuh kuat didukung 

oleh komponen permintaan domestik 

dan peran APBN akan dioptimalkan. 

Pajak 

Hingga akhir November 2024, 

realisasi Pendapatan Negara dan 

Hibah tercatat Rp2.492,70 triliun 

atau telah mencapai 88,95 persen 

dari target pada APBN 20241, yang 

secara nominal lebih tinggi Rp31,71 

triliun atau tumbuh 1,29 persen (yoy). 

Realisasi komponen pendapatan negara 

yang bersumber dari penerimaan 

Perpajakan telah mencapai Rp1.946,68 

triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak 

(PNBP) mencapai Rp522,41 triliun, 

dan realisasi Hibah mencapai Rp23,61 

triliun. Berdasarkan pertumbuhannya, 

realisasi penerimaan Perpajakan telah 

tumbuh 1,66 persen (yoy), sedangkan 

PNBP terkontraksi 4,01 persen (yoy). 

Sementara itu, capaian masing-masing 

komponen pendapatan negara tersebut 

terhadap target, yaitu perpajakan 

84,28 persen dan PNBP 106,18 persen. 

Realisasi penerimaan Perpajakan 

bersumber dari Penerimaan Pajak 

yang tercatat Rp1.688,93 triliun serta 

Kepabeanan dan Cukai Rp257,75 

triliun. Kinerja penerimaan Perpajakan 

yang tumbuh positif tersebut didorong 

oleh kinerja pajak yang telah kembali ke 

zona positif dengan pertumbuhan 1,14 

persen (yoy), serta kinerja Kepabeanan 

dan Cukai yang terus tumbuh 5,20 

persen (yoy). Realisasi penerimaan 

Pajak dan Kepabeanan dan Cukai 

masing-masing telah mencapai 84,92 

persen dan 80,30 persen terhadap 

target. Kinerja perpajakan periode 

ini lebih dipengaruhi oleh faktor 

penurunan restitusi dan kebijakan 

optimalisasi penerimaan, serta kinerja 

cukai dan pajak internasional yang 

terus memberikan kontribusi secara 

positif terhadap kinerja perpajakan.  

Secara nominal, penerimaan 

Pajak terutama berasal dari 

penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) 

Nonmigas Rp885,77 triliun dan Pajak 

Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan 

atas Barang Mewah (PPN/PPnBM) 

Rp707,76 triliun. Kontribusi kedua 

komponen penerimaan Pajak tersebut 

terhadap total penerimaan Pajak 

masing-masing mencapai 52,45 persen 

dan 41,91 persen. Secara lebih detil, 

PPh Nonmigas berdasarkan nominal 

penerimaannya masih ditopang oleh 

tiga komponen terbesar, yaitu PPh Pasal 

25/29 Badan (PPh Badan), PPh Pasal 

21, dan PPh Final, yang berkontribusi 

mencapai 71,94 persen terhadap 

total penerimaan PPh Nonmigas. 

Berdasarkan pertumbuhannya, PPh 

Nonmigas hingga akhir November 2024 

masih terkontraksi tipis 1,96 persen 

(yoy), lebih rendah dari periode bulan 

sebelumnya. Meskipun PPh Nonmigas 

terkontraksi, namun kinerja dua 

komponen utamanya yaitu PPh Pasal 21 

dan PPh Final tumbuh cukup signifikan. 

Pertumbuhan masing-masing tercatat 

21,98 persen (yoy) dan 12,09 persen 

(yoy). Sementara itu, komponen PPh 

Nonmigas dari penerimaan PPh Badan 

kinerjanya masih terkontraksi yang 

tercatat 23,12 persen (yoy). Meskipun 

begitu, kontraksi PPh Badan tersebut 

lebih rendah dibandingkan kontraksi 

pada periode bulan sebelumnya. Kinerja 

PPh Badan tersebut masih menjadi 

faktor utama yang menyebabkan kinerja 

PPh Nonmigas masih terkontraksi. 

Pelambatan kinerja PPh Badan terutama 

disebabkan oleh faktor restitusi sebagai 

dampak moderasi harga komoditas di 

2023, meskipun pertumbuhan restitusi 

menurun secara signifikan di periode 

ini. Namun demikian, kinerja PPh Badan 

terus membaik yang terlihat dari semakin 

kecil kontraksi yang terjadi setiap 

bulan. Di sisi yang lain, peningkatan 

kinerja penerimaan PPh Pasal 21 masih 

dipengaruhi oleh faktor utilisasi dan 

upah tenaga kerja. Sementara kinerja 

1. Persentase terhadap target dan pagu mengacu pada APBN 2024


Hingga akhir 

November 2024, 

capaian penerimaan 

Kepabeanan dan 

Cukai bersumber dari 

penerimaan Cukai 

Rp192,73 triliun, Bea 

Masuk (BM) Rp47,72 

triliun, dan Bea Keluar 

(BK) Rp17,30 triliun.

dari PPh Final masih tumbuh yang 

didukung oleh peningkatan penerimaan 

sejalan dengan kenaikan aktivitas 

transaksi dan ekonomi yang membaik. 

Selain itu, kinerja PPh Nonmigas 

juga didukung oleh penerimaan dari 

mayoritas komponen PPh Nonmigas 

lainnya yang konsisten tumbuh positif, 

seperti PPh Pasal 26, PPh Pasal 22 Impor, 

PPh Pasal 23, PPh Pasal 22, dan PPh 

Pasal 25/29 Orang Pribadi (PPh OP). 

Lebih lanjut, secara nominal, 

realisasi penerimaan Pajak yang 

bersumber dari penerimaan PPN/

PPnBM ditopang utamanya oleh 

penerimaan dari PPN, khususnya PPN 

Dalam Negeri (PPN DN) dan PPN Impor 

dengan kontribusi masing-masing 

sebesar 61,42 persen dan 34,85 

persen terhadap total penerimaan 

PPN/PPnBM. Kinerja penerimaan 

PPN/PPnBM secara kumulatif tumbuh 

menguat 6,11 persen (yoy). Pertumbuhan 

yang baik tersebut didorong oleh 

PPN DN yang tumbuh 6,95 persen 

(yoy) dan PPN Impor yang tumbuh 

6,59 persen (yoy). Kinerja PPN DN 

terutama dipengaruhi oleh peningkatan 

setoran dari sektor perdagangan dan 

industri pengolahan, serta restitusi 

yang mulai menurun. Sementara, PPN 

Impor tumbuh baik secara kumulatif 

didorong oleh transaksi impor sub 

sektor perdagangan besar mesin, 

bahan kimia, dan bahan bakar. 

Hingga akhir November 2024, 

capaian penerimaan Kepabeanan dan 

Cukai bersumber dari penerimaan 

Cukai Rp192,73 triliun, Bea Masuk 

(BM) Rp47,72 triliun, dan Bea Keluar 

(BK) Rp17,30 triliun. Lebih detilnya, 

realisasi penerimaan Kepabeanan 

dan Cukai terutama bersumber 

dari penerimaan Cukai Hasil 

Tembakau (CHT) yang berkontribusi 

mencapai 71,52 persen terhadap 

total penerimaannya. Berdasarkan 

pertumbuhannya, kinerja penerimaan 

Kepabeanan dan Cukai tumbuh di 

semua komponen penerimaannya, 

dimana cukai tumbuh 2,83 persen 

(yoy), sementara kepabeanaan (BM dan 

BK) kinerjanya juga tumbuh masing-

masing 4,02 persen (yoy) dan 47,87 

persen (yoy). Hingga akhir November 

2024, kinerja penerimaan CHT masih 

dipengaruhi terutama oleh kenaikan 

produksi rokok golongan II dan III, 

meskipun produksi golongan I masih 

menurun. Selanjutnya, kinerja BM lebih 

dipengaruhi oleh penguatan nilai tukar 

Dolar AS terhadap Rupiah dan kenaikan 

nilai impor. Di sisi lain, kinerja BK yang 

masih meningkat signifikan didorong 

oleh faktor kebijakan relaksasi ekspor 

mineral tembaga mentah, serta BK 

produk sawit yang meningkat akibat 

peningkatan rata-rata harga CPO. 

2024 | DESEMBER

12

Realisasi Belanja 

Pemerintah Pusat 

tumbuh 18,27 persen 

(yoy) terutama 

dipengaruhi oleh 

peningkatan realisasi 

belanja modal 

yang tumbuh 29,62 

persen (yoy). 

PNBP 

Realisasi PNBP sampai akhir 

November 2024 mencapai Rp522,41 

triliun atau 106,18 persen terhadap 

target. Kinerja PNBP tersebut 

terkontraksi 4,01 persen (yoy) terutama 

disebabkan oleh tekanan pada PNBP 

yang bersumber dari Sumber Daya Alam 

(SDA) dan PNBP lainnya, sedangkan 

PNBP KND dan PNBP BLU meningkat. 

Kinerja Pendapatan SDA mencapai 

Rp211,78 triliun atau 101,98 persen 

dari target. Capaian pendapatan SDA 

tersebut terkontraksi 10,22 persen (yoy) 

yang disebabkan oleh pendapatan 

SDA Migas yang terkontraksi 4,47 

persen (yoy) dengan realisasi Rp104,09 

triliun. Hal ini merupakan dampak 

penurunan lifting migas akibat on 

stream yang tertunda, penyusutan 

produksi alamiah sumur migas yang 

tinggi sejalan dengan fasilitas produksi 

migas utama yang telah menua. Selain 

itu, kinerja pendapatan SDA Nonmigas 

juga terkontraksi 15,16 persen (yoy) 

terutama dipengaruhi oleh dampak 

moderasi harga batubara, meskipun 

volume produksi batubara meningkat.   

Realisasi PNBP yang berasal dari 

KND mencapai Rp86,38 triliun atau 

100,62 persen dari target. Kinerja 

PNBP KND tersebut tumbuh 5,93 

persen (yoy) terutama berasal dari 

pembayaran deviden perbankan 

atas peningkatan kinerja keuangan 

khususnya dari Bank Himbara.  

Realisasi PNBP yang berasal dari 

pendapatan BLU mencapai Rp88,78 

triliun atau tumbuh 10,84 persen 

(yoy). Pertumbuhan kinerja PNBP BLU 

tersebut terutama disebabkan oleh 

peningkatan pendapatan BLU yang 

disumbang dari jasa pelayanan Rumah 

Sakit, Pendapatan Jasa Pelayanan 

Pendidikan, Pendapatan Pengelolaan 

Dana BLU serta Pendapatan Jasa 

Layanan Perbankan BLU.  

Sementara itu, PNBP Lainnya 

terealisasi Rp135,46 triliun atau 

terkontraksi 7,67 persen (yoy). 

Capaian kinerja PNBP Lainnya tersebut  

disebabkan oleh PNBP PHT yang 

terkontraksi 22,01 persen (yoy) sebab  

dampak moderasi harga batubara. 

Selain itu, pelambatan juga berasal 

dari PNBP K/L yang terkontraksi 3,11 

persen (yoy) terutama disebabkan 

pendapatan nonlayanan yang sifatnya 

tidak berulang pada Kejaksaan, 

Kementerian Kesehatan, dan 

Kementerian Komunikasi dan Informasi. 

Belanja Negara 

Realisasi Belanja Negara sampai 

dengan akhir November 2024 

mencapai Rp2.894,47 triliun, 87,05 

persen terhadap pagu atau tumbuh 

15,29 persen (yoy). Realisasi belanja 

tersebut terdiri atas Belanja Pusat 

Rp2.098,65 triliun dan TKD Rp795,82 

triliun. Realisasi Belanja Pemerintah 

Pusat tumbuh 18,27 persen (yoy) 

terutama dipengaruhi oleh peningkatan 

13

jika  dilihat dari 

tahun ke tahun, baik 

subsidi BBM dan LPG 3 

kg serta subsidi listrik 

tercatat tumbuh. Pada 

periode November ini, 

subsidi BBM dan LPG 

3 Kg tumbuh 18,90 

persen (yoy) sedangkan 

subsidi listrik tumbuh 

14,26 persen (yoy).

realisasi belanja modal yang tumbuh 

29,62 persen (yoy) antara lain sebab  

peningkatan belanja infrastruktur dan 

pengadaan alat utama sistem senjata. 

Selain itu, realisasi belanja barang 

tumbuh 23,12 persen (yoy) antara lain 

untuk pemantapan ketersediaan, 

stabilisasi pasokan dan harga pangan, 

serta penyelenggaraan Pemilu 

2024. Selanjutnya, realisasi belanja 

bansos lebih rendah 1,42 persen (yoy) 

terutama dipengaruhi oleh Program 

Keluarga Harapan dan Kartu Sembako 

yang melalui PT Pos (periode Juli s.d. 

November) belum disalurkan.  

 

Subsidi 

Realisasi belanja subsidi sampai 

dengan 30 November 2024 mencapai 

Rp244,14 triliun. Realisasi belanja 

subsidi energi mencapai Rp157,16 

triliun, tumbuh 16,96 persen (yoy). 

Sementara itu, realisasi subsidi 

nonenergi tercatat Rp86,98 triliun 

atau tumbuh 28,12 persen (yoy).  

Realisasi subsidi energi sampai 

dengan 30 November 2024 tercatat 

Rp157,16 triliun atau 83,11 persen dari 

pagu atau naik 16,96 persen (yoy). 

Seperti halnya pada periode-periode 

sebelumnya, subsidi energi mayoritas 

berasal dari subsidi BBM dan LPG 

dengan besaran Rp92,98 triliun atau 

82,09 persen dari pagu, dengan rincian 

subsidi BBM yang terdiri atas Solar 

Rp15,73 triliun dan Minyak Tanah Rp4,17 

triliun. Sedangkan untuk subsidi LPG 3 kg 

yakni Rp73,08 triliun atau 83,57 persen 

dari pagu. Selain itu, subsidi energi juga 

berupa subsidi listrik, Rp64,18 triliun atau 

84,64 persen dari pagu. jika  dilihat 

dari tahun ke tahun, baik subsidi BBM 

dan LPG 3 kg serta subsidi listrik tercatat 

tumbuh. Pada periode November ini, 

subsidi BBM dan LPG 3 Kg tumbuh 

18,90 persen (yoy) sedangkan subsidi 

listrik tumbuh 14,26 persen (yoy). Hal 

ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas 

masyarakat yang kian meningkat 

seiring dengan perekonomian pasca 

pandemi Covid-19 yang membaik. 

Realisasi subsidi nonenergi sampai 

dengan 30 November 2024 tercatat 

Rp86,98 triliun,  89,79 persen dari pagu 

atau naik 28,12 persen (yoy). Sejalan 

dengan tren pada kuartal sebelumnya, 

realisasi tersebut didominasi oleh 

subsidi kredit program Rp38,16 triliun 

atau 43,88 persen dari total realisasi 

subsidi nonenergi. Mayoritas realisasi 

subsidi kredit program disalurkan 

kepada subsidi bunga Kredit Usaha 

Rakyat, yaitu Rp33,75 triliun atau turun 

2,32 persen (yoy). Selanjutnya, subsidi 

pupuk menjadi kontributor terbesar 

kedua dari subsidi nonenergi dengan 

realisasi Rp35,99 triliun atau meningkat 

103,30 persen (yoy). Sampai dengan 30 

November 2024, pemerintah melalui 

PT Pupuk Indonesia telah menyalurkan 

pupuk sebanyak 6,71 juta ton, atau naik 

17,72 persen (yoy). Selain itu, realisasi 

subsidi PSO mencapai Rp4,97 triliun 

atau naik 52,31 persen (yoy), dan 

realisasi subsidi pajak mencapai Rp7,86 

triliun atau naik 5,88 persen (yoy).  

TKD  

Realisasi TKD sampai dengan 30 

November 2024 mencapai Rp795,82 

triliun, 92,80 persen dari pagu, atau 

tumbuh 8,11 persen (yoy). Secara 

umum, peningkatan realisasi TKD 

terutama ditopang oleh realisasi Dana 

Alokasi Umum (DAU) yang mencapai 

Rp417,83 triliun, lebih tinggi Rp47,06 

triliun atau 12,69 persen (yoy) sebab  

kenaikan realisasi  penyaluran DAU Block 

Grant dan kepatuhan pemerintah daerah 

(pemda) dalam memenuhi syarat salur.  

Realisasi beberapa jenis TKD lainnya 

juga naik sejalan dengan peningkatan 

kepatuhan Pemda dalam memenuhi 

syarat salur. Secara lebih rinci, jenis 

TKD tersebut yaitu:  1) Dana Bagi Hasil 

(DBH) terealisasi Rp128,44 triliun, lebih 

tinggi Rp10,26 triliun atau tumbuh 8,68 

persen (yoy); 2) DAK Fisik terealisasi 

Rp39,54 triliun, lebih tinggi Rp0,19 triliun 

atau tumbuh 0,48 persen (yoy); 3) Dana 

Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik terealisasi 

Rp118,72 triliun, lebih tinggi Rp2,42 triliun 

atau tumbuh 2,08 persen (yoy); 4) Dana 

Desa terealisasi Rp69,17 triliun, lebih 

tinggi Rp3,99 triliun atau tumbuh 6,12 

persen (yoy); 5) Insentif Fiskal terealisasi 

Rp6,05 triliun, lebih tinggi Rp0,05 triliun  

atau tumbuh 0,81 persen (yoy); dan 

6) Dana Keistimewaan DIY terealisasi 

Rp1,42 triliun, lebih tinggi Rp0,05 triliun 

atau tumbuh 3,44 persen (yoy). Realisasi 

Dana Keistimewaan DIY tersebut telah 

mencapai 100 persen  dari pagu. 

Sementara itu, Dana Otonomi 

Khusus (Otsus) dan Hibah kepada 

Daerah mencatatkan penurunan 

realisasi. Dana Otsus terealisasi 

Rp14,07 triliun, lebih rendah Rp3,18 

triliun atau kontraksi 18,42 persen (yoy). 

Sedangkan Hibah kepada Daerah 

mencatatkan realisasi Rp0,60 triliun.  

Defisit & Pembiayaan 

Keseimbangan Primer sampai 

dengan 30 November 2024 tercatat 

positif Rp47,07 triliun atau 0,21 persen 

terhadap PDB. Sementara itu, defisit 

cukup terkendali Rp401,77 triliun 

atau 1,81 persen terhadap PDB. 

Realisasi Pembiayaan Anggaran 

mencapai Rp428,81 triliun atau 

82,02 persen dari pagu terdiri atas 

Pembiayaan Utang Rp483,60 triliun 

atau 74,62 persen dari pagu dan 

Pembiayaan Investasi negatif Rp56,26 

triliun atau 31,92 persen dari pagu. 

Secara lebih rinci, Pembiayaan Utang 

berasal dari Surat Berharga Negara 

(Neto) Rp437,17 triliun dan Pinjaman 

(Neto) Rp46,44 triliun. Pinjaman (Neto) 

berasal dari Pinjaman Dalam Negeri 

(Neto) Rp6,64 triliun dan Pinjaman 

Luar Negeri (Neto) Rp39,80 triliun. 

Pembiayaan Investasi terutama 

ditujukan untuk mendukung BUMN dan 

BLU. Investasi kepada BUMN terealisasi 

negatif Rp28,16 triliun untuk mendorong 

capaian infrastruktur strategis dan 

meningkatkan daya saing BUMN. Selain 

itu Pemerintah juga merealisasikan 

Investasi kepada BLU negatif Rp22,50 

triliun. Sebagai komitmen kerja 

sama internasional, investasi kepada 

organisasi/lembaga keuangan 

internasional/badan usaha internasional 

terealisasi negatif Rp1,98 triliun. 

Pemerintah mengeluarkan pembiayaan 

investasi nonpermanen negatif Rp17,02 

triliun dan menerima pengembalian 

investasi Rp13,41 triliun.  Pemerintah 

memberikan Pinjaman Rp0,78 triliun 

dan Pembiayaan Lainnya Rp0,68 triliun. 

.



Perkembangan 

Ekonomi Makro

Aktivitas ekonomi 

masyarakat dari sisi 

konsumsi terus bergerak 

positif di tengah tekanan 

ekonomi global. Indeks 

Keyakinan Konsumen 

(IKK) tetap kuat berada 

pada level 125,9 di 

November 2024

Perkembangan ekonomi 

nasional tetap terjaga di 

pertengahan kuartal IV 

2024. Aktivitas ekonomi 

masyarakat dari sisi konsumsi terus 

bergerak positif di tengah tekanan 

ekonomi global. Indeks Keyakinan 

Konsumen (IKK) tetap kuat berada 

pada level 125,9 di November 2024 

yang mengindikasikan penguatan 

optimisme masyarakat terhadap 

perkembangan ekonomi ke depan. 

Kondisi penguatan sisi konsumsi juga 

diperlihatkan dengan tren peningkatan 

indeks penjualan riil. Aktivitas sektor 

manufaktur mulai meningkat dari 

bulan sebelumnya meskipun angka 

purchasing managers’ indeks (PMI) 

manufaktur masih di bawah level 50. 

Di sisi lain, pembangunan nasional di 

2024 mampu meningkatkan kualitas 

pembangunan manusia Indonesia. 

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 

pada 2024 mencapai level 75,02, di 

atas target sasaran pembangunan IPM 

2024 yang ditargetkan 73,99 – 74,02.

Tekanan terhadap stabilitas 

pasar keuangan nasional terkendali. 

IHSG tercatat pada level 7.157 pada 

penutupan perdagangan 17 Desember 

2024. Sementara itu, nilai tukar 

Rupiah terhadap Dolar AS dengan 

memakai  rata-rata kurs tengah 

Bank Indonesia tercatat Rp16.017 per 

USD pada 17 Desember 2024 dan rata-

rata  nilai tukar Rupiah adalah Rp15.835 

per USD. Rupiah tercatat terdepresiasi 

3,76 persen terhadap posisi awal tahun. 

Inflasi November 2024 terkendali 1,55 

persen (yoy), lebih rendah dari Oktober 

2024, 1,71 persen (yoy) didorong oleh 

perlambatan inflasi pangan yang terus 

berlanjut dan tren penguatan inflasi inti. 

Secara bulan ke bulan, inflasi mencapai 

0,30 persen (mtm). Pemerintah akan 

tetap mengendalikan harga pangan 

pokok, terutama dalam menyiapkan 

ketersediaan pasokan menjelang 

Natal dan Tahun Baru. Pemerintah terus 

berkoordinasi dengan Bank Indonesia 

di tingkat pusat dan daerah melalui 

TPIP dan TPID untuk menciptakan 

bauran kebijakan yang tepat guna 

menjaga pergerakan inflasi di dalam 

target sasaran.  Posisi cadangan devisa 

nasional Indonesia per akhir November 

2024 tercatat USD150,2 miliar, sedikit 

menurun dibandingkan oktober 2024 

yang tercatat USD151,2 miliar. Posisi 

cadangan devisa mampu mendukung 

stabiltas ekonomi makro dan sistem 

keuangan dari goncangan eksternal.

Jumlah wisatawan mancanegara 

(wisman) yang berkunjung ke Indonesia 

di Oktober 2024 tetap tinggi, mencapai 

1,19 juta kunjungan. Wisman yang 

berkunjung pada Oktober 2024 

didominasi oleh wisman yang berasal 

dari Malaysia (16,26 persen), Australia 

(12,61 persen), dan Singapura (8,90 

persen). Secara kumulatif, kunjungan 

wisman pada Januari hingga Oktober 

2024 tercatat 11,57 juta kunjungan 

atau meningkat 20,45 persen (yoy). 

Perkembangan aktivitas pariwisata 

nasional akan terus meningkat dan 

secara langsung akan berdampak 

positif terhadap perkembangan sektor 

ekonomi terkait lainnya. Sektor yang 

terkait dengan aktivitas pariwisata 

secara langsung adalah sektor makanan 

dan akomodasi, hotel, transportasi, 

serta perdagangan. Sementara itu, 

kondisi Tingkat Penghunian Kamar (TPK) 

hotel klasifikasi bintang di Indonesia 

pada Oktober 2024 mencapai 

55,67 persen, naik 2,65 poin (yoy). 

.


APBN Terus Dioptimalkan 

Peranannya Sebagai Shock 

Absorber 

Foto: Storypost - Mahardika Argha

21

Postur 

APBN

Realisasi APBN sampai 

dengan 30 November 

2024 mencatatkan 

peningkatan 

pendapatan negara 

sebesar 1,29 

persen (yoy).

Realisasi APBN sampai 

dengan 30 November 2024 

mencatatkan Pendapatan 

Negara yang mencapai 

Rp2.492,70 triliun, 88,95 persen dari 

target atau tumbuh 1,29 persen (yoy). 

Realisasi tersebut terdiri atas: 

Penerimaan Perpajakan mencapai 

Rp1.946,68 triliun, 84,28 persen dari 

target, atau tumbuh 1,66 persen 

(yoy). Capaian tersebut terdiri atas 

Penerimaan Pajak Rp1.688,93 triliun, 

84,92 persen dari target  atau tumbuh 

1,14 persen (yoy) serta Penerimaan 

Kepabeanan dan Cukai Rp257,75 

triliun, 80,30 persen dari target 

atau tumbuh 5,20 persen (yoy). 


Perkembangan Surplus/Defisit 

dan Keseimbangan Primer

Realisasi APBN

s.d. 30 November  2024

23

Penerimaan Negara Bukan 

Pajak mencapai Rp522,41 triliun, 

106,18 persen dari target atau 

terkontraksi 4,01 persen (yoy).

Penerimaan Hibah mencapai 

Rp23,61 triliun, meningkat 

signifikan dibandingkan realisasi 

pada periode yang sama 2023 

dengan capaian Rp1,82 triliun. 

Di sisi Belanja Negara, sampai 

dengan 30 November 2024 telah 

terealisasi Rp2.894,47 triliun, 87,05 

persen dari pagu atau meningkat 

15,29 persen (yoy), terdiri atas:

Belanja Pemerintah Pusat mencapai 

Rp2.098,65 triliun, 85,05 persen dari 

pagu atau meningkat 18,27 persen (yoy). 

Capaian tersebut terdiri atas realisasi 

Belanja K/L Rp1.049,72 triliun, 96,23 

persen dari pagu atau meningkat 17,92 

persen (yoy) dan realisasi Belanja non-

K/L Rp1.048,93 triliun, 76,19 persen dari 

pagu atau meningkat 18,62 persen (yoy). 

Transfer ke Daerah mencapai 

Rp795,82 triliun, 92,80 persen dari 

alokasi atau meningkat 8,11 persen (yoy). 

Berdasarkan realisasi Pendapatan 

Negara dan Belanja Negara tersebut, 

APBN tercatat defisit Rp401,77 triliun 

atau 1,81 persen terhadap PDB (per 

30 November 2023, defisit tercatat 

Rp49,57 triliun atau 0,24 persen 

terhadap PDB). Sementara itu, 

keseimbangan primer tercatat surplus 

Rp47,07 triliun (per 30 November 

2023, surplus keseimbangan primer 

mencapai Rp359,70 triliun). Di sisi 

pembiayaan anggaran, telah terealisasi 

Rp428,81 triliun (82,02 persen dari 

target), lebih tinggi dibandingkan 

realisasi pada periode yang sama 2023 

dengan capaian Rp284,26 triliun.

.

Perbaikan Kinerja Sektor 

Utama Mendorong 

Penerimaan Pajak 

Tumbuh Positif Pada 

Periode November 2024

Foto: Unsplash - Chintya Akemi

25

Penerimaan Pajak

Pertumbuhan neto 

kumulatif tercatat 

1,14 persen (yoy), 

membaik dibandingkan 

periode Oktober 2024 

yang terkontraksi 

0,42 persen (yoy).

 

Perbaikan kinerja yang mulai 

terlihat sejak Mei 2024 

akhirnya memberikan hasil 

yang menggembirakan. 

Pada akhir November 2024, 

pertumbuhan penerimaan pajak tercatat 

positif, baik secara bruto maupun 

neto. Pertumbuhan neto kumulatif 

tercatat 1,14 persen (yoy), membaik 

dibandingkan periode Oktober 

2024 yang terkontraksi 0,42 persen 

(yoy). Sementara itu, pertumbuhan 

bruto telah menunjukkan tren positif 

sejak Juli dan terus meningkat 

hingga akhir November 2024.

Secara nominal, total realisasi 

penerimaan pajak mencapai Rp1.688,93 

triliun atau 84,92 persen dari target. 

Pemulihan kinerja penerimaan pajak 

terutama didukung oleh perbaikan 

atas setoran PPh Nonmigas dan PPN. 


Perkembangan Pertumbuhan 

Penerimaan Pajak 2024

Realisasi 

Neto 

(Triliun)

Kontribusi

(%)

Capaian

(%)

Growth 

Neto 

(% yoy)

Growth 

Bruto

(% yoy)

Pajak Penghasilan 1139,78 944,66 55,93 82,88 -2,36 -0,11

- Nonmigas 1063,41 885,77 52,45 83,30 -1,96 0,43

- Migas 76,37 58,89 3,49 77,10 -8,03 -8,03

PPN & PPnBM 811,36 707,76 41,91 87,23 6,11 8,17

PBB dan Pajak Lainnya 37,73 36,52 2,16 96,79 3,23 2,65

Jumlah 1988,88 1688,93 100,00 84,92 1,14 3,64

Uraian

Target 

APBN 2024 

(Triliun)

1 Januari s.d. 30 November 2024

Realisasi Penerimaan Pajak 2024

27

Pemulihan kinerja 

kumulatif PPN dan PPnBM 

didorong oleh aktivitas 

ekonomi domestik dan 

impor yang membaik, 

terutama di sektor 

perdagangan dan industri 

minyak kelapa sawit. 

Realisasi PPh Nonmigas mencapai 

Rp885,77 triliun, atau 83,30 persen 

dari target. Realisasi ini terkontraksi 

1,96 persen (yoy), tetapi lebih baik 

dari kontraksi periode Oktober yang 

tercatat 3,12 persen (yoy). Meskipun 

secara neto masih terkontraksi, 

penerimaan bruto PPh Nonmigas telah 

tumbuh positif. Hal ini didukung oleh 

pemulihan kinerja sektor pertambangan 

dalam beberapa bulan terakhir, yang 

berkontribusi pada peningkatan 

penerimaan atas angsuran PPh Badan. 

Selain itu, kinerja penerimaan pajak 

penghasilan nonmigas lainnya turut 

menopang pertumbuhan. Beberapa 

di antaranya bahkan tercatat tumbuh 

dua digit, termasuk PPh Pasal 21, PPh 

Pasal 23, PPh OP, dan PPh Final.

Selanjutnya, PPN dan PPnBM 

kembali menunjukkan pertumbuhan 

positif, baik dari sisi penerimaan neto 

maupun bruto. Realisasi kelompok 

pajak ini mencapai Rp707,76 triliun, 

87,23 persen dari target, atau tumbuh 

6,11 persen (yoy). Pemulihan kinerja 

kumulatif PPN dan PPnBM didorong 

oleh aktivitas ekonomi domestik dan 

impor yang membaik, terutama di 

sektor perdagangan dan industri minyak 

kelapa sawit. Kondisi ini tercermin pada 

peningkatan PPN DN dan PPN Impor.

PBB dan Pajak Lainnya juga 

tumbuh positif pada periode ini, yakni 

mencapai Rp36,52 triliun, 96,79 persen 

dari target, atau tumbuh 3,23 persen 

(yoy). Perbaikan kinerja kelompok 

pajak ini dipengaruhi oleh peningkatan 

pembayaran PBB Pertambangan.

Di sisi lain, kinerja PPh Migas 

masih terkontraksi, tetapi dengan 

laju yang lebih lambat dibandingkan 

dengan periode bulan sebelumnya. 

Secara nominal, realisasi PPh Migas 

mencapai Rp58,89 triliun, 77,10 persen 

dari target, atau terkontraksi 8,03 

persen (yoy). Penurunan ini sebagian 

besar dipengaruhi oleh penurunan 

lifting minyak dan gas bumi.

Kinerja Jenis Pajak Utama

Beberapa jenis pajak utama 

tercatat tumbuh positif baik dari 

sisi penerimaan kumulatif maupun 

bulanan. Pertumbuhan positif yang 

konsisten, terutama dari PPh Pasal 

21, PPh Final, PPh OP, dan PPN Impor, 

turut mendongkrak kinerja penerimaan 

pajak. Ditambah lagi kinerja PPN 

DN yang kembali menguat pada 

November 2024. Selain itu, PPh Badan 

menunjukkan pemulihan signifikan 

(turnaround) dalam tiga bulan terakhir.

Secara lebih rinci, hingga 30 

November 2024, PPN Dalam Negeri 

yang berkontribusi 25,74 persen 

terhadap total penerimaan pajak 

mencatatkan pertumbuhan 6,95 

persen (yoy). Kinerja positif ini 

didorong oleh konsumsi domestik 

yang masih terjaga sehingga terjadi 

peningkatan pembayaran PPN Dalam 

Negeri pada berbagai sektor usaha, 

terutama sektor Perdagangan.


Penerimaan Jenis-Jenis Pajak Utama

Penerimaan Pajak Sektoral

29

Selanjutnya, PPh Badan terealisasi 

Rp289,80 triliun, terkontraksi 23,12 

persen (yoy). Meskipun demikian, 

kontraksi pada PPh Badan terus 

menunjukkan penurunan yang lebih 

moderat sejak periode Mei 2024. 

Bahkan dalam tiga bulan terakhir, 

realisasi bulanan PPh Badan mampu 

tumbuh positif secara year-on-year. 

Perbaikan kinerja ini didorong oleh 

dinamisasi pembayaran angsuran 

PPh Badan dan peningkatan hasil 

intensifikasi sebelum tahun pajak 

berjalan. Peningkatan pembayaran 

angsuran terutama berasal 

dari sektor pertambangan dan 

sektor indsutri pengolahan.

PPh Pasal 21 menyumbang 13,23 

persen terhadap total penerimaan pajak, 

dengan pertumbuhan yang tercatat 

21,98 persen (yoy). Kinerja positif PPh 

Pasal 21 yang konsisten di atas 20 

persen ditopang oleh kompensasi 

gaji atau upah karyawan/tenaga kerja 

yang masih terjaga dengan baik.

Berikutnya, realisasi PPh Final 

berkontribusi 7,34 persen terhadap 

total penerimaan pajak, dengan 

pertumbuhan yang tercatat 12,09 persen 

(yoy). Kondisi perekonomian nasional 

yang baik mendukung capaian PPh Final, 

yang terlihat dari peningkatan realisasi 

pada beberapa objek pajak. Objek 

pajak tersebut mencakup penghasilan 

dari bunga deposito dan tabungan, 

persewaan atau pengalihan tanah dan/

atau bangunan, serta jasa konstruksi.

PPh OP juga menunjukkan 

kinerja yang positif, dengan realisasi 

Rp13,38 triliun atau tumbuh 15,34 

persen (yoy). Kinerja ini didorong 

oleh kenaikan setoran atas pajak 

penghasilan tahunan dan angsuran 

yang dibayar oleh wajib pajak individu. 

Kinerja penerimaan pajak utama 

terkait dengan impor juga tumbuh 

positif secara kumulatif. Penerimaan 

PPN Impor tumbuh 6,59 persen (yoy), 

sementara PPh Pasal 22 Impor tumbuh 

Secara lebih rinci, 

hingga 30 November 

2024, PPN Dalam Negeri 

yang berkontribusi 

25,74 persen terhadap 

total penerimaan 

pajak mencatatkan 

pertumbuhan 6,95 

persen (yoy).

5,90 persen (yoy). Kedua jenis pajak ini 

memberikan kontribusi yang signifikan, 

18,59 persen terhadap total penerimaan 

pajak. Peningkatan impor dari sub 

sektor perdagangan besar mesin, 

bahan kimia, dan bahan bakar menjadi 

penopang capaian pajak impor.

Kinerja Sekor Utama

Pertumbuhan kumulatif dari 

seluruh sektor utama lebih baik 

dibandingkan dengan periode bulan 

sebelumnya. Kinerja bulanan bahkan 

lebih menggembirakan, dengan 

pertumbuhan positif yang tercatat 

mencapai dua digit. Sektor Industri 

Pengolahan dan Pertambangan 

mengalami turnaround, yang 

semakin memperkuat tren positif 

pertumbuhan di seluruh sektor utama.

Sektor Industri Pengolahan dan 

Sektor Pertambangan memang 

masih terkontraksi secara kumulatif, 

namun angkanya semakin kecil. Kedua

sektor ini mengalami pemulihan yang 

signifikan sejak triwulan ketiga.

Perbaikan kinerja penerimaan 

sektor Industri Pengolahan secara 

keseluruhan didorong oleh peningkatan 

pembayaran atas PPN Impor dan 

PPN Dalam Negeri, disertai dengan 

pertumbuhan restitusi yang melambat. 

Bila dilihat lebih jauh, kinerja subsektor 

industri sepeda motor, kendaraan 

dan industri rokok menjadi penopang 

perbaikan sektoral. Secara kumulatif 

sektor Industri Pengolahan terkontraksi 

4,27 persen (yoy), namun tumbuh 

17,79 persen (yoy) secara bulanan.

Sektor Pertambangan mengalami 

perbaikan yang didorong oleh kinerja 

positif dari subsektor pertambangan 

bijih logam. Hal ini terlihat dari 

peningkatan angsuran PPh Badan, 

seiring dengan proyeksi laba subsektor 

tersebut yang lebih tinggi dibandingkan 

tahun sebelumnya. Selain itu, upaya 

intensifikasi pajak dari tahun pajak 

sebelumnya juga berkontribusi 

terhadap pemulihan. Secara kumulatif 

Sektor Pertambangan terkontraksi 

37,27 persen (yoy), namun tumbuh 

49,63 persen (yoy) secara bulanan.

Pada periode ini, sektor yang 

mampu tumbuh dua digit secara 

kumulatif yaitu Sektor Keuangan dan 

Asuransi serta Sektor Konstruksi dan 

Real Estat. Pertumbuhan kedua sektor 

tersebut masing-masing tercatat 

12,95 persen (yoy) dan 10,55 persen 

(yoy). Sektor Keuangan & Asuransi 

tumbuh konsisten dua digit didukung 

oleh peningkatan dana pihak ketiga, 

kredit, dan rata-rata suku bunga. 

Sementara itu, sektor Konstruksi dan 

Real Estat didorong oleh performa 

positif pada subsektor konstruksi 

gedung dan subsektor real estat 

yang dimiliki sendiri atau disewa.

Selanjutnya, Sektor Perdagangan, 

Sektor Transportasi dan Pergudangan, 

serta Sektor Informasi dan Komunikasi 

tumbuh kuat baik kumulatif dan 

bulanan. Pertumbuhan kumulatif 

masing-masing tercatat 7,53 persen 

(yoy), 7,01 persen (yoy), dan 9,14 

persen (yoy). Angka pertumbuhan 

tersebut lebih tinggi dibandingkan 

dengan periode bulan sebelumnya. 


Surplus Neraca 

Perdagangan Nasional 

November 2024 Mencapai 

USD4,42 Miliar

Foto: Kemenkeu - Ardo Hadyan

33

Penerimaan 

Kepabeanan & 

Cukai

Selain itu, surplus yang 

konsisten ini menambah 

ketahanan ekonomi 

nasional, khususnya dalam 

menghadapi tantangan 

dari fluktuasi harga 

komoditas global dan 

ketidakpastian ekonomi 

di pasar internasional.

Surplus neraca perdagangan 

Indonesia pada November 

2024 berhasil mencapai 

USD4,42 miliar, menunjukkan 

kinerja positif dan keberlanjutan dalam 

mempertahankan surplus sejak Mei 

2020, yaitu selama 55 bulan berturut-

turut. Hasil ini berperan penting dalam 

menjaga cadangan devisa negara dan 

memperkuat persepsi positif global 

terhadap perekonomian Indonesia. 

Selain itu, surplus yang konsisten 

ini menambah ketahanan ekonomi 

nasional, khususnya dalam menghadapi 

tantangan dari fluktuasi harga 

komoditas global dan ketidakpastian 

ekonomi di pasar internasional.

Secara akumulatif, surplus 

perdagangan sampai dengan 

November 2024 mencapai USD28,86 

miliar. Hal ini mencerminkan stabilitas 


serta efektivitas kebijakan ekspor 

yang diterapkan, bersama dengan 

pengendalian impor yang ketat. Surplus 

berkelanjutan ini tidak hanya mendukung 

pertumbuhan ekonomi domestik tetapi 

juga memperkuat posisi Indonesia 

dalam perdagangan. Keberhasilan 

ini diharapkan dapat berkontribusi 

terhadap perekonomian berkelanjutan, 

memperkuat daya saing ekspor, 

serta memastikan perkembangan 

ekonomi yang stabil di masa depan.

Surplus neraca perdagangan 

terutama terjadi pada Nonmigas, 

sedangkan Migas masih defisit. Kinerja 

positif neraca Nonmigas didukung 

oleh komoditas SDA seperti batubara 

dan minyak goreng kelapa sawit. 

Selain itu, sektor manufaktur terutama 

logam dasar seperti besi, baja dan 

bijih tembaga juga memberikan 

kontribusi penting dalam menciptakan 

surplus tersebut. Di sisi lain, neraca 

perdagangan sektor Migas masih 

defisit, terutama disebabkan oleh 

impor bahan bakar dan minyak bumi.  

Pada November 2024, total ekspor 

mencapai USD24,01 miliar, naik 9,14 

persen (yoy), didorong oleh kinerja 

sektor Nonmigas maupun Migas. Ekspor 

Nonmigas tumbuh 9,54 persen (yoy) 

dengan kontribusi peningkatan terbesar 

dari ekspor produk baja dasar dan kakao 

sebagai dampak kenaikan harga. Ekspor 

sektor Migas tumbuh 2,73 persen (yoy), 

dipengaruhi kenaikan ekspor minyak 

bakar ke Singapura dan Malaysia.

Sementara itu, impor mencapai 

USD19,59 miliar atau tumbuh 0,01 persen 

(yoy), dipengaruhi oleh peningkatan 

kinerja sektor Nonmigas sedangkan 

sektor Migas menurun. Nonmigas 

tumbuh 5,71 persen (yoy) terutama dari 

peningkatan impor logam, komponen 

elektronik dan bagian komputer serta 

kendaraan, dan mesin industri. Kinerja 

tersebut mengindikasikan geliat 

pertumbuhan industri. Namun demikian 

impor Migas terkontraksi 26,32 persen 

(yoy) terutama oleh penurunan impor 

bensin, minyak bumi, dan solar. 

Hingga 30 November 2024, 

Penerimaan Kepabeanan dan Cukai 

mencapai Rp257,75 triliun, 80,30 

persen dari target atau tumbuh 5,20 

persen (yoy), didorong oleh semua 

jenis penerimaan yang menunjukan 

kinerja positif pada bulan ini.

Sementara itu, Penerimaan 

PDRI lainnya mencapai Rp319,88 

triliun atau naik 6,22 persen (yoy). 

Dengan demikian, Penerimaan 

Negara yang telah dikumpulkan 

dari Kepabeanan dan Cukai serta 

PDRI lainnya mencapai Rp577,63 

triliun atau naik 5,76 persen (yoy).

Dari sisi BM, kinerja penerimaan 

meningkat 4,02 persen (yoy) menjadi 

Rp47,72 triliun atau mencapai 83,17 

persen dari target. Kinerja tersebut 

dipengaruhi oleh pertumbuhan impor 

dan depresiasi rupiah terhadap USD. 

Dilihat dari komoditasnya, kenaikan 

tersebut terutama berasal dari gas, 

bahan baku plastik sebagai dampak dari 

peningkatan industri, serta importasi 

beras yang meningkat sebagai langkah 

menjaga kestabilan harga pangan. 

Penerimaan BK tercatat Rp17,30 

triliun, mencapai 98,67 persen dari 

target atau tumbuh signifikan 47,87 

persen (yoy). Peningkatan tersebut 

terutama berasal dari BK mineral dan 

produk kelapa sawit. BK mineral tumbuh 

signifikan mencapai 90,74 persen (yoy), 

dipengaruhi oleh relaksasi ekspor 

tembaga. Sedangkan penerimaan 

BK produk sawit mulai meningkat 

8,42 persen (yoy), dipengaruhi 

oleh kenaikan harga CPO pada 

Oktober dan November 2024. 

Cukai, mesin utama Penerimaan 

Kepabeanan dan Cukai dengan 

penerimaan terbesar, mencapai 

Rp192,73 triliun atau 78,32 persen 

dari target, atau tumbuh 2,83 persen 

(yoy). Kinerja tersebut didorong oleh 

kinerja cukai dari Cukai Hasil Tembakau 

(CHT), Minuman Mengandung Ethil 


Cukai, mesin 

utama Penerimaan 

Kepabeanan dan Cukai 

dengan penerimaan 

terbesar, mencapai 

Rp192,73 triliun atau 

78,32 persen dari 

target, atau tumbuh 

2,83 persen (yoy).

Alkohol (MMEA), dan Ethil Alkohol (EA). 

Penerimaan CHT tumbuh 2,42 

persen (yoy) menjadi Rp184,34 triliun 

atau tercapai 80,01 persen dari target. 

Kinerja ini dipengaruhi peningkatan 

produksi 0,1 persen (yoy), terutama 

pada jenis Sigaret Keretek Tangan 

(SKT) sedangkan Sigaret Keretek 

Mesin (SKM) menurun. SKT merupakan 

produk yang melibatkan banyak tenaga 

kerja manual, yang peningkatannya 

dapat menyerap lebih banyak 

tenaga kerja dibandingkan SKM.

Penerimaan Cukai MMEA naik 

12,65 persen (yoy) menjadi Rp8,13 

triliun, mencapai 87,08 persen dari 

target. Kenaikan tersebut terutama 

didorong oleh kebijakan kenaikan 

tarif MMEA sedangkan produksi 

masih terkendali, turun 2,70 persen 

(yoy). Hal tersebut sejalan dengan 

kebijakan peningkatan tarif sebagai 

upaya untuk mengendalikan konsumsi 

minuman beralkohol. Kebijakan 

ini diharapkan dapat mengurangi 

dampak negatif terhadap kesehatan 

masyarakat sekaligus meningkatkan 

pendapatan negara dari sektor cukai.

Sementara itu, kinerja Penerimaan 

Cukai EA naik 12,57 persen (yoy) menjadi 

Rp129,32 miliar, atau 124,01 persen dari 

target. Kinerja positif tersebut didorong 

oleh peningkatan produksi EA bayar 

12,57 persen (yoy). Nilai penerimaan EA 

tidak signifikan sebab  sebagian besar 

EA yang diproduksi, cukai tidak dipungut 

atau dibebaskan, baik untuk keperluan 

medis, industri maupun fasilitas lainnya.


Penerimaan 

Negara Bukan 

Pajak

Pendapatan dari 

layanan PNBP K/L dan 

pendapatan BLU mampu 

memberikan kontribusi 

signifikan mendorong 

capaian PNBP.

Situasi ekonomi global yang 

masih sangat dinamis 

dampak tensi geopolitik 

dan keamanan global 

yang tinggi mewarnai pergerakan 

harga dan nilai tukar. Harga komoditas 

batubara masih termoderasi sejak 

awal 2024 dan berlanjut hingga akhir 

November 2024. Pelemahan kinerja 

ekspor dan perdagangan turut 

menekan pendapatan negara. 

Realisasi PNBP hingga November 

2024 tercatat 106,18 persen dari target. 

Pendapatan dari layanan PNBP K/L dan 

pendapatan BLU mampu memberikan 

kontribusi signifikan mendorong capaian 

PNBP. Meski terjadi penurunan lifting 

minyak dan gas bumi serta pelemahan 

tajam Harga Batubara Acuan (HBA).

Pendapatan SDA mencapai 

Rp211,78 triliun, 101,98 persen dari 

target. Realisasi Pendapatan SDA 

Migas melemah dibandingkan periode 

yang sama tahun 2023. Pelemahan ini 

terutama disebabkan oleh penurunan 

lifting minyak bumi dan gas bumi, serta 

pelemahan HBA. Lifting minyak bumi 

terkontraksi 4,14 persen (yoy) dan 

lifting gas bumi mengalami terkontraksi 

1,01 persen (yoy) disebabkan tingkat 

penurunan alamiah sumur migas 

yang tinggi sejalan dengan fasilitas 

produksi migas utama yang telah 

menua (khususnya Wilayah Kerja 

pada Cepu dan Banyu Urip). Realisasi 

Pendapatan SDA Nonmigas mencapai 

Rp107,69 triliun, 110,43 persen dari 

target, terkontraksi 15,16 persen (yoy). 

Penurunan kinerja tersebut terutama 

dipengaruhi oleh kinerja penerimaan 

royalti batubara yang menurun 

dampak HBA yang termoderasi. Royalti 

batubara terkontraksi 23,45 persen 

(yoy), meski volume produksi batubara 

mengalami kenaikan 4,98 persen (yoy).

 Pendapatan sektor Minerba 

mencapai Rp98,84 triliun, 115,14 persen 

dari target. Realisasi ini berkurang 

Realisasi PNBP sampai 

dengan 30 November 2024

dibandingkan periode yang sama 

tahun 2023. Faktor penurunan 

harga batubara dan mineral di 

pasar internasional menyumbang 

pengurangan Pendapatan sektor 

Minerba. Rata-rata HBA bulan Januari 

sampai dengan November 2024 

terkontraksi 41,85 persen (yoy).

Pendapatan sektor Kehutanan 

mencapai Rp5,96 triliun, 99,25 persen 

dari target, meningkat 22,00 persen 

(yoy) antara lain disebabkan oleh 

pembayaran Dana Reboisasi (DR) & 

Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) 

yang bersumber dari pendapatan 

perkebunan Kelapa Sawit yang 

telah terbangun dalam kawasan 

hutan (Keterlanjuran Sawit) sebagai 

amanat pasal 110A UUCK serta 

peningkatan pembayaran piutang 

Penggunaan Kawasan Hutan (PKH). 

Sementara itu, realisasi Pendapatan 

sektor Kelautan dan Perikanan 

khususnya dari Perikanan mencapai 

Rp795,16 miliar, 22,72 persen dari 

target atau tumbuh 62,24 persen (yoy) 

sebagai dampak peningkatan volume 

produksi kapal perikanan dengan izin 

pusat. Realisasi Pendapatan Perikanan 

menurun signifikan pada 2023. Hal 

tersebut disebabkan oleh perubahan 

mekanisme perhitungan PNBP Pungutan 

Hasil Perikanan (PHP) dari praproduksi 

menjadi pascaproduksi (sebagaimana 

yang diatur dalam PP Nomor 85/ 

2021) belum memberikan dampak 

positif. Pada periode Januari sampai 

dengan November 2023 realisasi 

PNBP PHP Pascaproduksi hanya 

menghasilkan Rp451,35 miliar sebab  

masih banyak kapal perikanan yang 

masih memiliki Surat Ijin Penangkapan 

Ikan (SIPI) Praproduksi yang masih 

aktif sehingga belum memiliki 

kewajiban pembayaran PNBP PHP 

pascaproduksi. Sementara itu, pada 

2024 seluruh kapal perikanan telah 

memiliki SIPI pascaproduksi sehingga 

pembayaran PNBP PHP memakai  

mekanisme pascaproduksi 

melesat menjadi Rp767,63 miliar 

(meningkat hampir 2 kali lipat).

Selanjutnya, capaian Pendapatan 

sektor Panas Bumi tercatat Rp2,10 

triliun, 96,65 persen dari target atau 

tumbuh 1,18 persen (yoy). Hal ini 

disebabkan kewajiban pemerintah yang 

berkurang menjadi faktor pengurang 

Setoran Bagian Pemerintah (SBP).

Realisasi Pendapatan KND 

mencapai Rp86,38 triliun, 100,62 persen 

dari target. Perekonomian nasional 

yang pulih pada 2023 mendatangkan 

profit signifikan bagi BUMN, khususnya 

BUMN Perbankan. Kontributor utama 

capaian Pendapatan KND berasal dari 

pembayaran dividen Bank Himbara 

untuk tahun buku 2023. Pada 2024 

setoran dividen perbankan mencapai 

Rp49,59 triliun atau tumbuh 21,43 

persen dibandingkan 2023 yang 

tercatat Rp 40,84 triliun. Capaian 

tersebut menjadikan sektor perbankan 

sebagai kontributor utama setoran 

dividen BUMN kepada pemerintah. 

Capaian realisasi PNBP Lainnya 

mencapai Rp135,46 triliun, 117,66 

persen dari target atau melambat 

7,67 persen (yoy). Pendapatan minyak 

mentah (DMO) tumbuh 23,23 persen 

(yoy). Namun pertumbuhan tersebut 

belum mampu menopang kontraksi 

pendapatan penjualan hasil tambang 

(PHT) dan pendapatan PNBP K/L yang 

masing-masing terkontraksi 22,01 

persen (yoy) dan 3,13 persen (yoy).

Pendapatan PNBP K/L mencapai 

Rp101,76 triliun, 126,25 persen dari 

target atau melambat 3,13 persen 

(yoy). Kontraksi ini disebabkan oleh 

pendapatan nonlayanan yang tidak 

berulang di 2024 pada Kejaksaan, 

Kominfo, dan Kemenkes. Di sisi lain, 

PNBP beberapa K/L tumbuh signifikan 

seperti Kementerian Perhubungan 

serta Kementerian Hukum dan Hak 

Asasi Manusia. Kinerja PNBP pada 

Kementerian Perhubungan tumbuh 

22,91 persen (yoy) dampak kenaikan 

pendapatan jasa transportasi dari 

pendapatan kepelabuhan dan Track 

Access Charge (TAC). Sementara 

itu, kinerja PNBP pada Kementerian 

Hukum dan Hak Asasi Manusia tumbuh 

14,45 persen (yoy) dampak kenaikan 

pendapatan pelayanan administrasi 

Di sisi lain, PNBP 

beberapa K/L 

tumbuh signifikan 

seperti Kementerian 

Perhubungan serta 

Kementerian Hukum 

dan Hak Asasi Manusia. 

dan hukum (visa, paspor, dll) sebab  

peningkatan volume kunjungan 

wisata ke Indonesia yang didukung 

penggunaan aplikasi layanan visa 

elektronik melalui MOLINA Imigrasi).

Realisasi Pendapatan PHT 

mencapai Rp30,42 triliun, 109,81 

persen dari target atau melambat 

22,01 persen (yoy) disebabkan 

oleh moderasi HBA. Rata-rata HBA 

(utama) bulan Januari sampai dengan 

November 2024 mencapai USD121,39/

ton lebih rendah dibandingkan 

dengan periode yang sama 2023 

yang mencapai USD208,76/ton.

Realisasi Pendapatan BLU mencapai 

Rp88,78 triliun, 106,51 persen dari target 

atau tumbuh 10,84 persen (yoy). Capaian 

tersebut didominasi dari pendapatan 

Non Kelapa Sawit yang tumbuh 26,32 

persen (yoy) terutama dari pendapatan 

jasa pelayanan RS, layanan Pendidikan 

(terutama dipengaruhi adanya satker 

BLU baru sepanjang tahun 2024), dan 

pendapatan pengelolaan dana BLU 

serta jasa layanan perbankan BLU. 

Sementara itu, Pendapatan BLU Sawit 

mencapai Rp22,20 triliun atau melambat 

18,94 persen (yoy) sebab  rata-rata 

harga referensi CPO Kementerian 

Perdagangan periode Januari sampai 

dengan November 2024 terkontraksi 

0,10 persen (yoy) menjadi USD836.0/MT.

43


2024 | DESEMBER

44

Realisasi BPP 

Dimanfaatkan 

Terutama 

untuk Menjaga 

Kesejahteraan 

Masyarakat dan 

Mendorong 

Pertumbuhan 

Ekonomi yang Inklusif 

serta Pembayaran 

Kewajiban 

Pemerintah

Foto: Unsplash - Yulia Agnis

45

Belanja 

Pemerintah Pusat

Realisasi BPP tersebut 

terutama dimanfaatkan 

untuk menjaga/

meningkatkan kesejahteraan 

masyarakat melalui perlindungan 

sosial, pendidikan, kesehatan, dan 

mendorong pertumbuhan ekonomi 

yang inklusif melalui pembangunan 

infrastruktur, sarana prasarana 

pertanian, keterjangkauan energi, 

dan dukungan kepada UMKM. Selain 

itu, realisasi BPP juga dimanfaatkan 

untuk mendukung penyelenggaraan 

Pemilu 2024, pembangunan IKN, dan 

pembayaran kewajiban Pemerintah.

Belanja K/L

Realisasi Belanja K/L sampai 

dengan 30 November 2024 mencapai 

Rp1.049,72 triliun atau 96,23 persen 

dari pagu atau tumbuh 17,92 persen 

(yoy). Belanja K/L dimanfaatkan 

antara lain untuk penyaluran berbagai 

program bantuan sosial, dukungan 

penyelenggaraan Pemilu, dukungan 

penyelenggaraan Pilkada Serentak, 

penyaluran beasiswa, pembangunan 

infrastruktur, pemeliharaan BMN, 

pengadaan sarana dan prasarana 

bidang hankam, serta pembayaran 

gaji dan tunjangan ASN/TNI/Polri 

termasuk THR dan Gaji ke-13.

2024 | DESEMBER

46

Realisasi  s.d November Belanja Pemerintah 

Pusat  2024 (dalam triliun Rupiah)

Realisasi Belanja 15 Kementerian/Lembaga Dengan Pagu 

Terbesar s.d 30 November TA 2023-2024 (triliun Rupiah)

47

Belanja Pegawai terealisasi 

Rp265,29 triliun, 92,82 persen dari pagu 

atau tumbuh 12,93 persen (yoy). Realisasi 

Belanja Pegawai tersebut digunakan 

untuk pembayaran Gaji dan Tunjangan 

ASN/TNI/Polri termasuk pembayaran 

THR dan Gaji ke-13 ASN/TNI/Polri.

Belanja Barang K/L terealisasi 

Rp399,34 triliun, 98,54 persen dari 

pagu atau tumbuh 23,18 persen (yoy). 

Peningkatan realisasi tersebut antara 

lain sebab  kegiatan pelaksanaan 

dan pengawasan Pemilu 2024, dan 

pembayaran bantuan pangan (bantuan 

beras, daging ayam, dan telur). Selain 

itu, secara rinci realisasi Belanja Barang 

dimanfaatkan antara lain untuk: 

(1)  pengelolaan BMN Matra Darat/

Laut/Udara/Integratif, pengadaan/

harwat/peningkatan alutsista dan non 

alutsista, dan pelayanan kesehatan oleh 

Kementerian Pertahanan (Kemenhan); 

(2) pembayaran selisih harga biodiesel 

serta penyaluran beasiswa LPDP oleh 

Kementerian Keuangan (Kemenkeu); 

(3) preservasi dan peningkatan 

kapasitas jalan nasional, permukiman 

dan bangunan gedung, pemeliharaan 

sarpras SDA serta penanggulangan 

darurat akibat bencana, air minum yang 

layak, serta akses rumah layak huni oleh 

Kementerian Pekerjaan Umum dan 

Perumahan Rakyat (KemenPUPR); (4) 

pembayaran honorarium pengawas 

Badan Ad hoc, pemungutan dan 

penghitungan suara, pengadaan 

barang/jasa/logistik Pemilu 2024, 

oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU); 

(5) Penyaluran BOS kepada 9,4 juta 

siswa oleh Kementerian Agama; serta 

(6)  Pembayaran bantuan pangan 

(beras, daging ayam, dan telur) 

kepada 23,4 juta KPM oleh Bapanas.

Realisasi Belanja Modal mencapai 

Rp245,23 triliun, 99,09 persen dari pagu 

atau tumbuh 29,62 persen (yoy) yang 

dipengaruhi antara lain oleh peningkatan 

belanja infrastruktur KemenPUPR, dan 

pengadaan alutsista Kemenhan. Kinerja 

realisasi Belanja Modal dimanfaatkan 

antara lain untuk: (1) preservasi dan 

peningkatan kapasitas jalan nasional, 

pembangunan dan rehabilitasi 

prasarana pendidikan dasar/menengah/

tinggi, pengembangan jaringan irigasi, 

pengembangan bendungan dan 

danau, pengendalian banjir/drainase/

pengaman pantai, penyelenggaraan 

sanitasi, rusun ASN dan Hankam 

IKN, bangunan Gedung IKN, serta 

penyelenggaraan air minum (SPAM) 

oleh KemenPUPR; (2) infrastruktur 

perkeretaapian, transportasi udara, dan 

transportasi laut oleh Kemenhub; (3) 

sarana dan prasarana pendidikan tinggi  

oleh Kemendikbudristek; (4) sarana dan 

prasarana madrasah, serta pendidikan 

tinggi  oleh Kemenag; (5) modernisasi 

alutsista, non alutsista, dan sarana 

prasarana pertahanan oleh Kementerian 

Pertahanan; (6) modernisasi almatsus, 

dan sarana prasarana Polri; serta 

(7) pengadaan peralatan BIN. 

Realisasi BPP 

dimanfaatkan terutama 

untuk meningkatkan 

kesejahteraan 

masyarakat dan 

mendorong 

pertumbuhan ekonomi 

yang inklusif serta 

pembayaran kewajiban 

Pemerintah. 

2024 | DESEMBER

48

Realisasi Belanja Bantuan Sosial 

(Bansos) mencapai Rp139,87 triliun, 

91,84 persen dari pagu atau terkontraksi 

1,42 persen (yoy) yang antara lain 

dipengaruhi oleh bansos PKH dan 

Kartu Sembako yang belum tersalurkan 

melalui PT Pos. Realisasi Belanja Bansos 

antara lain dimanfaatkan untuk: (1) 

penyaluran bantuan PKH bagi 10 juta 

Keluarga Penerima Manfaat (KPM); 

(2) penyaluran bantuan program 

kartu sembako bagi 18,7 juta KPM; (3) 

penyaluran bantuan iuran bagi 96,7 juta 

peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) 

Program Jaminan Kesehatan Nasional 

(JKN); (4) penyaluran bantuan PIP bagi 

21,1 juta siswa dan bantuan KIPK bagi 1,1 

juta mahasiswa; serta (5) pelaksanaan 

tanggap darurat bencana oleh BNPB. 

Dari perspektif organisasi, realisasi 

Belanja K/L terutama disumbangkan 

oleh 15 K/L dengan pagu terbesar 

yang mewakili 84,4 persen dari total 

realisasi belanja K/L. Realisasi tersebut 

terutama didorong oleh realisasi 

pada: (1) Kementerian PUPR untuk 

pembangunan jalan, bendungan; (2) 

Kemenhan untuk perawatan/pengadaan 

alutsista; (3) Polri untuk pengadaan 

almatsus; (4) Kemendikbudristek 

untuk penyaluran PIP dan KIP Kuliah; (5) 

Kemenkes untuk penyaluran bantuan 

iuran PBI/JKN dan pengadaan alat-alat 

kesehatan; dan (6) Kemensos untuk 

penyaluran PKH dan Kartu Sembako. 

 Belanja Non-K/L

Realisasi Belanja Non-K/L sampai 

dengan 30 November 2024 mencapai 

Rp1.048,93 triliun, 76,19 persen dari 

pagu atau tumbuh 18,62 persen (yoy). 

Realisasi Belanja Non-K/L tersebut 

terutama dipengaruhi oleh penyaluran 

subsidi dan kompensasi energi serta 

pembayaran manfaat pensiun. 

Belanja Pegawai Non-K/L 

terealisasi Rp171,12 triliun, 86,15 persen 

dari pagu atau tumbuh 15,48 persen 

(yoy), antara lain digunakan untuk 

pemenuhan kewajiban pemerintah 

terhadap para pensiunan ASN/TNI/ 

Polri, termasuk pembayaran THR dan 

Gaji ke-13 pensiunan ASN/TNI/Polri.

Realisasi Belanja Subsidi mencapai 

Rp244,14 triliun, 85,37 persen dari 

pagu atau naik 20,70 persen (yoy) yang 

dipengaruhi oleh kenaikan realisasi 

Subsidi Energi dan Subsidi Nonenergi. 

Realisasi tersebut terdiri atas: (a) Subsidi 

Energi Rp157,16 triliun, mencakup 

Subsidi BBM Rp19,90 triliun, Subsidi LPG 

Tabung 3 kg Rp73,08 triliun, dan Subsidi 

Listrik Rp64,18 triliun; dan (b) Subsidi 

Nonenergi Rp86,98 triliun, mencakup 

Subsidi Pupuk Rp35,99 triliun, Subsidi 

PSO Rp4,97 triliun, Subsidi Bunga 

Kredit Program Rp38,16 triliun, dan 

Subsidi Pajak Rp7,86 triliun. Realisasi 

pembayaran Subsidi Energi tersebut 

untuk penyaluran BBM bersubsidi 

15,11 juta KL, LPG Tabung 3 kg 6,86 

juta MT, pelanggan listrik bersubsidi 

sejumlah 41,46 juta pelanggan, dan 

volume konsumsi listrik bersubsidi 

59,34 TWh. Realisasi Subsidi Nonenergi 

terutama dimanfaatkan untuk Subsidi 

Bunga KUR kepada 4,71 juta debitur, 

Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) 

perumahan untuk 165,72 ribu unit 

rumah bersubsidi, serta penyaluran 

pupuk bersubsidi 6,71 juta ton. 

Realisasi Belanja Lain-Lain mencapai 

Rp183,44 triliun, 47,27 persen dari pagu 

atau meningkat 48,83 persen (yoy). 

Realisasi tersebut terutama digunakan 

untuk pembayaran kompensasi BBM 

dan listrik yang mencapai Rp176,39 

triliun. Selain itu, Belanja Lain-Lain juga 

dimanfaatkan untuk penyelenggaraan 

Program Kartu Prakerja dengan realisasi 

Rp4,18 triliun bagi 1,42 juta peserta.

49


2024 | DESEMBER

50

Sampai dengan Akhir 

November 2024, 

TKD Telah Disalurkan 

Rp795,82 Triliun, 

92,80 persen dari 

Pagu atau Naik 8,11 

Persen (yoy)

Foto: Kemenkeu - Resha Aditya

51

Transfer ke 

Daerah 

Kenaikan realisasi DAU 

tersebut berasal dari 

peningkatan realisasi 

penyaluran DAU Block 

Grant dan juga penyaluran 

DAU Specific Grant yang 

telah selesai tahap ke III.

Sampai dengan akhir 

November 2024, TKD 

telah disalurkan Rp795,82 

triliun atau 92,80 persen 

dari pagu, lebih tinggi Rp59,72 

triliun, atau naik 8,11 persen (yoy).

DANA BAGI HASIL 

Sampai dengan 30 November 

2024, penyaluran DBH mencapai 

Rp128,44 triliun atau 89,75 persen dari 

pagu, meningkat 8,68 persen (yoy). 

Capaian tersebut terutama disebabkan 

oleh kenaikan pagu DBH SDA Minerba 

2024 yang tercatat 24,6 persen (yoy). 

2024 | DESEMBER

52

Realisasi TKD T.A. 2023 & 2024 

Per Tanggal: 30 November 2024 

dalam miliar Rupiah

DANA ALOKASI UMUM 

Realisasi penyaluran DAU pada 

akhir November 2024 mencapai 

Rp417,83 triliun atau 97,69 persen dari 

pagu, meningkat 12,69 persen (yoy). 

Kenaikan realisasi DAU tersebut berasal 

dari peningkatan realisasi penyaluran 

DAU Block Grant dan juga penyaluran 

DAU Specific Grant yang telah selesai 

tahap ke III, realisasi DAU tersebut 

akan meningkat di Desember 2024 

seiring dengan realisasi DAU Block 

Grant Desember, dan DAU Specific 

Grant khususnya untuk dukungan 

penggajian PPPK yang masih akan 

salur pada bulan Desember 2024. 

DANA TRANSFER KHUSUS  

Penyaluran Dana Alokasi Khusus 

Fisik (DAK Fisik) pada akhir November 

2024, telah terealiasasi 39,54 triliun 

atau 73,46 persen dari pagu. 

Jumlah ini naik 0,48 persen (yoy) 

sebab  perbaikan nilai kontrak dan lebih 

banyak OPD yang menyampaikan syarat 

salur dibandingkan periode yang sama 

tahun sebelumnya. Strategi percepatan 

penyaluran DAK Fisik untuk penyaluran 

s.d. batas waktu 16 Desember 2024 

pukul 17.00 WIB dengan mendorong 

pemda untuk: (i) meningkatkan 

pemahaman regulasi pengelolaan DAK 

Fisik terutama terkait pembaharuan 

tata kelola penyaluran DAK Fisik 

sebagaimana Peraturan Menteri 

Keuangan Nomor 25/2024 tentang 

Pengelolaan DAK Fisik; (ii) meningkatkan 

kualitas dan integritas SDM pengelola 

keuangan daerah termasuk APIP 

Daerah; dan (iii) penguatan koordinasi 

antarlevel pemerintahan dan 

internal pemerintah daerah agar 

pemanfaatan DAK Fisik lebih optimal. 

Sementara itu, DAK Nonfisik telah 

disalurkan Rp118,72 triliun, meningkat 

2,08 persen (yoy) atau 88,75 persen 

dari pagu. Capaian tersebut terutama 

di Januari telah dilakukan penyaluran 

Tahap I Dana BOSP yang terdiri atas 

Dana BOS, Dana BOP PAUD, dan Dana 

BOP Kesetaraan. Selain itu, terdapat 

perbaikan tata kelola penyampaian data 

53

Sampai dengan 

akhir November 

2024, realisasi Dana 

Otonomi Khusus 

telah mencapai 

Rp14,07 triliun, 

76,98 persen dari 

pagu atau turun 

18,42 persen (yoy).

BOS di daerah dan di Kemendikdasmen. 

Untuk penyaluran sampai November 

telah dilakukan sesuai ketentuan.  

Sedangkan realisasi untuk 

penyaluran Hibah kepada Daerah pada 

akhir November 2024 mencapai 601,8 

miliar atau 117,10 persen dari pagu, 

turun 65,08 persen (yoy) dibandingkan 

periode yang sama tahun lalu  (Rp 1,72 

triliun) mengingat: (a) penyaluran atas 

pekerjaan konstruksi pada Hibah MRT 

baru dilaksanakan sesuai kemajuan 

pekerjaan; (b) Hibah Rehabilitasi dan 

Rekonstruksi Pascabencana dan 

Hibah Sanitasi baru disalurkan pada 

Bulan Desember sesuai periode 

permintaan penyaluran; dan (c) terdapat 

penambahan pagu Hibah Daerah 

yang bersumber dari pengalihan 

dana Cadangan (Hibah Rehabilitasi 

dan Rekonstruksi Pascabencana) 

maupun Pinjaman LN. Namun demikian, 

pagu Hibah Daerah TA 2024 tetap 

menurun sebesar 34,96 persen 

dibandingkan TA 2023, sehingga 

secara umum berpengaruh terhadap 

perhitungan nilai realisasi TA 2024. 

Capaian realisasi penyaluran Hibah 

kepada Daerah dipengaruhi oleh 

penyaluran 6 (enam) jenis hibah kepada 

daerah yaitu Hibah Rural Empowerment 

and Agricultural Development Scalling 

up Initiative (READ-SI), Hibah Mass 

Rapid Transit (MRT) Project, Hibah The 

Development of Integrated Farming 

System at Upland Areas Project 

(UPLAND), Hibah Air Minum Berbasis 

Kinerja Bantuan Pemerintah Australia, 

Hibah Instalasi Pengolahan Air Limbah 

untuk Kota Palembang dan Hibah Bio 

Carbon Fund Initiative for Sustainable 

Forest Landscape (Bio CF ISFL). 

DANA OTONOMI KHUSUS DAN DANA 

KEISTIMEWAAN D.I. YOGYAKARTA  

Sampai dengan akhir November 

2024, realisasi Dana Otonomi Khusus 

telah mencapai Rp14,07 triliun, 76,98 

persen dari pagu atau turun 18,42 

persen (yoy). Penurunan  tersebut 

disebabkan sebab  kepatuhan pemda 

dalam penyampaian dokumen syarat 

salur tahap II dan Tahap III lebih lambat, 

terutama dari pemda di wilayah papua. 

Dalam rangka mempercepat 

pemenuhan dokumen syarat salur 

tahap II dan tahap III telah dilakukan 

pendampingan,  bimbingan teknis 

dan asistensi kepada Pemda 

terkait pemenuhan dokumen syarat 

salur Dana Otonomi Khusus.  

Penyaluran Dana Otonomi Khusus 

tahap I tahun 2024 (30 persen pagu 

alokasi masing-masing daerah 

penerima)  dilakukan setelah pemda 

menyampaikan dokumen syarat 

salur berupa: 1) laporan tahunan 

pelaksanaan pengelolaan penerimaan 

dalam rangka Otonomi Khusus 2023 

dan 2) hasil validasi atas integrasi 

RAP dengan APBD 2024, diterima 

secara lengkap dan benar paling 

lambat pada akhir April 2024. 

Penyaluran Dana Otonomi 

Khusus tahap II 2024 (45 persen pagu 

alokasi) dilakukan setelah pemda 

menyampaikan dokumen syarat salur 

2024 | DESEMBER

54

berupa : 1) laporan kinerja realisasi 

anggaran tahap I paling rendah 50,0 

persen dari total dana yang telah 

disalurkan; 2) laporan kinerja capaian 

keluaran tahap I paling rendah 15,0 

persen dari total rencana keluaran;  

dan 3) laporan kinerja realisasi 

anggaran dan capaian keluaran atas 

penggunaan SiLPA Dana Otonomi 

Khusus tahun anggaran sebelumnya, 

diterima secara lengkap dan benar  

paling lambat akhir Juni 2024 

Penyaluran Dana Otonomi 

Khusus tahap III 2024 (25 persen pagu 

alokasi) dilakukan setelah pemda 

menyampaikan dokumen syarat salur 

berupa : 1) laporan kinerja realisasi 

anggaran sampai dengan tahap II 

yang menunjukkan paling rendah 

75,0 persen dari total dana yang telah 

disalurkan; 2) laporan kinerja capaian 

keluaran sampai dengan tahap II paling 

rendah 50,0 persen dari total rencana 

keluaran;  dan 3) laporan kinerja realisasi 

anggaran dan capaian keluaran atas 

penggunaan SiLPA Dana Otonomi 

Khusus tahun anggaran sebelumnya, 

diterima secara lengkap dan benar  

paling lambat akhir November 2024. 

Dalam hal Menteri Keuangan 

c.q. Direktur Jenderal Perimbangan 

Keuangan belum menerima dokumen 

syarat salur Dana Otonomi Khusus dan 

DTI  secara lengkap dan benar sampai 

dengan bulan November, penyaluran 

sisa pagu alokasi otsus Papua dan 

otsus Aceh yang belum disalurkan 

dilakukan paling lama tujuh hari kerja 

sebelum akhir tahun anggaran berjalan. 

Sementara itu, sampai dengan akhir 

November 2024, Dana Keistimewaan 

TA 2024 Tahap II telah disalurkan 

Rp1,42 triliun (100 persen dari pagu) 

atau tetap dengan nilai salur Tahap II 

tahun lalu. Sesuai amanat PMK Nomor 

163/2023 tentang Pengelolaan Dana 

Keistimewaan DIY, penyaluran Dana 

Keistimewaan telah disalurkan Tahap 

I Rp213 miliar, sehin